Hidup Sebulan di Leipzig (Bagian 3 dari 5)

Baca bagian sebelumnya di Hidup Sebulan di Leipzig (Bagian 2 dari 5)

 

Transportasi

Hal lain yang saya pelajari ketika sampe di Leipzig adalah mengenai cara memindahkan diri saya dari suatu tempat ke tempat lain. Bukan, bukan ala Jinny Oh Jinny yang bisa cuma dengan menganggukkan kepala lalu hilang dan pindah ke tempat lain, atau ala Harry Potter yang cuma pake portkey.

Misteri pertama adalah, bagaimana cara memindahkan diri saya ke kantor. Pabrik LV switchgear Siemens di Leipzig terletak di Südstrasse 74 (Google Maps). Jaraknya dari kosan saya lebih kurang 9 km. Sewaktu Mas Ary tinggal di sini, dia cukup beruntung karena si pemilik kosan menyewakan sepedanya dengan tarif yang cukup murah. Selama seminggu pertama dia naik sepeda dari kosannya ke kantor. Padahal jarak kosannya ke kantor juga ga jauh beda dengan jarak kosan saya ke kantor. Setelah seminggu naik sepeda, dia nyerah juga sih. Ya capek juga kan lumayan. Tapi alasan lainnya adalah karena takut sepedanya ilang. Dia pernah menyaksikan sendiri sepeda yang sukses digondol maling di stasiun kereta pusat, Hauptbahnhof. Rodanya sih masih kerante ke tiang, tapi rangkanya bablas.

2016-02-03 07_21_43-Sternwartenstraße 6, Leipzig, Germany to Südstraße 74, 04178 Leipzig, Germany -

Setelah seminggu sepedaan, Mas Ary akhirnya naik trem tiap hari. Nah, karena emang saya ga ada sepeda, dan kalopun ada tempat menyewanya saya ga tau di mana, saya juga udah memutuskan bakalan naik trem tiap hari. Di hari pertama saya ke kantor, saya mencari cara mencapai kantor dengan menggunakan Google Maps. Google Maps memberi tau saya bahwa untuk mencapai kantor dengan berjalan kaki ke stasiun Wilhelm-Leuschner-Platz (Google Maps) sejauh 550 m, terus naik kereta dengan kode S1 ke stasiun Leutzch (Google Maps). Dari stasiun Leutzch saya masih mesti melanjutkan lagi dengan berjalan kaki sejauh 1.1 km. Total waktu perjalanannya, termasuk jalan kakinya yang agak nyantai, yaitu 45 menit. Tiketnya bisa dibeli di mesin tiket di stasiun.

2016-02-03 07_39_32-easy.GO - For bus, train & Co. - Android Apps on Google Play

Belakangan baru saya ketahui bahwa Google Maps belum menyediakan informasi transportasi dengan menggunakan trem. Info transportasi yang tersedia baru meliputi S-Bahn doang, yaitu kereta yang jaringannya mencakup Leipzig dan daerah-daerah di sekitarnya. Terus, kalo kita pengennya pake trem gimana dong? Naik apa, di mana, kapan, gimanaaa??? Tenang. Selama di Leipzig saya kebantu banget dengan adanya aplikasi easy.GO. Aplikasi ini bisa digunakan untuk trem, bus, dan juga S-Bahn. Kalo saya sih biasanya mengombinasikannya dengan Google Maps. Di Google Maps saya akan cari apa nama halte trem terdekat dengan lokasi yang ingin saya tuju. Nanti saya tinggal masukin nama halte yang terdekat dengan posisi saya dan nama halte yang saya tuju. Nanti si aplikasi bakal ngeluarin rekomendasi kita mesti naik trem jurusan apa aja, jam berapa, transitnya di mana, berapa lama untuk mencapai lokasi tersebut. Dan kerennya lagi, si aplikasi ini real time lho. Jadi kalo ada trem yang telat, info waktu ketibaan si trem pun akan berubah.

