Hidup Sebulan di Leipzig (Bagian 5 dari 5)

Baca dulu jalan-jalan sebelumnya di Hidup Sebulan di Leipzig (Bagian 4 dari 5)

 

Asisi Panometer : Great Barrier Reef

Menurut review di Trip Advisor, Asisi Panometer (Google Maps) adalah salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi di Leipzig. Bahkan kolega di kantor saya di sini pun berkata demikian. Walau lokasinya agak jauh dan mesti jalan sekitar 600 meter (iya, cuma 600 meter sih, tapi jiwa orang Indonesia saya tetep ga hilang-hilang nih di sini), ya udah deh tetep saya sambangin. Kalo kamu mau ke sini, bisa naik trem rute 9 atau 16 dan turun di halte terdekat.

DSCF7448 (800x534)

Tempat instalasi seninya menggunakan bangunan bekas gasometer, bangunan berbentuk tabung raksasa yang jaman dulu dipake buat menampung gas, mirip kayak tangki kilang minyak. Gasometer di Leipzig ini dibangun sekitar tahun 1909 dan digunakan hingga tahun 1977 dan pada tahun 2002 mulai direnovasi untuk disulap menjadi instalasi seni berbentuk panorama. So, cukup jelas kan kalo panometer itu gabungan dari kata panorama dan gasometer. Terus, Asisi sendiri adalah nama seniman yang membuat instalasi seni ini. Nama lengkapnya Yadegar Asisi. Ga cuma di Leipzig, dia punya instalasi seni sejenis di beberapa kota lain kayak di Dresden, Berlin, Pforzheim, dan di Rouen (Perancis), saat ini baru satu-satunya yang ada di luar Jerman. Tapi yang menggunakan bangunan bekas gasometer cuma di Leipzig ama di Dresden. Di tempat lain bangunannya dibuat dari struktur rangka baja.

DSCF7458 (533x800)

Saya sampe di sini jam 5 sore, hari mulai gelap. Maklum lah, udah masuk musim dingin, matahari bobo lebih awal. Walaupun demikian, ternyata masih lumayan banyak juga pengunjungnya. Pas mau beli tiketnya aja masih sedikit ngantri. Harga tiketnya 11.5 Euro. Kalo mau nyewa teropong binokuler buat ngeliat instalasi seninya juga bisa, tapi ada biaya sewanya lagi. Pengunjung bakalan diminta buat nyimpen ID card, khawatir teropongnya ilang kali ya. Ga kebayang kalo dia sampe ngejar saya ke Indonesia kalo-kalo saya nyolong teropongnya.

DSCF7461 (800x533)

Sebelum bener-bener masuk ke dalam instalasi panometer, kita akan melewati area pameran tematis. Kebanyakan sih berupa foto-foto yang dilengkapi dengan informasi-informasi tentang Great Barrier Reef-nya sendiri. Buat pemanasan lah.

Nah, kalo dari tadi kamu bertanya-tanya instalasi seninya kayak apa, ya kayak gini. Kita disuguhi pemandangan Great Barrier Reef Australia dalam ukuran aslinya, 360 derajat. Tinggi instalasi seninya mencapai 30 meter dengan keliling 105 meter. Saya cukup takjub pas tau kalo koral di lautan aja bisa segede itu ukurannya. Di tengah panometer, ada platform yang bisa kamu naikin. Dari platform ini kamu bisa ngeliat panorama Great Barrier Reef yang sangat kaya dengan keragaman hayatinya dari berbagai tingkat ketinggian. Tentu saja, kamu juga bisa pake teropongnya karena gambarnya high definition. Seakan kita bener-bener menyelam di sana deh.

Karena sifat instalasi seninya temporer, instalasi seni ini bisa aja suatu saat berganti. Instalasi Great Barrier Reef ini misalnya, rencananya akan dipamerkan hingga bulan Januari 2017. Sebelumnya, panorama yang disajikan adalah pemandangan kota Leipzig pada tahun 1813 di mana saat itu sedang terjadi perang yang dikenal dengan nama “The Battle of The Nations”. Tentu saja, gambarnya dibuat secara digital. Kayaknya sih lebih keren daripada Great Barrier Reef ini.

