Momotoran di Kota Semarang (Bagian 1 dari 2)

Kali ini saya jalan-jalan di Semarang karena sekalian menghadiri resepsi pernikahan temen sekantor saya, Irawan Dwi Utomo namanya. Sejak H-30 saya udah mesen tiket kereta api ekonomi dari Pasar Senen ke Semarang Poncol secara online di Tiket.com. Saya pesen yang berangkatnya kamis malem karena mau jalan-jalan dari hari Jumat. Walaupun masih sebulan lagi, tiket yang berangkatnya Jumat malem udah abis, biasanya karena diborong oleh para pekerja asal Semarang yang bolak-balik Jakarta pas weekend. Tiketnya sendiri murah, pergi pulang cuma dua ratus ribu doang. H-7 saya baru mulai merencanakan itinerary. Googling-googling dan juga ngeliat Instagram Explore Semarang dan Wisata Semarang buat nyari inspirasi lokasi wisata dan kuliner yang kekinian dan ga mainstream. Untuk mempermudah mobilitas, H-2 saya nelepon Alif Rental Motor buat ngebooking motor selama dua hari. Biayanya cukup 70 ribu rupiah saja per 24 jam dengan menyimpan jaminan dua buah kartu identitas. Penginapan? Tadinya saya mau nginep di Imam Bonjol Hostel, deket ama Stasiun Semarang Poncol dan murah banget pula, cuma 100 sampe 200 ribuan semalem. Tapi ga jadi, karena ternyata temen saya nyediain penginapan buat temen-temen SBC yang pada dateng dari Jakarta.

Oke, cukup pendahuluannya, langsung aja ya baca review perjalanan saya kali ini di Semarang!

 

Stasiun Semarang Poncol (Google Maps)

Semarang punya dua buah stasiun kereta api, Stasiun Semarang Tawang lebih banyak digunakan untuk pemberhentian kereta kelas bisnis dan eksekutif, sementara Stasiun Semarang Poncol buat kereta kelas ekonomi dan komuter. Bangunan utama Stasiun Poncol merupakan hasil karya arsitek berkebangsaan Belanda, Henri MacLaine Pont, arsitek yang terkenal melalui gedung Aula Barat dan Aula Timur ITB yang dirancangnya.

DSCF1153 (1024x684)

Saya? Saya sih udah pasti turun ke Semarang Poncol. Ini pertama kalinya saya naik kereta ekonomi jarak jauh lagi setelah terakhir kali waktu ke Jogja di tahun 2012 kereta ekonominya masih amburadul. Ga ada AC, pedagang ga resmi masih berseliweran, plus gangnya yang penuh sama orang-orang dengan tiket berdiri yang akhirnya pada duduk di sana. Pernah suatu kali saya mau pipis aja susah karena mesti ngelewatin orang-orang ini. Eh pas nyampe toilet, toiletnya pun ditempatin penumpang. Ada tiga penumpang yang numpang duduk di toilet, dan mereka bukan boker atau pipis lho ya, mereka cuma duduk doang. Masya Allah! Alhasil saya tahan pipisnya sampe Jogja.

 

Soto Ayam Bokoran (Google Maps)

Soto Ayam Bokoran ini bener-bener kulineran yang ga direncanain sebelumnya. Saya udah sempet nyusun itinerary buat tempat wisatanya, tapi kalo buat kulinerannya masih belom fix. Akhirnya saya googling “sarapan semarang” dan tempat ini terpilih sebagai pemenang karena lokasinya di Jalan Plampitan No. 55 di Pecinan masih deket ke Poncol dan karena dia soto, pas banget buat sarapan pagi-pagi.

Tadinya sempet khawatir sotonya ga halal karena jualannya di daerah Pecinan. Tapi pas saya intip, ternyata yang makan pun ada yang berjilbab. Yang jualan pun ternyata ada yang berjilbab. Ya udah deh, amaaan.

