Momotoran di Kota Semarang (Bagian 2 dari 2)

Baca bagian sebelumnya di Momotoran di Kota Semarang (Bagian 1 dari 2)

 

Tugu Muda (Google Maps)

Tugu Muda adalah sebuah monumen yang dibuat untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang. Tugu Muda ini menggambarkan tentang semangat berjuang dan patriotisme warga semarang, khususnya para pemuda yang gigih, rela berkorban dengan semangat yang tinggi mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

DSCF0912 (1024x683)

Tugu Muda berbentuk seperti lilin yang mengandung makna semangat juang para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan RI tidak akan pernah padam. Di sebelah utara monumen tampak Gedung Pandanaran dan Lawang Sewu yang merupakan destinasi wisata terkenal di Semarang.

 

Museum Perjuangan Mandala Bhakti (Google Maps)

Walau kata sebuah laman yang saya baca museum ini buka hari Selasa hingga Jumat, sayangnya pas saya dateng aja pintu depannya tertutup dan terkunci. Saya sampe mesti masuk dari pintu yang ada tepat di belakang gedung.

Museum yang berada di selatan bundaran Tugu Muda ini menyimpan bukti perjuangan TNI merebut kemerdekaan dari tangan penjajah serta peran serta TNI dalam misi perdamaian dunia. Koleksinya meliputi dokumentasi foto, benda-benda bersejarah, senjata dan amunisi, serta kostum tentara yang ditempatkan di beberapa ruangan.

 

Lawang Sewu (Google Maps)

Satu-satunya kekurangan Lawang Sewu sebagai tempat wisata yang paling populer di Semarang adalah ga adanya lahan parkir yang memadai. Area di sekitarnya udah penuh dengan gedung-gedung. Tapi ya untungnya saya ke sini naik motor, saya parkir di jalan di pinggir kali yang ada di sebelah Lawang Sewu.

DSCF0961 (1024x683)

Lawang Sewu merupakan sebuah komplek yang terdiri dari empat bangunan utama milik PT Kereta Api Indonesia yang merupakan warisan dari kantor Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatscappij (NIS), sebuah perusahaan kereta api swasta yang membangun banyak jalur kereta api di Hindia Belanda. Masyarakat Semarang menyebutnya Lawang Sewu (pintu seribu) mengingat banyaknya pintu yang dimiliki oleh gedung-gedung di sini.

Lawang Sewu dibuka untuk setiap hari untuk umum dari jam 7 pagi hingga jam 9 malem. Tiketnya 10 ribu rupiah untuk pengunjung dewasa dan 5 ribu untuk pelajar dan anak-anak. Buat yang pengen ngerasain seremnya Lawang Sewu, mungkin bisa cobain aja dateng jam 7an.

DSCF0950 (1024x685)

Sekarang, Lawang Sewu dijadikan tempat untuk pameran serta museum. Di gedung C pengunjung dapat melihat dokumentasi proses pemugaran museum termasuk berbagai ornamen gedung yang asli. Beberapa ruangan di Gedung A dan B dijadikan ruang pameran yang menyajikan informasi sejarah pembangunan rel kereta api di Jawa, Sumatera, bahkan sebagian Kalimantan dan Sulawesi.

 

Museum Jamu Nyonya Meneer (Google Maps)

Ini salah satu museum ga mainstream yang saya kunjungi di Semarang. Udahnya ga mainstream, lokasinya pun nun jauh di timur laut Semarang, 7 kilometeran dari Tugu Muda. Museum berada di lingkungan pabrik jamu Nyonya Meneer di Muktiharjo dan pengunjungnya pun ga banyak. Hari itu aja malah baru saya yang dateng. Padahal udah hampir sore hari.

Walaupun ada pemandunya yang ga saya kasih tip gara-gara ga nyiapin duit “kecil”, museum ini sendiri ga memungut biaya ke  pengunjungnya. Museumnya sendiri sangat sederhana, hanya berupa sebuah aula kecil berbentuk persegi panjang berisi foto-foto, peninggalan Nyonya Meneer, dan jamu-jamu yang diproduksi. Nyaris ga ada panel informasi karena seluruh informasinya disediakan oleh pemandu.

