Goes to Thailand : Ayutthaya! (Bagian 2 dari 5)

Baca bagian sebelumnya di Goes to Thailand : Berangkat! (Bagian 1 dari 5)

 

Baruuu banget tidur dua jam kita mesti udah bangun lagi. Ga ngantuk? Ngantuk bangeeeet. Tapi ya mau gimana lagi, mesti dikuat-kuatin. Soalnya perjalanan ke dan dari Ayutthaya bakal makan waktu yang lama. Apalagi abis itu kita juga masih ada jadwal lain di itinerary yang harus dikejar.

DSCF9540 (800x534)

Di depan hotel kebetulan ada yang pagi-pagi udah jualan minuman. Saya beli Milk Green Tea yang harganya cuma 20 Baht saja. Di Thailand, kebanyakan orang berjualan dengan gerobak yang dikopel dengan motor. Jadinya mobilitasnya gampang dan bisa menempuh jarak yang jauh dari tempat tinggal si penjual ke tempat jualannya. Dan mungkin kalo ada satpol PP juga bisa dengan cepat kabur kali ya, hehehe.

 

MENUJU AYUTTHAYA

Ayutthaya (Google Maps) itu tempat apaan sih? Saya juga tadinya ga kepikiran mau ke sini sama sekali. Kirain saya cuma mau jalan-jalan di Bangkok doang. Tapi emang jadi keingetan sih bahwa di Thailand juga ada tempat yang kayak gini. Sejenis Angkor Wat-nya Kamboja atau Bagan-nya Myanmar kali ya. Ayutthaya, atau ada juga yang menyebutnya Ayudhya (tapi bukan Ayodhya ya, itu nama suatu kota beda lagi yang adanya di India), dulunya pernah menjadi ibu kota Thailand dari sekitar tahun 1350 hingga keruntuhannya pada tahun 1767 akibat serangan bangsa Burma (sekarang Myanmar). Sebagai bekas ibukota kerajaan, reruntuhan kota tua ini tentunya meninggalkan banyak situs bersejarah terutama berupa kuil-kuil Buddha (selanjutnya saya nyebutnya temple, sesuai terjemahan bahasa Inggris yang mereka gunakan). Keliatannya menarik nih.

DSCF9548 (800x534)

Masalah terbesarnya adalah, Ayutthaya terletak 80 km di utara Bangkok. Hampir menyamai jarak Jakarta ke Purwakarta. Makanya, setelah mempertimbangkan jarak itu, akhirnya kita memilih untuk naik kereta dari Stasiun Hua Lamphong (Google Maps) atau disebut juga Stasiun Bangkok. Kita lalu naik Uber ke stasiun ini. Iya, selama di Bangkok, Uber jadi transportasi andalan kita banget deh. Di stasiun, kita beli tiket kereta ke sana seharga 20 Baht. Anehnya, di tiket sama sekali ga dicantumin nomor kursi kita, jadinya kita sempet dua kali keusir orang lain yang punya nomer kursi di kursi yang lagi kita dudukin.

DSCF9556 (534x800)

Kereta yang di jadwal mestinya berangkat jam 7, baru berangkat jam 8 kurang seperempat. Gilingan. Hampir jadi arca kita nungguin di dalem kereta. Oiya, walau mirip kereta ekonominya kita, tapi keretanya masih pake kipas angin dan mengandalkan jendela sebagai ventilasinya. Yap, sama sekali tanpa AC! Ga heran tiketnya murah banget kan. Menarik juga, ini berarti kemampuan ekonomi masyarakat di Bangkok dan mungkin Thailand sendiri masih jomplang sehingga kereta seperti ini aja masih ada. Bayangin, Bangkok yang udah punya MRT dan Skytrain masih punya kereta macem begini.

DSCF9567 (800x534)

Sampe juga di Stasiun Ayutthaya (Google Maps) setelah perjalanan yang memakan waktu satu jam empat puluh menit. Selama perjalanan, kita disuguhi oleh pemandangan sawah. Tapi yang paling saya inget adalah pemandangan pembangunan jalan dan tiang-tiang pancang untuk jalan layang (mungkin juga termasuk jalur kereta) yang cukup masih. Luar biasa. Mungkin mirip dengan kasus di Indonesia yang saat ini baru mulai melakukan pembangunan fisik untuk transportasi di banyak daerah, dalam masa krisis seperti sekarang ini memang diperlukan pembangunan fisik untuk menggenjot perekonomian masyarakat. Lagipula, kalo menunggu-nunggu terus, mau kapan bikinnya?

