Goes to Thailand : Masih di Bangkok! (Bagian 4 dari 5)

Baca bagian tiganya di Goes to Thailand : Bangkok! (Bagian 3 dari 5)

 

KLONGSAN MARKET

Karena Wat Arun lagi direnovasi, akhirnya sore itu kita mutusin buat langsung pergi ke Yok Yor Marina & Restaurant di daerah Khlong San. Rencananya, kita mau dinner cruise pake perahu yang bakal menyusuri sungai Chao Praya. Karena ga bisa reservasi online, pas nyampe sana kita langsung reservasi meja buat 4 orang.

DSCF0011 (800x533)

Karena masih ada waktu, kita nyoba memanfaatkan sedikit waktu yang tersisa untuk mengunjungi Klongsan Market (Google Maps) di deket situ. Dari Yok Yor, jaraknya cuma 700an meter dan ada jalan setapak yang memotong sehingga ga perlu muter lewat jalan raya. Klongsan Market sebenernya kayak tempat orang jualan digabung sama food court. Tempatnya memanjang dan ga terlalu gede. Tujuan kita ke sini emang mau nyobain street food (atau disebut juga hawker food) alias makanan-makanan murah meriah yang dijual oleh penjaja-penjaja makanan kaki lima. Persis kayak yang banyak kita temuin di Indonesia. Seperti biasa, ga semua jenis makanan bisa kita cobain. Palingan cuma bisa nyobain kue-kuean, makanan berbasis sea food, atau sayuran. Minumnya saya beli jus jeruk yang harganya cuma 20 Baht. Jus buah-buahan di sini udah ready dan dijual dalam botol-botol berukuran kecil. Rasanya? Uasseeeemmm banget.

DSCF0009 (800x534)
Waffle
DSCF0014 (800x534)
Semacam crepes, saya beli yang isi crab stick dan custard
DSCF0015 (800x533)
Gorengan martabak, ada isi sayur, rebung, kentang

DINNER CRUISE

Di antara banyak restoran yang menawarkan jasa dinner cruise, Yok Yor Marina & Restaurant (Google Maps) ini termasuk yang paling murah. Yang lainnya bisa sampe ratusan ribu rupiah biayanya. Tapi kalo di Yok Yor? Untuk biaya cruisenya aja kita cuma dikenain biaya 160 Baht alias cuma 60 ribu rupiah doang lho!

DSCF0019 (800x533)

Selebihnya, kita cuma mesti bayar harga makanan yang kita makan. Itu pun harganya masih cukup wajar untuk sekelas restoran. Jusnya sekitar 20 ribu rupiah, makanan sekitaran 50 sampe 80 ribu. Kalo saya perhatiin, orang Thailand yang dateng rata-rata juga mesen minuman keras (entah itu bir atau sampanye) yang disajikan dengan ember logam (champagne bucket) berisi es batu.

DSCF0020 (800x533)
Pineapple fried rice
DSCF0029 (800x534)
(ceritanya) oyster omelette

Sayangnya, makanannya ga recommended. Prodia mesen seafood fried rice dan pedes banget, nyaris ga bisa dimakan. Saya pesen pineapple fried rice. Katanya seafood, tapi eh pas dateng satu-satunya seafood cuma udang di atasnya, tapi nasi gorengnya dimasak pake daging (ini daging apaaa??). Terpaksa lah saya pisah-pisahin dagingnya. Belum lagi rasanya yang juga aneh. Oyster omelette pesenan Nisa juga walaupun rasanya lumayan, tapi penampilannya ga sesuai dengan yang saya liat di internet.

Tadinya kita juga sempet bingung, kenapa dari jam setengah 7an kita naik perahu sampe sejam kemudian tuh kapalnya kok ya ga jalan-jalan. Kita jadi mulai curiga, apa jangan-jangan ada salah paham dan kita ini sebenernya cuma makan di atas perahu doang tanpa ada “cruise”nya? Tapi ternyata, perahunya emang baru dijadwalin akan berlayar jam 8an. Fiuh, selamat lah rencana dinner cruise kita.

DSCF0045 (800x533)
Ini Wat Arun yang tadi ga jadi kita kunjungin
DSCF0049 (800x534)
Millennium Hotel
DSCF0037 (800x533)
Grand Palace dan Wat Phra Kaew
DSCF0033 (800x533)
Film (Rajini) School
DSCF0041 (533x800)
Rama VIII Bridge

Anyway, pengalaman dinner cruisenya ga terlalu luar biasa. Grand Palace yang siangnya kita kunjungi juga cuma keliatan atap-atapnya doang. Wat Arun yang bener-bener lagi direnovasi sampe nyaris ga keliatan bentuknya. Yang keren menurut saya malah pemandangan Rama VIII Bridge. Kalo kamu pengen tau tempat-tempat apa aja yang bakal dilewatin selama cruise, liat aja di peta yang ada di situs Yok Yor (tapi bahasa Thailand sih, hehehe).

