Napak Tilas Bung Karno: Rumah Inggit Garnasih (Bandung)

Di Bandung, ada beberapa tempat yang dikenal pernah disinggahi oleh Bung Karno. Salah satunya adalah rumah yang berada di Jalan Inggit Garnasih No. 174 (dahulu Jalan Ciateul No. 8) ini. Sebuah rumah yang pernah ditinggali oleh Soekarno bersama istri keduanya yang asli Bandung, Inggit Garnasih, sejak tahun 1926 hingga pertengahan tahun 1934. Rumah ini nyaris sepi pengunjung. Walaupun ada penjaganya, tapi pagar dan pintunya tertutup. Ga heran kalo sekilas orang akan mengira rumah ini tutup dan tidak berpenjaga.

DSCF0288 (1280x854)

Garnasih lahir di Desa Kamasan, Banjaran, Bandung pada tanggal 17 Februari 1888 dari pasangan suami istri Adjipan dan Ibu Amsi. Garnasih tumbuh menjadi seorang perempuan cantik yang sering menjadi perhatian banyak orang. Katanya, “mendapat senyuman dari Garnasih bagaikan mendapat uang seringgit”, sebutan yang menyebabkan ia lama kelamaan dipanggil Inggit Garnasih. Pada usia 12 tahun, ia dijodohkan dengan pegawai Karesidenan Priangan bernama Nata Atamdja namun pernikahan tanpa ikatan cinta tersebut tidak berlangsung lama. Pada tahun 1916, Inggit menikahi cinta masa mudanya, H. Sanoesi, seorang saudagar kaya yang juga seorang aktivis Sarekat Islam pimpinan H.O.S Tjokroaminoto. Pada tahun 1921, Tjokroaminoto menitipkan Soekarno yang merupakan menantunya pada Sanoesi. Sanoesi dan Inggit memberikan kamar depan rumah mereka untuk ditinggali oleh Soekarno bersama istrinya, Oetari.

DSCF0277 (853x1280)

Selama berada di Bandung, Soekarno sering berdiskusi dengan Inggit. Mungkin hal ini lama kelamaan membangkitkan perasaan cintanya pada Inggit. Setelah menceraikan Oetari, ia melamar Inggit pada H. Sanoesi. Sanoesi lalu menceraikan Inggit dan setelah masa iddahnya selesai, Soekarno menikahi Inggit pada 24 Maret 1923. Dalam surat nikah ditulis Soekarno berusia 24 tahun, lebih tua dua tahun dari usia aslinya, sementara Inggit ditulis menjadi 23 tahun walaupun aslinya berusia 35 tahun. Selama pernikahannya, Inggit mendampingi Soekarno dalam menyelesaikan sekolahnya di Technische Hoogeschool (THS), saat berpidato, terkadang bahkan menjadi penerjemah bahasa Sunda saat Soekarno memberi kursus politik pada masyarakat Sunda. Karena tidak dikarunia anak, Inggit dan Soekarno mengadopsi seorang anak dari kakak perempuan Inggit yang bernama Murtasih. Karena sering sakit dan rewel, anak yang awalnya bernama Arawati ini lalu diganti menjadi Ratna Djuami.

DSCF0278 (1280x853)

Kehidupan Inggit diuji ketika pada bulan Desember 1929, Soekarno dijebloskan ke Penjara Banceuy akibat aktivitas politiknya di Partai Nasional Indonesia. Inggit mesti berjuang menghidupi dirinya sendiri, Omi (nama panggilan anak angkatnya), Soekarno dan beberapa rekannya yang turut dipenjara, dengan cara menjadi agen sabun cuci, meracik tembakau yang diberi merk “Ratna Djuami”, menjadi agen parang dan cangkul, membuat baju dan pakaian dalam wanita, serta membuat jamu yang diberik merk “Kansai dan Ningrum”. Ilmu membuat jamu ini diperolehnya dari kedua orang tua, gurunya selama di Cirebon, dan juga dari kerabat Soekarno di Jawa Timur. Walau sempat dibebaskan pada bulan Desember 1931, pada bulan Agustus 1933 Soekarno kembali ditangkap akibat tulisannya yang berjudul “Mentjapai Indonesia Merdeka”. Kali ini, pemerintah kolonial mengasingkannya hingga ke Ende di Flores. Inggit, Omi, Ibu Amsi, serta kedua pembantunya Muhasan dan Karmini turut serta. Di Ende, Soekarno dan Inggit mengadopsi seorang anak bernama Kartika. Di Ende pula, Ibu Amsi meninggal dunia.

