Hidup Sebulan di Leipzig (Bagian 4 dari 5)

Baca bagian sebelumnya di Hidup Sebulan di Leipzig (Bagian 3 dari 5)

 

Stadtgeschichtliches Museum (Altes Rathaus)

DSCF7277 (533x800)

Atau museum sejarah kota. Lokasinya di Altes Rathaus (Google Maps), yaitu balai kota tua, tepat di sisi timur Marktplatz. Museum ini buka setiap hari termasuk di hari libur umum (public holiday) kecuali hari Senin, kok bisa sama ya kayak di Indonesia, jam 10 pagi sampe 6 sore.

DSCF7282 (800x534)

DSCF7342 (800x534)

Beli tiketnya di Museum Shop di lorong lantai dasar. Harganya ga terlalu mahal, cuma 6 Euro. Percaya aja deh pas saya bilang ga terlalu mahal, soalnya umumnya harga tiket museum di Jerman bisa lebih mahal dari ini. Walau kalo kamu coba ngebandingin ama harga tiket masuk museum di Indonesia, harganya sih emang ga ketulungan banget.

DSCF7311 (800x534)

DSCF7298 (800x533)

Museumnya terbagi atas dua bagian, ruang pameran permanen di lantai 2 dan ruang eksibisi di lantai 3. Di lantai 1, kita bisa berlipat koleksi-koleksi yang berkaitan dengan sejarah kota Leipzig. Sayangnya, keterangan koleksi masih minim yang dilengkapi bahasa Inggris. Jadinya saya kadang cuma bisa bisa ngeleos lewat aja. Kadang-kadang aja berhenti buat ngeliat koleksi yang keren atau unik.

DSCF7331 (800x535)

DSCF7329 (800x533)

Di lantai atasnya lagi, ada eksibisi bertajuk sejarah masa modern di Leipzig dan Jerman pada umumnya. Tenang, masih termasuk biaya tiket yang tadi kok. Jadi yang namanya museum emang ga harus selalu berisikan benda-benda kuno yang cuma bisa kita liat doang. Bisa juga kayak gini, kamu seakan membaca buku sejarah, tapi bentuknya tiga dimensi. Ada papan-papan keterangan berisi informasi sejarah dan juga alat peraganya. Bisa berupa foto, peta, diorama, patung, bahkan film. Ada juga artis yang berpura-pura menjadi tokoh masa lalu, terus kita mendengarkan kisah mereka (yang diperoleh dari buku diary benerannya mereka) melalui headphone. Pokoknya interaktif deh. Kita sebagai pengunjung bisa jadi lebih aktif karena ada yang bisa disentuh, bisa dicobain, bisa dimainin.

 

Zeitgeschichtliches Forum

DSCF7344 (533x800)

Dari Altes Rathaus, saya jalan ke belakang melalui lorong tempat tadi saya beli tiket di museum shop. Tepat ketika saya keluar lorong, ada patung Goethe. Ah, jadi inget dulu saya pernah les bahasa Jerman di Goethe. Anyway, Johann Wolfgang von Goethe ini adalah seorang penulis dan juga negarawan. Hubungannya ama Leipzig? Jadi katanya dia pernah menimba ilmu di sini. Walau cuma tiga tahun doang sih dia di sini.

DSCF7349 (800x535)

Tepat mentok di bangunan yang ada di hadapan patung ini, ada Zeitgeschichtliches Forum (Google Maps). Tempat apakah itu? Ow ow, saya juga tidak tauuu. Yang saya tau, kata Trip Advisor tempatnya masuk urutan nomor 12 yang recommended buat dikunjungi. Daaaan, gratis! Ah, indah sekali ya kata itu…

DSCF7356 (800x533)

Saya udah bilang belum kalo Leipzig itu dulunya masuk Jerman Timur? Nah, si museum ini tuh merekam kehidupan sehari-hari orang Jerman selama mereka hidup di Jerman Timur. Banyak peninggalan-peninggalan kehidupan mereka yang disimpan di sini. Kita sampe bener-bener bisa ngebayangin kayak apa kehidupan mereka dari ngeliat foto-fotonya yang banyak terpampang.