 

SOI COWBOY

Dinner cruise menghabiskan waktu nyaris dua jam. Karena penasaran, saya nawarin pergi ke Soi Cowboy (Google Maps), daerah yang katanya red light district-nya Bangkok. Seperti biasa, kita naik Uber lagi. Sumpah ya, kalo ga ada Uber ini ga tau deh gimana cara kita mesti berpindah-pindah lokasi di Bangkok. Ngebantu banget.

DSCF0053 (800x533)

Ternyata, Soi Cowboy ini pendek banget. Panjang jalannya cuma 130 meter doang. Alhasil, ga sampe 10 menit pun kita udah beres ngeliat-liat. Tapi, di jalan yang pendek ini suasananya sangat ramai. Lampu-lampu neon yang didominasi oleh warna merah, warna khas erotisme. Perempuan-perempuan dari cafe berpakaian bikini seakan-akan lagi di pantai. Aneh aja, soalnya kita kan lagi di tengah kota Bangkok. Dan, walaupun pengen siiih ngeliatin, tapi ntar takutnya mereka baper kayak tukang jualan di metromini. Baru ngeliat dikit aja tapi udah dikira mau pake jasanya.

 

PRATUNAM MARKET

Besok paginya, kita mengunjungi Pratunam Market (Google Maps). Walau jaraknya dari hotel cuma 2 km tapi tetep aja kita naik Uber.

DSCF0069 (800x533)

Pasar Pratunam bener-bener kayak Tanah Abang deh. Isinya didominasi oleh penjual pakaian, nyaris 100% jualannya pakaian. Dan, catet nih, nyaris 100% pakaian yang dijual ternyata cuma buat cewek. Lah, terus saya ama Janico ngapain dong nih? Operasi biar jadi cewek? Ya ngga laaaah… Untungnya di pasar ini ada cukup banyak penjaja makanan kaki lima yang bisa kita cobain. Saya nyobain lumayan banyak sampe rasanya ga perlu lagi makan pagi.

DSCF0071 (800x533)
Telur burung puyuh (quail egg)
DSCF0075 (800x533)
Ketan isi talas (asin), pisang (manis), dan kacang merah (asin) yang surprisingly rasanya enak!
DSCF0077 (800x533)
Gorengan pisang, onde-onde, dan ubi (mereka nyebutnya potato) yang rasanya juga enak
DSCF0082 (800x534)
Cemilan terakhir yang saya cobain di Pratunam, ketan bakar yang dioles kuning telur. Jadi inget ulen di Lembang ya?

Karena sempet keabisan duit Baht, saya nemu money exchange yang mau nerima duit rupiah saya dengan rate yang lumayan bagus. Lumayan lah, setelah sebelumnya dompet saya sempet megap-megap, sekarang udah lumayan bisa bernapas setelah saya kasih makan duit beberapa ribu Baht.

 

ERAWAN SHRINE

Dari Pratunam, saya berpisah dari rombongan karena mereka bertiga mau berkunjung ke museum Madame Tussaud yang ada di Siam Discovery Center. Karena saya udah pernah dateng ke Madame Tussaud di Berlin, saya jadi ga terlalu tertarik lagi. Ah, palingan juga 50% isinya sama aja. Palingan yang beda cuma patung-patung lilin orang penting Thailand. Plus di sini juga ada patung lilin Soekarno, jelas untuk menarik wisatawan dari Indonesia.

DSCF0092 (800x534)

Saya punya tujuan lain, pertama adalah Kuil Erawan (Google Maps). Kuil Erawan ialah kuil Hindu yang digunakan untuk memuja Dewa Brahma. Meski demikian, kuil ini dikunjungi juga oleh ribuan umat Buddha setiap hari. Kalo kamu masih inget, pada November 2015 ada sebuah bom yang meledak di kuil kecil ini yang menewaskan lebih dari 20 orang dan melukai lebih dari 125 orang. Jumlah korban yang banyak ini ga mengherankan, karena letaknya berada di persimpangan yang sangat ramai. Di seberangnya ada mal Central World yang terkenal. Erawan sendiri bahkan menempati sudut halaman Grand Hyatt Erawan Hotel.