Soto dan nasi disajikan dengan mangkok bulet berukuran kecil sehingga porsinya ga terlalu banyak, pas lah buat sarapan. Harganya juga cukup lah, 15 ribu saja. Biar makin maknyus saya ngambil tempe gorengnya yang gede dan satu sate kulit dari aneka cemilan yang tersedia. Harganya dua ribuan. Sotonya bercita rasa manis, khas kuliner Jawa banget. Selain soto, kamu bisa nyobain juga onde-onde dan pisang goreng yang ada di meja.

 

Pecinan Semarang

Karena udah tanggung saya ada di daerah Pecinan, sekalian aja saya ngambil foto beberapa kelenteng yang ada di jalur saya menuju Masjid Agung Jawa Tengah. Walau kelentengnya sama-sama didominasi oleh warna merah namun dewa utama yang ada di tiap kelenteng kerapkali berbeda.

 

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) (Google Maps)

Karena saya pengen foto masjidnya tanpa keganggu oleh banyak orang, saya sengaja dateng ke sini pagi-pagi. Ga ada tiket masuk masjid (sejak kapan masuk masjid bayar?), palingan cuma mesti bayar tiket parkir.

DSCF0810 (2048x679)

Sayang, di usianya yang nyaris 10 tahun ini, sebagian infrastruktur masjid nampak rusak, semisal lantai-lantainya. Dan entahlah, apakah payungnya yang terkenal karena meniru payung-payung raksasa di Masjid Nabawi Madinah itu masih berfungsi atau ngga. Di dalem masjid, ada mushaf Alquran raksasa berukuran 145 x 95 cm hasil karya Drs. Hayat dari Universitas Sains Alquran di Wonosobo dan Bedug Ijo Mangunsari yang panjangnya mencapai 3.1 meter dengan garis tengah 2 meter.

Dari masjid, saya naik ke Al Husna Tower yang tingginya mencapai 19 lantai dengan membeli tiket yang harganya 7 ribu. Dari lantai teratasnya kamu bisa menikmati pemandangan masjid yang menghadap ke kota Semarang. Di situ ada teropong pandang yang bisa digunakan dengan membeli koin khusus seharga 1000 rupiah pada petugas di sana.

DSCF0838 (1024x683)

Puas ngeliat pemandangan kota Semarang, saya pergi ke Museum Perkembangan Islam yang ada di lantai 2 dan 3. Koleksinya meliputi Alquran, wayang golek menak, wayang sadat, gamelan, ornamen masjid, keramik, artifak kapal dagang, mimbar Masjid Terboyo, dan miniatur menara Masjid Kudus. Al Husna Tower sendiri buka dari jam 8 pagi hingga jam 3 sore.

 

Kelenteng Sam Poo Kong (Google Maps)

Sebelum shalat Jumat, saya nyempetin ke Kelenteng Sam Poo Kong. Mungkin karena hari Jumat, kelenteng cukup sepi dari pengunjung. Parkirannya yang luas hanya menampung beberapa mobil dan motor aja. Tiket masuknya hanya 5 ribu rupiah saja. Di sini kamu juga bisa difoto dengan berlatarkan bangunan kelenteng dengan menggunakan kostum khas Cina cukup dengan membayar 90 ribu rupiah saja.

Konon, kelenteng ini diyakini sebagai bekas tempat peristirahatan Laksama Cheng Ho sewaktu mendarat di Semarang. Bangunan inti dari kelenteng adalah sebuah goa batu yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan Laksamana Cheng Ho beserta anak buahnya saat mengunjungi Pulau Jawa di tahun 1400an. Goa aslinya telah tertutup longsor pada tahun 1700an, namun kemudian dibangun kembali oleh penduduk setempat sebagai bentuk penghormatan kepada Cheng Ho.

Hampir keseluruhan bangunan bernuansa merah khas bangunan China. Sekarang tempat ini dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Walaupun Laksamana Cheng Ho beragama muslim namun oleh sebagian warga keturunan Cina ia dianggap sebagai dewa. Hal ini lumrah dalam keyakinan Kong Hu Chu dan Tao yang menganggap bahwa orang yang sudah meninggal dapat memberi pertolongan pada mereka. Agar tidak mengganggu, masyarakat yang datang dengan tujuan wisata hanya dapat melihat bangunan kuil dari balik pagar.