DSCF9566 (800x534)

Di luar stasiun, udah menunggu beberapa Tuk Tuk-nya Ayutthaya. Di sini Tuk Tuk-nya mirip banget bemo di Jakarta. Pernah liat bemo kan? Tapi kita ga akan naik ini. Pasti mahal deh. Apalagi kalo mesti tawar menawar dan kita ga tau tarif. Lagipula, kalo naik ini ntar kita jadi ga bisa bebas singgah di mana aja yang kita mau. Salah-salah ntar malah minta tambahan bayaran. Rentan pemerasan deh! *suuzhon*

DSCF9575 (533x800)

Jadi, dari awal kita udah ngincer mau nyewa sepeda motor. Di jalan yang berada tepat di seberang stasiun, ada beberapa penyewaan sepeda motor. Misalnya di Saifon Guest House ini. Mereka menyewakan sepeda motor dengan tarif 150 Baht dan sepeda dengan tarif 50 Baht, buat seharian. Tapi menurut saya, naik sepeda kurang hemat waktu dan juga melelahkan. Soalnya dari sini ke berbagai objek wisata jaraknya masih lumayan jauh, kira-kira 3 km. Belum lagi waktu yang dibutuhkan buat mengunjungi objek wisata lain-lainnya. Tapi, ini masalah selera dan juga ketersediaan waktu. Kalo kamu seneng naik sepeda dan punya banyak waktu sampe sore, silakan menyewa sepeda.

DSCF9573 (800x535)

Sebelum mulai jalan-jalan, kita makan dulu di Saifon Guest House. Maklum, penginapan kita kan penginapan backpacker sehingga breakfast-nya exclude. Restorannya Saifon menyediakan beberapa menu yang “mendekati” halal kayak Pad Thai Seafood yang saya makan ini misalnya. Maksudnya mendekati? Yah, karena saya yakin wajannya pasti bekas dipake masak masakan yang non halal. Tapi saya orangnya ga rewel sih. Selama ga mengandung babi dan masih bisa menghindari ayam atau sapi, saya makan-makan aja. Oiya, Pad Thai ini umumnya berisi mie tipis dan toge. Otomatis rasanya mirip kayak lumpiah basah digabung ama mie goreng.

ayutthaya map

Ini peta yang saya comot dari sebuah situs web. Waktu di sana, saya juga dapet peta yang sama persis dengan ini. Peta ini cukup simpel dan mencantumkan objek-objek wisata yang recommended buat dikunjungi di Ayutthaya.

 

WAT MAHA THAT

Tempat pertama yang kita kunjungi yaitu Wat Maha That (Google Maps). Kayaknya sih tempat ini jadi tempat paling pertama yang dikunjungi semua wisatawan yang baru ke Ayutthaya. Tiket masuk buat wisatawan asing 50 Baht. Buat wisatawan lokal? Cuma 10 Baht doang. Murah buanget! Sebagai perbandingan, harga sebotol air mineral di Thailand normalnya antara 6-10 Baht. Kalo kamu bisa bahasa Thailand, bisa tuh dapetin tiket cuma 10 Baht. Lagipula wajah orang Indonesia kan mirip orang Thailand. Saya sering juga beberapa kali diajak ngomong pake bahasa Thailand dan cuma bisa bengong sambil bilang “Sorry, I don’t understand.”

DSCF9594 (800x535)

Ini iconic photo spot yang paling populer di sini, patung kepala Buddha yang “terjebak” di antara akar-akar pohon. Saking ikoniknya, foto kepala Buddha ini banyak diiklankan oleh agen-agen pariwisata Thailand. Walaupun image Buddha dianggap suci oleh orang Thailand, tapi selebihnya sih ga ada yang istimewa. Oiya, jongkoklah saat akan berfoto dan ga usah coba-coba nyentuh patung kepala Buddha tersebut. Be respectful.