 

Volkerschlachtdenkmal

Atau disebut juga Monument to the Battle of the Nations (Google Maps). Pengelolaannya masih di bawah Museum Sejarah Kota Leipzig yang ada di Altes Rathaus. Untuk mencapai tempat ini, kamu mesti naik trem rute 15 dan turun di halte Volkerschlachtdenkmal.

DSCF7985 (800x533)

Monumen ini dibangun untuk memperingati kemenangan bangsa Jerman atas Napoleon (iya, Napoleon yang itu) dalam Battle of Leipzig di tahun 1813 atau dikenal juga dengan nama the Battle of the Nations yang menjadi penentu berakhirnya War of the Sixth Coalition. Kekalahan Napoleon di sini menyebabkan dia harus kembali ke Perancis, dan pada akhirnya dia benar-benar dikalahkan hingga diasingkan ke Pulau Elba, pulau yang terkenal karena sering muncul di pertanyaan TTS Kompas. By the way, sebenernya bukan cuma kemenangan bangsa Jerman sih, karena pasukannya merupakan koalisi dengan Rusia, Austria, dan Swedia juga.

DSCF7995 (533x800)

Kalo membaca sejarah pembangunan monumen ini, kamu mestinya takjub kayak saya juga. Monumen ini dibangun selama 15 tahun, dari tahun 1898 sampe tahun 1913, bertepatan dengan peringatan 100 tahun Battle of Leipzig. Bayangin aja ya, dengan teknologi yang ada saat itu, belum ada crane kayak sekarang, mereka berhasil membangun sebuah monumen semasif ini, yang tingginya 91 meter, terdiri atas berton-ton beton dan batuan granit. Biaya yang dihabiskan mencapai 6 juta Goldmark atau setara dengan 820 milyar rupiah di masa kini. Gimana? Takjub ngga? Takjub dong plis…

Di samping kiri monumen ada souvenir shop dan di samping kanannya ada museum. Monumennya sendiri bisa kita masuki, tapi ada tiketnya, 8 Euro. Tiket yang sama bisa dipake juga buat masuk ke museum. Di dalem monumen ada ruang kosong di mana kita bisa mendaki 500 anak tangga untuk sampe ke puncak. Di atas kita bisa melihat kota Leipzig yang memang tepat berada di hadapan monumen. Karena saya ogah naik tangga segitu banyak, saya ga masuk deh. Foto-foto di depannya aja juga udah puas.

 

Oleh-Oleh

Yeah, mana afdol kalo abis jalan-jalan dari luar negeri tapi ga bawa oleh-oleh? Apa aja yang bisa kamu beli buat oleh-oleh di sini? Cekidooot…

IMG-20151125-WA0050 (426x640)

Oleh-oleh yang standar banget tapi murah meriah karena bisa dibagi-bagi ke banyak orang adalah coklat! Di sini harga coklat yang sebenernya ada juga di tanah air relatif lebih murah. Bahkan lebih murah daripada kalo kamu beli di Mustafa Center Singapura. Ya ga heran kan, emang coklat-coklatnya asalnya dari sini. Merk coklat yang saya beli buat oleh-oleh antara lain Kinder Schoko Bons 300 gr (2.59 Euro), Kinder Bueno isi 6 (1.99 Euro), Hanuta isi 10 (2.19 Euro), Merci Petits Choco Collection 125 gr (1.85 Euro), dan Mons Cheri isi 30 (3.99 Euro). Khusus buat yang disebut terakhir itu katanya enak banget tapi sayangnya mengandung liquor, so otomatis ga halal. Saya beli karena dititipin aja (tapi tergoda banget buat nyobain). Yang saya beli dalam jumlah banyak si Hanuta yang berupa biskuit ama Merci Petits yang berupa permen, jadinya bisa buat dibagi-bagi ke banyak orang. Tapi inget ya sama kapasitas bagasi pesawat kamu. Kalo belinya kebanyakan nanti bisa kena charge excess baggage. Lumayan mahal lho.