IMG_20151104_080836 (534x800)

Nah, sekarang masalah tiket trem. Di mana ajakah kita bisa membelinya? Kerennya juga, tiket trem bisa diperoleh di banyak tempat. Saya pernah liat hotel di mana kolega saya menginap menjual tiket trem. Mereka menjual tiket single trip, 4-trip, dan weekly trip. Jadi, varian tiket yang tersedia emang macem-macem. Single trip ticket buat sekali jalan, termasuk jika mesti transit trem, bisa digunakan selama satu jam sejak tiket itu divalidasi di mesin cap (yang ada tulisannya “entwerter”) di dalem trem. Daily ticket bisa dipake sepuasnya seharian. 4-trip ticket, seperti namanya, bisa dipake buat empat kali perjalanan. Ada juga 4-stops ticket yang bisa dipake maksimal untuk melalui 4 halte trem. Terus ada juga weekly ticket dan monthly ticket. Selain di hotel, tiket bisa dibeli juga di halte dan di atas trem. Tapi masalahnya, ga semua halte dan trem menyediakan mesin penjual tiket. Jadi, saya akhirnya pergi ke Service Center LVB, LVB itu nama perusahaan transportasinya Leipzig, yang kebetulan lokasinya deket kosan saya di Markgrafenstrasse 2 (Google Maps). Di sana saya menemui petugas penjual tiket dan membeli tiket bulanan seharga 69 Euro. Ini tentunya jauh lebih murah daripada kalo kita beli single trip ticket yang harganya 2.5 Euro. Tiket ini ga perlu divalidasi lagi di mesin cap karena udah ada tanggalnya, berlaku sejak tanggal yang kita pilih. Dan, bisa dipake sepuasnya pula!

Hal yang menarik adalah, ga kayak di Singapura yang mana kita mesti melalui pintu stasiun, di Leipzig ga ada batas antara kita dan trem. Maksud saya adalah, walaupun kamu ga punya tiket, kamu bisa lho naik trem. Ga akan ada masalah? Ngga. Kecuali kalo kamu ketangkep basah ama petugas inspeksi yang adanya random. Katanya sih kalo ketangkep mesti bayar denda yang lumayan. Tapi selama sebulan saya di Leipzig, saya cuma ketemu petugas inspeksi sekali. Waktu itu saya masih ga tau kalo tiket itu mesti divalidasi di mesin cap. Saya nunjukin tiket saya terus si petugasnya ngecapin tiket saya ke mesin cap. Eh, berarti bisa juga dong ya beli tiket single trip terus naik trem sebebasnya, pas ketangkep sama petugas tinggal pura-pura ga tau aja bahwa tiketnya mesti divalidasi? Huahahahaha *tertawa culas*

 

Jalan-Jalan!

Yeah, saya juga tau. Ini kan tulisan saya yang paling kalian tunggu-tunggu??? Iya kan?

Leipzig dipenuhi dengan berbagai objek wisata. Seperti yang udah saya bilang, sebagian besar objek wisatanya terletak di Zentrum alias city center. Ga heran, soalnya city center emang kayak daerah kota tuanya gitu. Di sini ada pasar, dua gereja tua, museum-museum, gedung-gedung tua, universitas, pusat perbelanjaan, dan sebagainya. Ga heran deh kalo daerah city center ini jadi bagian kota yang paling ramai.

Di satu hari Sabtu, minggu pertama saya di Leipzig, saya bener-bener jalan-jalan dan mengunjungi semua tempat yang udah saya rencanain. Kebanyakan berjalan kaki karena lokasi deket-deket di city center. Dan lagi, di city center ga ada kendaraan umum apa-apa juga. Emang sih, ga semua objek wisata yang saya ceritain berikut ini berhasil saya kunjungi di satu hari. Beberapa yang agak jauh saya kunjungi pada suatu hari libur khusus negara bagian Saxony, negara bagiannya Leipzig. Iya, bukan hari libur nasional karena cuma berlaku di Saxony aja. Terus, hari Minggunya sebenernya udah ngerencanain buat dateng ke Kebun Binatang Leipzig yang katanya one of the best in Europe namun saya batalkan karena saya pikir ga cukup seru dan akhirnya saya memutuskan untuk ngeliat-liat kota Dresden aja. Keputusan yang di kemudian hari tidak saya sesali sama sekali. Setelah weekend pertama berjalan-jalan di Leipzig dan percobaan ke Dresden, saya merasa lebih pede buat jalan-jalan ke lokasi yang lebih jauh. Maka di weekend kedua saya jalan-jalan di Berlin dan di weekend ketiga saya pergi ke Amsterdam buat jalan-jalan sekaligus nemuin sobat saya, Jejey, yang lagi berkuliah di sana ama istrinya, Mega.