 

Vihara Buddhagaya Watugong (Google Maps)

Dari Museum Jamu Nyonya Meneer saya berangkat ke Vihara Buddhagaya Watugong yang jauuuuh di selatan Semarang, sekitar 45 menitan lah perjalanannya. Lumayan juga capek, naik motor sih soalnya.

Pagoda Avalokitesvara berlantai tujuh setinggi 45 meter yang ada di vihara ini didaulat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pagoda tertinggi di Indonesia. Hmm, saya jadi inget pagoda tinggi lainnya yang pernah saya kunjungi di Pulau Kemaro Palembang. Itu juga kan cukup tinggi. Sayang saya ga berhasil memperoleh info mengenai tingginya. Di dalem komplek vihara terdapat monumen Watu Gong (Batu Gong) yaitu sebuah batu berbentuk gong yang menjadi asal muasal nama vihara, Pagoda Avalokitesvara, Patung Dewi Kwan Im, Patung Buddha Tidur, dan Patung Buddha yang berada di bawah Pohon Bodhi.

 

Nasi Goreng Babat

Karena udah kecapean jalan-jalan seharian, malemnya saya batal kulineran ke Nasi Kucing Pak Gik. Lagian agak jauh sih dari tempat nginep saya di asrama haji, sekitar 7 kilometer. Ya udah, akhirnya nanya aja sama resepsionis hotel, tempat makan apa deket situ yang terkenal atau yang enak. Dan nasi goreng babat ini direkomendasiin ama dia. Lagian, nasi goreng babat kayaknya merupakan salah satu kuliner khas Semarang sehingga pantas buat dicoba. Saya terus pergi ke sana bareng Ocim, temen kantor saya yang ikut ke nikahan Irawan.

DSCF1014 (1024x684)

Walau tempatnya sederhana, berupa gubuk pinggir jalan dengan spanduk bertuliskan “Putra Solo”, tapi yang beli lumayan banyak juga. Dan pas dicobain, nasi goreng babatnya emang enak bangeeeet. Babatnya banyak dan empuk-empuk, toppingnya dikasih telur dadar  yang udah dicincang-cincang, irisan kol dan timun. Deuuuh, padahal tempatnya bukan yang terkenal apa gimana-gimana tapi udah enak gini. Ga nyesel deh saya ke sini.

 

Lekker Paimo (Google Maps)

Keesokan harinya, setelah dateng ke acara akad nikah Irawan baru setelahnya saya nerusin jalan-jalan lagi. Karena sebagian besar objek wisata di Semarang udah dikunjungin kemaren, praktis hari ini rencananya saya cuma mau kulineran ama belanja oleh-oleh.

Walaupun saya udah tau lokasinya ada di depan SMA Kolese Loyola di Jalan Karang Anyar, tapi tetep aja hampir kelewatan gara-gara ga ada papan namanya. Walau cuma kaki lima, yang jajan ke sini banyak. Udahnya yang dateng banyak, kadang-kadang belinya juga banyak, bahkan sampe bungkus. Padahal orang yang masaknya cuma ada dua.

Hal yang unik dari Lekker Paimo adalah cara memasaknya menggunakan wajan datar kayak teflon yang bisa diputer. Adonan tepung dimasukkan ke wajan lalu di atasnya baru dikasih topping sesuai pesenan pembeli. Saya nyobain beli satu lekker manis rasa coklat keju dan satu lekker asin rasa telor sosis mozzarella. Rasanya emang maknyuuusss. Lekkernya lembut. Harga? Sesuai lah. Tapi ngomong-ngomong, kayaknya saya salah beli lekker asinnya nih, soalnya pengunjung kebanyakannya beli yang ada tunanya.