 

LUMPHINI PARK

Tempat yang saya tuju sebenernya adalah ini, Lumphini Park (Google Maps), taman terluas di Bangkok. Semacam Central Park-nya Bangkok. Taman seluas setengah kilometer persegi ini digunakan oleh warga Bangkok sebagai tempat bersantai dan juga jogging di pagi dan sore hari.

DSCF0105 (800x534)

Saya jalan sejauh 2 km dari Pasar Pratunam, melewati penjaja makanan kaki lima (terkadang ada yang pake mobil) yang berjualan di trotoar sekitar taman, lalu masuk dari pintu masuk kecil dari Sarasin Road dan langsung disambut oleh danau kecil. Di sini ada perahu kayuh yang bisa disewa.

DSCF0108 (800x535)
Taman Lumphini menjadi rumah dari berbagai hewan seperti burung, kura-kura, buaya kecil, dan biawak
DSCF0113 (800x533)
Di tengah taman ada playground yang bisa digunakan oleh anak-anak
DSCF0116 (800x533)
Taman Lumpini sering dijadikan tempat berlangsungnya berbagai event, misalnya konser musik
DSCF0123 (800x533)
Monumen perahu kayuh yang ada di danau, di belakangnya ada King Chulalongkorn Hospital
DSCF0127 (800x533)
Perjalanan saya diakhiri di Monumen Raja Rama VI yang berada tepat di pintu masuk utama Taman Lumphini

THE GOLDEN MOUNTAIN

Walau tadinya sempet ga masuk list kunjungan saya, tapi ternyata tempat ini berhasil jadi salah satu tempat favorit saya di Bangkok, Golden Mountain yang berada di dalam komplek Wat Saket (Google Maps). Tiket masuknya juga murah banget, cuma 20 Baht doang. Untuk sampe ke puncak “Gunung Emas”, kita mesti menaiki 344 buah anak tangga. Jalannya juga ga curam sih, naik aja pelan-pelan, ntar juga nyampe.

DSCF0136 (800x533)
Pengunjung bisa membunyikan lonceng-lonceng yang ada di jalan naik maupun turun, mungkin bagian dari ritual ibadah Buddha
DSCF0138 (800x270)
Pemandangan kota Bangkok pas naik ke atas
DSCF0142 (800x534)
Patung Buddha yang ada di dalam bangunan di atas bukit
DSCF0160 (800x534)
Kombinasi tempat yang ga terlalu luas dan stupa emas yang ukurannya gede, membuat kamera saya ga bisa mengambil fotonya secara menyeluruh.
DSCF0162 (534x800)
Tangga menuruni bukit di arah yang berlawanan dengan tangga naik
DSCF0167 (800x533)
Karena saya dateng sendirian, seperti biasa, mesti memanfaatkan teknologi “Can you take my picture?”

 

JIM THOMPSON HOUSE

Objek wisata yang satu ini lokasinya deket ama Lub d Siam Square. Para pengguna Trip Advisor tampaknya memberi rating yang cukup tinggi untuk tempat ini. Kenapa? Nah, saya juga penasaran sih, makanya saya bela-belain ke sini. Jim Thompson House (Google Maps) ini buka dari jam 9 pagi sampe jam 6 sore. Harga tiketnya 150 Baht, lumayan juga.

DSCF0181 (800x533)

Ternyata, mereka menyediakan tur yang dipandu dalam beberapa bahasa, Inggris, Jepang, dan Perancis. Mungkin ini juga salah satu faktor yang membuat mereka memperoleh rating yang tinggi. Di sini ada restoran juga dan souvenir shop yang harga barangnya berhasil membuat saya ga nyampe semenit lalu udah keluar lagi.

DSCF0178 (800x533)

Jadi, Jim Thompson adalah nama seorang pengusaha asal Amerika yang membangun industri sutera Thailand setelah Perang Dunia Kedua. Tahun 1958, dia mulai membangun rumah yang sekarang jadi museum ini. Setelah jadi, dia lalu mengisi rumahnya dengan berbagai koleksi artefak dan benda seni miliknya yang berasal dari Thailand dan sekitarnya.

DSCF0184 (800x534)
Kita ga boleh berkeliaran sendiri di dalem rumahnya tanpa ditemani oleh pemandu
DSCF0187 (800x533)
Instalasi seni, Golden Waterdrop, yang dipamerkan di ruang eksibisi terpisah dan nyaris luput dari perhatian pengunjung

NATIONAL MUSEUM BANGKOK

Dari Jim Thompson House, saya naik Uber ke National Museum Bangkok (Google Maps), semacam Museum Gajahnya Bangkok. Seperti biasa, jalan menuju daerah di sekitar Grand Palace ini macet banget. Tapi untungnya si sopir Uber bisa ngambil jalan muter yang berbeda dengan apa yang direkomendasiin Google Maps. Saya sampe di sini hampir jam 3. Padahal museumnya tutup jam 4. Wah, mesti efisien nih liat-liatnya.