DSCF7365 (800x533)

Ada dua hal yang saya inget dari museum ini. Pertama, ruangannya memusingkan. Saya hampir ga tau alur yang bener buat ngeliat museum. Kayak lagi di labirin aja gitu. Ga ada tanda petunjuknya sama sekali. Kedua, sayangnya papan informasinya sebagian besar berbahasa Jerman. Otomatis saya cepat berlalu dari museum ini karena cuma ngeliat doang, ga ada baca-bacanya.

DSCF7369 (800x534)

Di lantai atasnya lagi adalah ruangan pameran temporer. Pas saya lagi ke sana, lagi ada pameran Immer bunter yang berarti “Lebih Berwarna” oleh Keimigrasian Jerman. Pameran yang diadain dari Oktober 2015 sampe April 2016 ini bercerita mengenai keragaman masyarakat Jerman. Jadi emang di Jerman ini banyak banget warga pendatang yang berbaur sama warga asli. Saya bahkan hampir selalu bisa nemu perempuan yang berjilbab, yang notabene bukan warga asli Jerman, setiap saya lagi jalan-jalan.

 

Nikolaikirche

DSCF7378 (533x800)

Selain Thomaskirche, di antara pertokoan di tengah-tengah city center juga ada gereja lain yang gede, namanya Nikolaikirche atau St. Nicholas Church (Google Maps).

DSCF7389 (533x800)

Gereja ini dibangun pada tahun 1165 dengan mengadopsi style Romanesque. Kalo dipikir-pikir, tua juga ya gerejanya. Hampir 900 tahun lho. Tapi aslinya sih ukurannya ga segede sekarang karena di awal abad ke-16 bangunannya diperluas.

DSCF7386 (533x800)

Hmm, palingan gitu aja sih. Rasanya sih ga ada yang terlalus spesial mengenai gereja ini. Yang saya inget sih cuma interiornya yang serba putih. Yaa, ga bener-bener putih sih. Tapi kesannya terang. Oiya, gereja ini juga sama kayak Thomaskirche, sama sekali ga dipungut bayaran untuk masuk dan melihat-lihat. Tapi jangan terlalu ribut ya, karena gimanapun juga ini kan tempat ibadah.

 

Augustusplatz

Augustusplatz (Google Maps) adalah sebuah lapangan terbuka yang berada di ujung timur city center. Di salah satu sudutnya juga ada City-Hochhaus Leipzig yang merupakan gedung tertinggi di Leipzig. Malah mungkin cuma satu-satunya. Tingginya 142 meter, cuma beda tipis sama Monas yang tingginya 132 meter. Ga kayak di kota-kota di Indonesia di mana orang berlomba-lomba membangun gedung-gedung pencakar langit yang tinggi, di sini malah kayaknya sebaliknya deh.

DSCF7975 (534x800)

Augusutplatz sendiri udah ada sejak tahun 1785 dan menyandang namanya yang sekarang sejak tahun 1839, mengambil nama Frederick Augustus I, yang merupakan raja pertama Saxony. Sempat berganti-ganti nama namun akhirnya nama yang ini yang dipake hingga sekarang.

DSCF7979 (800x285)

Di sisi barat ada bangunan utama Universitas Leipzig yang keren banget, yang baru selesai direnovasi tahun 2012. By the way, universitas ini udah menghasilkan banyak orang terkenal. Kamu pasti tau atau pernah denger deh seengganya nama satu di antara mereka. Di antaranya ada Ludwig Boltzmann (fisikawan), Tycho Brahe (astronom), Paul Ehrlich (dokter, bahkan ada nama jalannya di Bandung), Johann Wolfgang von Goethe (sastrawan), Werner Heisenberg (fisikawan), Gottfried Wilhelm von Leibniz (matematikawan), Friedrich Nietzsche (filsuf), Richard Wagner (komposer), daaaan Angela Merkel yang merupakan kanselir wanita Jerman pertama.