 

Bakmi Jawa Pak Gareng (Google Maps)

Dari Lekker Paimo, saya ke Bakmi Jawa Pak Gareng di Jalan Wotgandul Dalam yang jaraknya cuma 2 kilometeran. Jalannya agak kecil, buat lewat dua mobil aja rada susah. Untungnya saya kan pake motor, dan siang-siang begini kebetulan bakminya juga baru buka, jadinya masih sepi. Bahkan saya kayaknya pembeli pertama mereka deh di hari Sabtu itu.

Daaaan, ga nyesel deh saya milih tempat ini buat dicobain bakminya. Guriiiiiihhh. Duh, malah kayaknya ini bakmi jawa paling enak yang pernah saya makan deh. Yang pernah saya cobain di Jakarta, di Bandung, di Jogja, semua kalaaaahhh. Udah gitu, kita juga bisa nambahin sate-satean. Mau dibakar? Atau mau langsung dimasak sama pesenan? Bebasss… Saya ngambil dua sate kulit campur daging ayam, satu dibakar, satu dimasak sama bakmi rebusnya. Seporsi bakmi hanya dihargai 14 ribu saja, satenya 5 ribu per tusuk. Oiya, selain bakmi goreng, rebus, atau godhog, kamu bisa juga pesen nasi atau bihun. Bahkan ada nasi godhog juga. Penasaran ga sih itu kayak apa?

 

Museum Ranggawarsita (Google Maps)

Museum Ranggawarsita, diambil dari nama pujangga Jawa fenomenal yang berasal dari Keraton Surakarta, buka dari Senin sampe Kamis jam 8 sampe jam setengah 4 sore, hari Jumat cuma sampe jam 11 doang, weekend dan hari libur sampe jam 2 siang. Tiketnya murah, 4 ribu untuk dewasa dan 2 ribu saja buat anak-anak. Nyaris kayak sumbangan sukarela. Beda banget sama tiket masuk museum di luar negeri yang bisa sampe puluhan bahkan ratusan ribu rupiah.

Sayangnya (atau bagus sih sebenernya), sebagian ruangan museum lagi direnovasi, entah koleksi museum apa yang jadinya ga terpamerkan. Bangunan yang udah tua, suasana yang sepi, penerangan yang agak minim, plus koleksi museum yang kadang bikin bulu kuduk berdiri menambah suasana serem di sini. Lah, ini kenapa jadi kayak review acara Dunia Lain sih. Yah, pokoknya gitu deh. Koleksi museum meliputi peninggalan prasejarah, budaya, kesenian dan hasil kerajinan, keramik, wayang, batik, sejarah perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, stempel, uang, perangko, dan lain-lain.

 

Belanja Oleh-Oleh di Bandeng Juwana – Elrina (Google Maps)

Abis dari museum, saya ngejemput Mas Ary, leader saya di kantor, di Stasiun Tawang. Ceritanya dia mau menghadiri resepsi pernikahan Irawan yaaaang kebetulan diadainnya di aula Museum Ranggawarsito tadi. Abis itu kita bareng-bareng belanja oleh-oleh di daerah Pandanaran yang terkenal sebagai tempat buat beli oleh-oleh khas Semarang, bandeng presto.

DSCF1134 (1024x683)

Bandeng Presto yang paling terkenal dijual ama Bandeng Juwana – Elrina, tempatnya gede dan dipenuhi pengunjung. Bandeng yang mereka jual macem-macem, ada bandeng dalam sangkar (bandengnya dibalut telur), bandeng otak-otak, bandeng duri lunak, bandeng vacuum, bandeng pepes, dan lain-lain. Ketahanannya pun bermacam-macam, dari yang cuma 2 hari sampe bandeng vacuum yang bisa awet sampe 3 bulan. Selain bandeng, mereka juga udah ngejual makanan ringan kayak pie susu, almond crispy cheese, enting-enting, tahu bakso, lumpia, bakpia, dan wingko.

 

TAMAT

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s