DSCF0192 (800x533)

Buat kamu penyuka museum, biaya tiket 200 Baht mestinya bukan jadi masalah, karena menurut saya tempat ini worth untuk dikunjungi. Saya ketemuan lagi sama Nisa dan Janico. Karena hari ini emang jadwalnya acara masing-masing, kita ga jalan-jalan berempat. Prodia memilih untuk ketemuan temen yang tampaknya dia kenal dari situs CouchSurfing.

DSCF0201 (800x533)
Samran Mukhamat Pavilion
DSCF0205 (800x533)
Ruangan yang menyimpan kereta jenazah dan berbagai benda yang berkaitan dengan kremasi keluarga kerajaan
DSCF0212 (800x533)
Ruangan yang menyimpan berbagai “howdah”, yaitu pelana yang digunakan saat mengendarai gajah
DSCF0218 (800x533)
Ruangan yang menyimpan berbagai koleksi senjata
DSCF0226 (800x535)
Koleksi yang merupakan hadiah dari pemerintahan Hindia Belanda untuk Raja Rama V, diambil dari Candi Singasari di Kediri

BIG C SUPERCENTER

Malemnya, kita berempat jalan-jalan ke mal MBK Center (singkatan dari Mah Boonkrong) (Google Maps) yang ada di deket hotel. Tinggal nyebrang terus jalan dikit, sampe deh. Ada satu makanan yang saya incer di food courtnya : oyster omelette.

DSCF0260 (800x533)
Pad Thai yang dibeli Nisa, dia sering banget deh beli ini. Doyan kayaknya.

DSCF0262 (800x533)

Haaah, akhirnya dapet juga deh si oyster omelette ini. Waktu di dinner cruise kita dapet oyster omelette yang abal-abal banget. Ini baru oyster omelette beneran! Dan ga salah kata review yang pernah saya baca di internet, oyster omelette-nya emang enak! Seneng deh, hampir semua makanan khas Thailand yang saya incer berhasil dicoba.

20160306_212315 (800x534)

Beres makan, Prodia memisahkan diri lagi. Kita bertiga terus beli oleh-oleh di satu toko penjual oleh-oleh di MBK. Saya beli keripik duren, permen duren, permen susu, keripik pisang, dan lain-lain. Tapi karena kita pengen beli Nestea Thai Tea yang terkenal enak itu, akhirnya kita mutusin untuk pergi ke Big C Supercenter Ratchadamri (Google Maps) di seberang Central World. Saya ngajakin naik tuk tuk, semacam bemonya orang Thailand. Di Bangkok, istilah “Taxi” disematkan untuk tuk tuk dan terlihat di papan nama di atapnya, sementara untuk mobil taksi beneran di papan nama di atapnya tertulis “Taxi Meter”. Naik tuk tuk, walaupun recommended seengganya sekali cuma buat dapetin sensasi dan pengalamannya, ga recommended karena kita mesti menawar-nawar dan si sopir tuk tuk juga pastinya bakal ngasih harga yang tinggi karena kita turis asing. Buat saya yang ga suka tawar menawar, saya pastinya ga suka naik tuk tuk, lebih suka naik Uber.

DSCF0271 (800x533)

Di Big C, semacam Giant atau Carrefournya mereka, saya beli 3 bungkus Nestea Thai Tea seharga 85 Baht sebungkusnya. Terus iseng nyobain beli Kitkat Green Tea juga. Menurut saya, tempat ini lebih recommended deh kalo mau beli oleh-oleh, soalnya harganya setelah diliat-liat juga relatif lebih murah daripada pas tadi kita belanja di toko oleh-oleh. Dan enaknya lagi, kalo belanjaan kita cukup banyak, mereka bahkan nyediain kotak-kotak (plus selotipnya) untuk membungkus belanjaan kita, jadinya lebih gampang dibawa ke bagasi atau kabin pesawat.

 

Bersambung ke bagian terakhir : Goes to Thailand : Phuket! (Bagian 5 dari 5)

Iklan

4 pemikiran pada “Goes to Thailand : Masih di Bangkok! (Bagian 4 dari 5)

  1. halo kak mau nanya dong uber di bangkok tipe nya kaya uber di jakarta nggak yaa, yg suka nelfon dulu gitu? soalnya takut aku panik pas ditelfon supir uber nya.. haha makasih 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s