 

Hauptbahnhof & Promenaden

Perjalanan di city center berakhir di Hauptbahnhof (Google Maps) di sebelah utara. Hauptbahnhof artinya stasiun kereta api pusat, selain karena ukurannya yang gede, bahkan yang terbesar di dunia kalo diliat dari luasnya, stasiun ini emang merupakan stasiun terbesar di Leipzig. Konon setiap harinya melayani hingga 120 ribu penumpang. Stasiunnya sendiri ada di lantai dua. Jangan tanya saya kenapa bisa ada di lantai dua. Saya juga bingung.

DSCF7446 (800x533)

Di depan Hauptbahnhof juga ada halte trem yang gede dan super sibuk karena dilewati oleh berbagai rute trem dari dan ke seluruh penjuru Leipzig. Orang yang abis naik kereta tentunya bisa nerusin perjalanan pake trem ini. Kalo mau pake taksi juga ada di depan stasiun. Orang-orang Leipzig sendiri banyak yang menggunakan sepeda. Di sekeliling stasiun ada banyak sepeda yang diparkir, nyaris di mana aja.

DSCF7422 (800x534)

Mirip kayak bandara Changi-nya Singapura dan Hamad-nya Doha, di dalem Hauptbahnhof ini ada malnya, namanya Promenaden. Ada banyak gerai-gerai yang menjual berbagai macam produk, restoran, cafe, dan supermarket. Kalo mau nyari makanan yang halal, di sini tempat yang tepat. Ada restoran Turki yang menjual kebap (seperti biasa *rolling eye*) ada restoran sushi (yang rada mahal), toko kue, Dunkin Donut, KFC dan McDonalds (palingan cuma bisa makan kentang goreng atau burger fillet ikan).

DSCF7428 (800x533)

Ada toko yang menjual artcraft boneka-boneka kayu. Bagus-bagus sih. Biasanya orang banyak yang beli pas menjelang natal karena kadang ada yang temanya khas natalan. Saya tertarik pengen beli sih, karena boneka kayu ini juga merupakan souvenir yang khas. Tapi pas ngeliat harganya, bahkan buat boneka yang ukurannya kecil sekalipun, ga jadi deh. Sayang duitnya. Mendingan dipake buat makan atau jalan-jalan lagi, hehehe…

DSCF7434 (800x534)

Di lantai duanya, lebih sedikit toko-toko karena di lantai ini udah merupakan peron stasiun. Tapi, saya ga ngeliat ada semacam loket penjualan tiket, Ga ngerti juga deh. Mungkin jualan tiketnya udah online semua kali ya, kayak tiket pesawat di Indonesia?

DSCF7430 (800x533)

Kereta yang berangkat atau melalui Hauptbahnhof ini di antaranya ada kereta Intercity (IC), Intercity-Express (ICE), Regional-Express (RE), Regionalbahn (RB), dan S-Bahn. Dari Leipzig, kereta-kereta ini menjangkau Halle, Brandenburg, Thuringia, Berlin, Hamburg, bahkan juga ke luar Jerman sampe ke seluruh penjuru Eropa.

DSCF7438 (800x534)

Di deket peron stasiun ada mainan kereta yang bisa dimainin dengan masukin koin. Miniaturnya pun detail banget, proporsinya bagus. Saya ngeliat ada anak-anak yang kayaknya sih udah masukin koin tapi ga berhasil mengoperasikannya. Sampe si orang dewasa yang nemenin dia pun ikut ngecek. Kayaknya sih emang rusak. Padahal keren sih keliatannya. Saya aja tadinya pengen mainin. Tapi, daripada saya bernasib sama kayak dia, mending saya simpen aja Euronya. Cukup ngeliat dan mengagumi aja deh.

 

Baca bagian terakhirnya di Hidup Sebulan di Leipzig (Bagian 5 dari 5)

Iklan

2 pemikiran pada “Hidup Sebulan di Leipzig (Bagian 4 dari 5)

    1. kalo saya beli souvenir di toko souvenir di marktplatz, bisa naik trem yang lewat halte thomaskirche, atau ke halte pusat “hauptbahnhof”, terus jalan ke sana. tokonya ada di bangunan sebelah timur plaza.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s