DSCF0287 (1280x853)

Setelah 5 tahun di Ende, Soekarno diasingkan ke Bengkulu. Di Bengkulu, mereka bertemu Fatma, alias Fatmawati, yang merupakan anak dari Hassan Din, Ketua Muhammadiyah Bengkulu. Fatma dan Omi lalu bersekolah bersama. Inggit serta Soekarno bahkan memperlakukannya seperti anak mereka sendiri. Setelah kembali ke Jawa, saat itu penjajahan sudah berganti dari Belanda ke “saudara muda”, Jepang, Inggit dan Soekarno tinggal di Jalan Pegangsaan No. 56 Jakarta. Soekarno semakin mengukuhkan keputusannya untuk menikahi Fatma dan memiliki keturunan. Inggit yang pantang dimadu lalu meminta cerai dengan syarat Soekarno tetap memberikan nafkah dan membangunkan sebuah rumah. Pada tahun 1943, Inggit lalu kembali ke Bandung dan untuk sementara tinggal di rumah Haji Anda di Jalan Lengkong Besar. Pada

DSCF0272 (1280x853)

Pada saat terjadi Agresi Militer Belanda I dan II (1946-1949), Inggit bersama anak cucunya mengungsi ke Banjaran, lalu ke sebuah desa di Leles, Garut, hingga akhir 1949. Atas prakarsa Asmara Hadi, menantunya dengan dibantu rekan-rekan seperjuangannya, terkumpullah sejumlah dana untuk membeli sebidang tanah dan membangun sebuah rumah. Di sinilah sejarah berulang karena ternyata tanpa disengaja, tanah yang dibeli untuk dibangunkan sebuah rumah ternyata tanah yang dulu berdiri sebuah rumah panggung tempat Inggit dan Soekarno pernah tinggal. Pada tahun 1951, rumah mungil dengan gaya Belanda itu selesai dan ditinggali oleh Inggit hingga akhir hayatnya. Pada tanggal 13 April 1984, Inggit Garnasih meninggal pada usia 98 tahun akibat faktor usia serta penyakit bronkhitis yang telah lama dideritanya. Beliau lalu dimakamkan di TPU Porib, Caringin, Bandung.

Sejak tahun 2014, pengelolaan Rumah Bersejarah Inggit Garnasih ini berada di bawah pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga. Rumah ini sebenarnya bisa dikatakan kosong melompong dan hampir tidak ada yang bisa dilihat. Pada dinding-dinding ruangannya yang berjumlah 6 buah dipasang panel-panel yang berisi pemaparan kisah hidup Inggit serta beberapa bingkai foto. Satu-satunya benda peninggalan Ibu Inggit, yang entah asli atau tidak, adalah sebuah batu pipisan yang pernah digunakan untuk membuat jamu. Sayangnya, benda-benda peninggalan Ibu Inggit lainnya masih ada dalam penguasaan keturunannya. Menurut saya, sebaiknya pemerintah membeli benda-benda tersebut untuk dirawat dan dipamerkan di sini.

 

Rumah Bersejarah Inggit Garnasih
Jalan Inggit Garnasih No. 174 Bandung
Click for Google Maps

rumah-inggit-garnasih.jpg.jpg

Iklan

2 pemikiran pada “Napak Tilas Bung Karno: Rumah Inggit Garnasih (Bandung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s