 

Kota Lama Semarang

Kawasan Kota Lama Semarang merupakan pusat bisnis dan perdagangan pada masa penjajahan Belanda. Kawasan yang kerap disebut Outstadt (out : tua, stadt : kota) ditandai oleh bangunan-bangunan kuno yang masih kokoh berdiri hingga kini. Karakter bangunan yang khas dengan ornamen-ornamen bergaya Eropa membuatnya sangat berbeda dari sisi kota Semarang yang lain.

DSCF0877 (1024x557)

Stasiun Tawang  (Google Maps) yang merupakan stasiun induk di Semarang ini adalah stasiun kereta api besar tertua di Indonesia. Stasiun rancangan arsitek J.P de Bordes ini selesai dibangun pada bulan Mei 1914.

DSCF0882 (1024x311)

Di depan Stasiun Tawang terdapat Polder Tawang, yaitu sebuah kolam yang digunakan untuk menampung luapan air rob (air pasang laut) di kawasan Kota Lama Semarang. Saat hal ini terjadi, terkadang Stasiun Tawang turut tergenang air sehingga kegiatan naik turun penumpang kereta dialihkan ke Stasiun Poncol.

DSCF0978 (1024x683)

Di sebelah barat daya Polder Tawang terdapat produsen rokok jadul yang masih beroperasi hingga sekarang, namanya Pabrik Rokok Praoe Lajar (Google Maps). Konsumennya merupakan masyarakat kalangan menengah ke bawah yang kebanyakan berada di Pemalang, Tegal, dan Pekalongan.

DSCF0891 (1024x684)

Gereja Blenduk (Google Maps) yang menjadi salah satu landmark kota Semarang ini telah berusia lebih dari 200 tahun. Dinamai Gereja Blenduk karena di bagian atasnya terdapat dua buah menara dan sebuah kubah besar. Dalam bahasa Jawa, kubah berarti mblenduk. Gereja ini aslinya dibangun pada tahun 1753 namun didesain ulang oleh arsitek HPA de Wilde dan W. Westmaas pada tahun 1787.

DSCF0969 (1024x684)

Jembatan Berok (Google Maps) menghubungkan Kota Lama Semarang dengan bagian kota barunya yang berada lebih ke selatan. Dulunya jembatan ini sempat bernama Gouvernementsbrug dan Sociteisbrug. Nama Berok sendiri berasal dari pelafalan “brug” yang berarti jembatan oleh mulut pribumi.

DSCF0976 (1024x684)

Di utara jembatan terdapat beberapa bangunan kuno yang berjajar, dimulai dari gedung bekas Bank Export Import Indonesia (Bank Exim) yang kini menjadi Bank Mandiri, gedung yang ditempati PT Djakarta Lloyd, gedung kantor PT Pelni, lalu di sebelahnya yang tidak tampak di foto masih ada gedung kantor PT Perkebunan Nusantara XV dan gedung kantor Gabungan Koperasi Batik Indonesia.

DSCF0966 (681x1024)

Di arah barat daya jembatan, di tengah jalan yang berada di antara Gedung  Keuangan Negara dan kantor Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Aset Daerah Jawa Tengah terdapat sebuah monumen kecil bertuliskan “Semarang Nol Kilometer” (Google Maps) yang menandai titik seluruh perhitungan jarak menuju kota Semarang.

DSCF1156 (1024x684)

Tidak jauh dari Monumen Nol Kilometer terdapat gedung Kantor Pos Besar Semarang yang telah beroperasi sejak tahun 1862.

 

Masjid Kauman (Google Maps)

Masjid Kauman merupakan masjid agung kota Semarang yang berada di deket Pasar Johar. Hmm, mungkin lebih tepat kalo menyebut Pasar Joharnya yang berada di deket masjid, karena biasanya pasar justru muncul karena adanya masjid.