trip-advisor-leipzig.jpg.jpg

Dalam merencanakan jalan-jalan di Leipzig, saya sangat terbantu oleh aplikasi Android Trip Advisor. Eh, ga cuma buat di Leipzig aja deng, tapi juga buat buat perencanaan jalan-jalan di tempat-tempat lain. Sangat membantu karena di aplikasi itu kita bisa ngeliat “Things to Do” yang berisikan daftar tempat wisata yang direkomendasikan oleh para user Trip Advisor lengkap dengan filter, rating, dan petanya.

 

Neues Rathaus

Artinya, balai kota baru (Google Maps). Emang yang lama ada di mana? Yang lama masih ada kok. Balai kota yang asli lokasinya ada di Markt (pasar) di tengah city center. Sekarang balai kota yang lama udah dialihfungsikan jadi Stadtgeschichtliches Museum (museum sejarah kota). Sementara balai kota yang baru ini letaknya tepat di sudut barat daya city center. Di depannya ada halte trem bernama sama. Tiap pagi, dari arah saya berjalan ke arah halte trem Rossplatz, saya bisa ngeliat menaranya yang tinggi menjulang dan seolah-olah memakai peci berwarna item. Terkadang kalo hari cerah, di pagi atau sore hari, cahaya hangat keemasan mentari tampak menyelimuti menaranya. What a spectacle.

DSCF7247 (800x533)

Saya ga tau apakah kita bisa masuk ke dalamnya untuk melihat-lihat. Tapi kalopun bisa masuk, emang di dalemnya ada apaan? Basically, balai kota kan kantornya walikota ya? Saya sih udah cukup puas bisa ngambil-ngambil fotonya dari seberang.

 

Thomaskirche

DSCF7212 (533x800)

Tujuan berikutnya adalah Thomaskirche atau St. Thomas Church (Google Maps). Dari Neues Rathaus, kamu cukup menempuh jalan 350 meter ke arah utara. Yah, palingan 5 menit lah. Halte trem juga ada pas di seberangnya.

DSCF7214 (532x800)

Di depan gereja ada patung Felix Mendelssohn, hidup antara tahun 1809 hingga 1847, yang memiliki kaitan dengan Bach dan memiliki peran yang cukup besar terhadap dunia musik di Leipzig. Dia mendirikan Leipzig Conservatoire yang kini menjadi University of Music and Theatre Leipzig.

DSCF7222 (533x800)

Thomaskirche ini terkenal karena di sinilah Johann Sebastian Bach, atau biasanya cukup disebut Bach aja orang udah tau, bekerja sebagai Kapellmeister dari tahun 1723 hingga kematiannya di tahun 1750. Kapellmeister adalah seseorang yang bekerja sebagai pemimpin choir dan menggubah lagu-lagu gereja. Sepertinya ini kedudukan yang sangat terhormat di masa itu.

DSCF7234 (800x533)

Bahkan, mungkin saking udah nempelnya Bach sama gereja ini, makamnya ada di dalem gereja. Emang sih awalnya ga dimakamin di sini. Jadi sebelum nyampe ke sini, makamnya udah sempet berpindah tempat beberapa kali. Ga cuma yang masih hidup aja ya yang nomaden.

DSCF7219 (535x800)

Kalo kamu mau berkunjung ke sini, dateng aja jam 9 pagi pas baru buka banget, biar ga terlalu rame, tapi jangan di atas jam 6 sore, karena udah tutup. Pintu masuknya, bukan lewat pintu gede yang di depan, itu mungkin cuma dibuka kalo emang lagi ada kebaktian aja. Buat pengunjung umum, pintunya ada di samping kanan gereja. Di depan pintu masuk ada patung Bach-nya. Oiya, di dalem gereja juga ada eksibisi, kayak museum mini gitu, benda-benda yang berkaitan dengan Bach. Semuanya gratis tis tis. Eh, tapi ada kotak sumbangannya juga sih. Terserah kamu mau nyumbang berapa.