IMG_20151111_185147

Oleh-oleh lainnya ada kaos-kaosan, kayak ” I Love Leipzig” ini misalnya. Tapi mungkin buat orang yang melek desain (sebut saja adik saya) ga akan suka kaos kayak beginian. Terlalu mainstream dan tulisannya juga gede ngajeblag. Ada temen saya yang nitip hoodie dengan tulisan Leipzig tapi saya cari ke mana-mana ga nemu. Kata karyawan department store yang saya tanya, “Kaos kayak gitu mah udah ga jaman Mas!” Tentunya dalam bahasa Inggris.

IMG_20151112_170828

Gelas-gelas dan tas juga ada. Gelas sih desainnya outdated banget, ga ada yang kece-kece amat, tapi bisa juga buat pilihan oleh-oleh walau bakal makan tempat dan awas aja pecah. Kalo yang tas desainnya rada lumayan. Harganya juga, lumayan… mahal. Tas yang tulisannya Leipzig warna-warni itu aja harganya 12.95 Euro.

IMG_20151111_184906

Kalo yang standar sih gantungan kunci kayak gini. Tapi ini juga harganya lumayan. Apalagi kalo yang mau dikasih oleh-oleh gantungan kuncinya ada banyak, kocek bisa jebol nih. Gantungan kunci kayak yang di atas itu harganya sekitar 5 Euro. Walau saya ga merhatiin bener-bener, tapi kayaknya di semua toko harganya serupa, ga ada yang jomplang banget bedanya. Jadi kalo kamu mau beli di manapun di Leipzig kayaknya ga masalah.

IMG_20151111_184824

Magnet kulkas. Saya kira yang ini kayaknya cuma oke buat yang udah bu ibu atau pak bapak yang udah pada punya rumah sendiri sehingga pada punya kulkas. Eh tapi ternyata yang single dan ngekos pun ada juga yang pengennya magnet kulkas ketimbang gantungan kunci. Desainnya sih mirip sama gantungan kunci yang tadi, begitu pula harganya.

IMG_20151112_170414

IMG_20151112_170421

Tapi ada juga magnet kulkas yang bahannya bukan logam kayak tadi. Yang ini bahannya keramik. Ada juga yang versi ekonomis gitu dan cuma gambar print-printan. Versi yang ini lebih murah sih memang.

IMG-20151107-WA0042 (640x427)

Nah, yang menurut saya tergolong unik sih si music box mungil ini. Produsennya mungkin beda-beda sehingga harganya pun bervariasi antara 5.5 Euro sampe 7.95 Euro. Musiknya pun macem-macem, ada yang musik klasik kayak Fur Elise-nya Beethoven, Kleine Nachtmusik-nya Mozart, Air-nya Bach, dan ada juga yang bertema “Music of The World” kayak I Want to Hold Your Hand, Que Sera Sera, Jingle Bells, We Are The Champion, dan lain-lain. Saya beli beberapa music box di Museum Shop Stadtgeschichtliches di Marktplatz.

 

Mari Pulang…

Mariiilah pulang, mariiilah pulang, sendiriaaaan… Iya lah, emangnya mau nyulik siapa?

Oke, jadi masa training satu bulan sudah usai. Jalan-jalan keliling Leipzig, Dresden, Berlin, dan bahkan sempet ke Belanda juga udah. Ngapain lagi nih kita? Ya pulang laaaaah. Visanya juga cuma berlaku buat sebulan. Saya juga ga berminat ngebikin tajuk berita “Seorang karyawan Siemens Indonesia ganteng dideportasi karena menolak pulang ke Indonesia” beredar di social media. Saatnya beres-beres barang, masukin lagi semuanya ke koper, jangan sampe ada yang ketinggalan.