Di hadapan masjid terdapat alun-alun yang sudah beralih fungsi menjadi Pasar Johar, Pasar Yaik, gedung BPD, dan Hotel Metro. Lingkungan masjid yang dulu asri, kini sudah terimpit oleh gedung pertokoan. Kondisinya mirip lah kayak Masjid Agung Bandung. Di atas gapura yang berada di depan masjid terdapat tulisan tahun 1904 yang menandakan tahun selesainya pemugaran masjid setelah sempat terbakar.

DSCF0896 (1024x683)

Di depan masjid ada penjual nasi pecel yang juga merangkap berjualan berbagai macam gorengan dan buah potong, rame banget disamperin oleh orang-orang yang dateng mau sholat Jumat. Saya juga gatel pengen nyobain, saya minta nasinya dikit aja tapi itupun masih bikin kenyang banget karena sayurnya banyak dan lagi saya juga nambah telor dadar dan dua sate kerang yang jadi favorit saya. Plus teh manis, saya hanya perlu membayar 10 ribu saja. Murah meriah banget banget deh.

 

Toko Oen (Google Maps)

Pecinta es krim mana sih yang ga tau Toko Oen? Saya sama keluarga saya pernah mampir ke Toko Oen yang ada di Malang pada tahun 2006. Namun belakangan saya baru tau kalo Toko Oen yang asli hanya tinggal yang ada di Semarang ini. Toko Oen di Malang udah tutup sejak tahun 1990 dan tadinya akan diubah oleh pemilik bangunannya menjadi showroom mobil jika tidak dicegah oleh pemerintah kota. Akhirnya, pemiliknya memilih untuk membuka kembali Toko Oen Malang dengan nama yang sama namun seluruh resepnya tidak mencerminkan resep asli yang dimiliki oleh Nyonya Liem Gien Nio dan Bapak Oen Tjoen Hok selaku pendiri Toko Oen yang asli.

Walau Toko Oen juga menjual berbagai menu makanan khas Indonesia dan Eropa, roti, dan kue, saya sih cuma mau nyobain makan es krim cita rasa kolonialnya yang terkenal itu. Karena saya cuma punya satu kesempatan, sekalian aja saya mesen Oen’s Symphony yang berisi empat scoop es krim beraneka rasa yang disajikan dengan selagroom (whipped cream) dan katetong (kue lidah kucing).

 

Simpang Lima (Google Maps)

Semarang sebenernya punya banyak persimpangan jalan di mana lima buah jalan bertemu, namun daerah yang disebut sebagai Simpang Lima hanyalah satu. Lokasi ini ditandai oleh sebuah lapangan yang besar berbentuk persegi panjang yang juga dikenal dengan nama Lapangan Pancasila. Konon pembangunannya diusulkan oleh Presiden Soekarno untuk menggantikan fungsi alun-alun di depan Masjid Kauman yang sudah beralih fungsi menjadi pasar.

DSCF1109 (1024x683)

Di sekelilingnya terdapat berbagai gedung penting di Semarang, misalnya adalah Masjid Raya Semarang ini. Selain itu, di sekitarnya berdiri hotel-hotel berbintang dan pusat perbelanjaan di antaranya Hotel Ciputra, Hotel Horison, Hotel Graha Santika, Mall Ciputra, E Plaza, Plaza Simpang Lima, Living Plaza, @Hom Hotel, Holiday Inn Expres, dan Apartemen Warhol.

DSCF1151 (1024x683)

Simpang Lima akan sangat ramai pada saat malam hari, terutama saat malam minggu di mana masyarakat berkumpul di sini untuk sekedar berjalan-jalan. Pada hari Minggu pagi, daerah ini merupakan satu dari dua tempat di Semarang di mana diadakan Hari Bebas Kendaraan Bermotor alias Car Free Day.

DSCF0851 (1024x683)

Tak jauh di sebelah selatan Simpang Lima terdapat Bundaran Air Mancur karena dulunya di sini terdapat kolam air mancur. Sempat berganti dengan sebuah videotron namun sekarang diganti lagi dengan tugu berbentuk segitiga menjulang ini. Ada yang tau tugu apa namanya? Di belakang tugu tampak gedung kantor Gubernur Jawa Tengah.

 

Bersambung ke Momotoran di Kota Semarang (Bagian 2 dari 2)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s