DSCF9597 (800x535)

Bagian ini mungkin dulunya bagian dari bangunan biara. It has a cool view. Ada satu patung Buddha berukuran besar di tengah, di sisi-sisinya ada patung-patung Buddha berukuran kecil yang semuanya tidak berkepala. Jadi mirip kayak ruangan kelas di mana Buddha yang ukurannya lebih besar itu berperan jadi guru.

Salah satu foto “keluarga” yang kita ambil di Ayutthaya pake GoPro pinjeman

DSCF9606 (800x534)

Dibangun pada awal periode Ayutthaya di abad keempat belas, Wat Maha That diyakini pernah menjadi tempat tinggal pemimpin tertinggi para biksu. Jadi ga heran kalo tempat ini sangat besar dan memilik banyak relik dan patung Buddha. Saking gedenya, kita lumayan ngabisin waktu sampe sejam di sini. Antara emang pengen liat-liat dan ga mau rugi.

DSCF9576 (800x533)

Di parkiran, ada banyak yang jualan souvenir. Kalo ada yang menarik, kamu bisa beli. Lagipula, beberapa souvenir emang belom tentu dijual di tempat lain, kayak misalnya pajangan yang niruin kepala Buddha tadi. Sama kayak di Indonesia, harganya tentunya lebih mahal karena berada di lokasi wisata. So, cobalah menawar, mungkin sampe setengah harga. Kalo dikasih ya syukur, kalo ga dikasih ya berarti emang belom balik modal.

 

WAT RATCHABURANA

Tujuan berikutnya adalah temple yang udah dari tadi kita liat pas masih di Wat Maha That, Wat Ratchaburana (Google Maps). Tapi pas nyampe sana, ternyata kita mesti beli tiket lagi yang harganya sama-sama 50 Baht.

DSCF9611 (533x800)

Yah, ga worth it ah. Selain areanya ga seluas Wat Maha That, si pagodanya (chedi) juga lagi direnovasi. Akhirnya kita memutuskan untuk melewatkan temple yang satu ini. Nanti dipilih-pilih aja temple mana yang worth it walau mesti ngebayar 50 Baht. Menurut saya sih, mestinya kalo temple-nya lebih kecil, harga tiketnya juga lebih murah, supaya lebih kompetitif dan menarik minat wisatawan.

DSCF9638 (800x533)
Foto dari belakang. Duh, pintunya kebuka, menggoda banget. Tapi sayangnya si Prodia lagi males diajak masuk.

WAT THAMMIKARAT

Nah, kalo ke temple yang satu ini (Google Maps) kita ga perlu beli tiket. Kayaknya sih karena temple ini masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah, jadinya orang bisa bebas masuk.

DSCF9629 (800x533)

Ini adalah Royal Sermon Hall, yaitu bekas vihara di mana dulu pendeta-pendeta Buddha biasa memberikan ceramah. Diberi nama “Royal” karena lokasinya yang dekat dengan istana sehingga sering didatangi oleh raja-raja pada hari raya keagamaan.

DSCF9634 (800x534)

Dari sisa-sisa dinding dan pilar yang terbuat dari batu bata ini saja bisa kita bayangkan betapa besarnya aula ini ketika dulu masih berdiri. Bentuknya yang tinggi dan persegi panjang mengingatkan saya pada bentuk bangunan katedral. Atau malah jadi inget Pantheon di Yunani?

DSCF9626 (800x533)
Altar pemujaan yang dipenuhi dengan patung ayam jantan berbulu hitam, sayang papan keterangannya tulisan Thailand. I don’t have a clue what this is.
DSCF9622 (800x533)
Stupa berbentuk genta yang tiap sisinya dihiasi oleh 13 buah arca singa
DSCF9615 (533x800)
Ubosot, atau ruang pentahbisan, di sini seorang individu ditetapkan sebagai pendeta yang bertugas melakukan berbagai ritual keagamaan dan upacara.

VIHARA PHRA MONGKHON BOPHIT

Vihara ini (Google Maps) terletak di sebelah selatan Wat Phra Si Sanphet. Sama kayak di Wat Tammikarat, vihara ini masih aktif digunakan untuk beribadah sehingga itu juga artinya gratis untuk kita masuki. Sebelum masuk, alas kaki mesti dilepas dan dibawa pake tas kain yang udah mereka sediain

DSCF9641 (800x533)
Tampak depan
DSCF9658 (533x800)
Bangunan ini dibangun untuk menaungi salah satu patung Buddha perunggu terbesar di Thailand : lebar duduknya 9 meter dan tingginya mencapai 12 meter. Ukuran ini belom termasuk struktur alasnya.