IMG-20151127-WA0011 (640x429)

Sebelum berangkat, saya mikir-mikir juga sih. Mau ke bandara naik apa? Nelepon taksi? Gimana caranya? Saya kan ga punya pulsa telepon. Bisa sih, naik trem dulu ke Hauptbahnhof terus naik taksi dari sana. Tapi ribet ah. Akhirnya saya memilih pulang dengan naik S-Bahn. Saya terus menenteng kedua koper saya ini ke stasiun S-Bahn yang deket kosan saya, stasiun Wilhelm-Leuschner-Platz. Rute S-Bahn-nya S5 dan turunnya di stasiun Flughafen (Airport) Leipzig-Halle. Pas check-in, ternyata berat koper kuning saya mencapai 29 kg. Wah, kali ini ga bisa dua koper yang masuk bagasi nih. Yang item saya tenteng aja deh, udah saya atur supaya isinya pakaian yang relatif ringan. Sempet si ground officer mau ngasih denda excess baggage koper kuning saya. Jadi, penerbangan Qatar Airways ini bekerja sama dengan Lufthansa buat penerbangan dari Leipzig ke Frankfurt. Dan Lufthansa itu baggage allowance-nya cuma 23 kg. Pas saya bilang ke dia bahwa baggage allowance Qatar itu 30 kg, dia lalu nelepon seseorang dan akhirnya ngebolehin koper saya masuk bagasi tanpa denda. Saya bisa aja sih masukin koper item ke bagasi dan bayar excess baggage. Dibayarin kantor ini. Tapiiii, saya males bayar ah. Mending bawa sendiri aja. Repot sedikit.

DSCF8303 (800x533)

Saya pulang di hari Jumat, dan seperti yang kamu tau, hari Jumat itu ada shalat Jumat. Selama di Leipzig saya ga pernah shalat Jumat. Pas nyampe Frankfurt, saya berusaha nyari muslim prayer room yang katanya ada di dua tempat, yaitu di Terminal 2, Concourse D, Level 3, Room 151.3411 dan di Terminal 1, Concourse B, Level 3, Room 201.3014. Saya milih yang ada di Terminal 1 yang masih satu terminal dengan terminal kedatangan saya.

DSCF8306 (800x533)

Ada kejadian yang unik nih. Jadi pas saya masuk ke ruangan, saya liat beberapa orang shalat. Ada juga yang duduk. Di dinding saya liat ada jadwal shalat. Pas saya liat jadwalnya, udah lewat sih waktu zuhurnya. Sejam lagi malah udah mau asar. Maklum lah, musim dingin kan siangnya singkat. So akhirnya saya memutuskan buat shalat zuhur dijamak qashar ama asar. Eh, pas abis shalat tiba-tiba masuk orang yang pakaiannya kayak imam. Lah, ternyata belum shaat Jumat. Siaaal. Malu bertanya sesat di jalan kan. Dan saya akhirnya jadi dilema. Ini mendingan ikut shalat lagi apa gimana yaaaa. Akhirnya, karena rasanya bakal aneh kalo yang lain pada shalat Jumat tapi saya kok malah pergi, akhirnya saya ikutan shalat Jumat juga. Hadeeeeeuuuuhhhh…

 

TAMAT

Iklan

3 pemikiran pada “Hidup Sebulan di Leipzig (Bagian 5 dari 5)

  1. haloo mas, inspirasi banget ini. aku ada rencana mau tinggal beberapa waktu di leipzig. ohya, kan saya lgi hunting tiket indonesia – jerman. dan yg lebih murah adalah ke frankfurt dibanding ke berlin. mau tanya hehe, dari frankfurt ke leipzig rutenya bagaimana ya mas? yang masih kekocek sama pelajar 😀 makasiih sebelumnya.

    Suka

    1. eh sori, jawabnya ga mecing ya, kok malah berlin, hehehe.. kemaren lagi jalan2 soalnya, ga konsen.

      dari frankfurt ke leipzig naik flixbus aja. coba buka di sini : https://shop.flixbus.com/search?route=&rideDate=26.03.2016&backRide=1&backRideDate=26.03.2016&adults=1&children=0&bikes=0&departureCity=96&departureStation=2735&arrivalCity=113&arrivalStation=30&currency=EUR
      kalo saya liat sih, ada dua pilihan keberangkatan, dari terminal 1 atau 2. enaknya, di bus juga ada wifi gratis yang kenceng. nanti pas udah sampe leipzig baru deh beli kartu SIM lokal.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s