 

Bach Museum

DSCF7256 (533x800)

Teeepat, di sebelah gereja, ada Bach Museum (Google Maps). Kalo kamu ngiterin gereja dari depan ke belakang buat nyariin pintu masuk, kamu pasti ngelewatin tempat ini. Bukanya dari jam 8 pagi sampe 6 sore. Karena saya ga merasa museum ini cukup menarik buat didatengin, saya ga masuk. Saya ngebayangin isinya palingan cuma panel-panel berisikan kisah hidup Bach, alat-alat musik, dan lembar-lembar musik peninggalannya yang isinya cuma not-not balok yang saya bahkan ga ngerti juga bacanya. Ah, ngebayanginnya aja udah ga menarik. Sejak dulu seni musik is not my strong suit anyway. Tapi beda cerita kalo kamu penggemar musik klasik atau bahkan penggemar Bach. Saya sih cuma masuk ke souvenir shopnya aja terus beli music box ukuran kecil yang berbunyi potongan lagu Air gubahan Bach seharga 4.9 Euro.

 

Markt atau Marktplatz

Marktplatz (Google Maps), berarti lapangan pasar, adalah suatu area berbentuk persegi panjang yang tidak terlalu luas yang ada di city center. Jaraknya dari Nikolaikirche sekitar 300 meter ke arah timur laut.

DSCF7271 (800x533)

Pada jaman dahulu kala lapangan digunakan sebagai pusat pertemuan para pedagang dan pembeli dari dalam dan luar Leipzig. Sekarang sih cuma lapangan kosong doang yang mungkin, mungkin lho ya, dipake pas ada acara-acara band musik *eh, emangnya di Indonesia???* Hehehe, ngga deng. Yang saya tau sih, tiap menjelang natal, mereka bakalan bikin Christmas Market di sini. Kayaknya ini udah semacam tradisi di negara-negara Eropa (atau cuma di Jerman doang?) untuk menyelenggarakan pasar malam tiap mau natalan.

 

Christmas Market

DSCF8258 (800x534)

Oke, tadi saya kan udah nyebut Christmas Market ya. Ada baiknya dibahas sekarang karena lokasinya emang ada di Marktplatz. Jadi, saya beruntung bisa ngeliat pasar malem Natalnya orang Leipzig sini yang hari pertama pembukaannya pas di minggu terakhir saya di Leipzig.

DSCF8256 (800x533)

Kalo dibandingin ama pasar malemnya di Indonesia yang isinya korsel, komidi putar, dan tong setan? Aduh, jauh bangeeet. Ini mah jauh lebih niat bikinnya. Dari jauh-jauh hari mereka udah nyiapin ngebangun stan-stan yang semi permanen. Kalo di Indonesia palingan cuma bilik-bilik dengan dinding triplek doang, ga kokoh.

DSCF8259 (533x800)

DSCF8261 (800x533)

DSCF8269 (800x533)

DSCF8275 (800x533)

Di pasar malem ini ada banyak stan makanan, minuman, dan barang-barang yang bisa kita liat dan beli. Stan yang paling rame tentu aja stan yang ngejual Glühwein, sejenis minuman keras dengan kadar alkohol rendah dengan campuran bahan rempah-rempah yang emang khas tiap menjelang natal. Karena cuaca dingin, mungkin emang cocok banget minum minuman semacam ini, yang bisa menghangatkan badan. Karena mengandung alkohol, saya ogah nyobain. Saya cuma bisa ngebayangin rasanya yang mungkin mirip ama bandrek.

DSCF8268 (800x533)

DSCF8280 (800x534)

Ada juga yang jualan berbagai macam roti, jualan sosis, produk ikan kayak yang pernah saya beli di Volendam, Belanda. Saya sih cuma nyobain yang saya kira halal-halal aja. Saya pernah nyobain kue sus, beignet (roti dengan gula putih) yang rasanya enaaaak banget dan nagih (saya sampe ngebela-belain ke sini buat beli ini lagi keesokan harinya), dan susu jahe.

DSCF8295 (800x533)

Di stan yang ngejual susu jahe ini saya nanya, apakah gelasnya bisa saya beli? Eh, ternyata dia bilang “tentu saja”. Dan harganya juga ga terlalu mahal, normal buat sebuah gelas. Lumayan lah buat kenang-kenangan 😉

 

Jalan-jalannya bersambung ke Hidup Sebulan di Leipzig (Bagian 4 dari 5)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s