DSCF9656 (800x533)

Di salah satu bagian di depan patung Buddha, tampak anak-anak sekolah yang lagi ditemenin gurunya. Gurunya itu mungkin kayak guru agamanya gitu, soalnya dia seperti membacakan doa-doa dalam bahasa Thailand dan si murid-muridnya khusyuk mendengarkan. Biasanya kalo ada kumpulan anak sekolah gini, biasanya mereka kompakan. Kalo di kelompok ini, murid-murid ceweknya pada pake pita putih, sementara murid-murid cowoknya berambut pendek cepak.

DSCF9651 (800x533)
Jajaran patung kepala Buddha yang ditempeli potongan-potongan kecil kertas emas oleh para peziarah
DSCF9652 (800x534)
Di tangan patung Buddha seringkali ada uang-uang receh seperti ini. Mungkin semacam sedekah kali ya?

WAT PHRA SI SANPHET

Untuk memasuki komplek Wat Phra Si Sanphet (Google Maps) kita diharuskan membayar 50 Baht. Oke lah, ga masalah. Tampaknya worth it.

DSCF9640 (800x533)

Di samping pintu masuk terdapat monumen sederhana tapi cukup menarik perhatian saya, yang menyatakan bahwa kota bersejarah Ayutthaya pada tahun 1991 telah diakui sebagai World Heritage Site oleh UNESCO. Areanya meliputi sebagian daerah di “pulau” Ayutthaya. Kenapa disebut pulau? Karena kebetulan daratan Ayutthaya dikelilingi oleh aliran sungai Chao Praya.

DSCF9693 (800x533)

Wat Phra Si Sanphet memiliki tiga buah pagoda (chedi) berukuran besar yang menginspirasi bentuk pagoda di Wat Phra Kaew di Bangkok. Konon dulu di sini juga ada patung Buddha setinggi 16 meter yang dilapisi oleh emas seberat 343 kg senilai 179 miliar rupiah dalam nilainya sekarang. Luar biasa makmurnya Kerajaan Ayutthaya.

DSCF9681 (800x533)

Di ujung barat pagoda-pagoda tadi saya nemuin sisa-sisa patung Buddha duduk tanpa kepala yang terbuat dari batu bata. Royal Palace tadinya berada di area yang sama hingga dipindah ke utara pada tahun 1448.

DSCF9704 (800x534)
Spot narsis

WAT PHRA RAM

Sebelum balikin motor, kita nyempetin ngedatengin satu temple terakhir, Wat Phra Ram (Google Maps), yang lokasinya tepat di depan Vihara Phra Mongkhon Bophit. Pagodanya sekilas mirip dengan yang ada di Angkor Wat, Kamboja. Karena kalo mau masuk saya yakin mesti bayar 50 Baht, akhirnya saya curi-curi masuk dari salah satu sisi temple yang cuma dibatasi pagar batu bata setinggi perut, gampang banget dilewati. Ah, gapapa lah ya, cuma mau ngambil fotonya sikit saja.

DSCF9718 (800x533)

 

BACK TO BANGKOK

Hari sudah semakin sore, sekitar jam 2an kita menyudahi kunjungan. Udah puas lah. Lagipula, kita mesti ngejar kereta balik ke Bangkok yang kita juga ga tau bakal lewat stasiun jam berapa. Kita masih punya beberapa agenda malem itu di Bangkok. Sebelum ngebalikin motor, kita udah diinstruksiin untuk ngebalikin motor full tank seperti sedia kala. Di depan stasiun, kita akhirnya tergoda untuk jajan-jajan. Ada pangsit goreng yang ternyata rasanya agak aneh. Saya sih memilih beli sate-satean aja. Tentunya satenya yang seafood, kayak sate pempek dan sate crab stick. Lumayan lah buat ngeganjel perut yang emang belom sempet makan siang.

DSCF9722 (533x800)
Sate-satean, beli yang seafood aja
DSCF9721 (800x535)
Pangsit goreng yang rasanya agak aneh. Ja, ja, jangan-jangan???

 

BERSAMBUNG ke Goes to Thailand : Bangkok! (Bagian 3 dari 5)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s