Tahun Baruan di Sushi Tei (Jakarta)

Saya suka sushi. Terutama tipe sushi modern yang udah ditambahin ini itu, bukan yang jenis sushi classic yang cuma nasi terus dikasih ikan di atasnya. Pertama kali makan sushi, probably, waktu ada yang jualan sushi pake mobil di Bandung. Namanya Sushi Boon. Saya emang udah ga inget persis rasanya, apalagi menu-menunya. Tapi yang saya inget, saya suka sama sushinya mereka. Jualan di mana ya mereka sekarang?

Ga banyak memang yang mampu membuat sushi yang enak. Yang berusaha menyajikan sushi dengan harga murah? Banyaaaak. Tapi itu jelas ga otomatis membuat sushinya enak. Sushi Tei, emang agak mahal sih, tapi rasanya emang oke. Dan pergi ke sini, buat puas makan sushi, menurut saya adalah keputusan terbaik. So far, Sushi Tei adalah resto sushi yang approvable ama saya. Eh, ada ga ya istilah approvable?

Jadi, sejak saya lagi di Jerman, saya ama Fay bikin semacam list kuliner yang mesti dimakan pas saya udah balik ke Indonesia. Listnya ga panjang sih, seinget saya cuma ada 5 atau 7 ya. Segitu panjang ga ya? Sebagian udah dicoba. Sebagian lagi belum, dan bahkan udah keburu lupa apa aja, ga ditulis sih. Dan salah satunya yang ada di list itu adalah Sushi Tei.

Jadi, hari itu adalah hari terakhir di penghujung tahun 2015. Karena saya trauma pas baca berita soal macet parah pra libur panjang natal kemaren. Padahal cuma baca beritanya doang tapi bisa trauma ya. Akhirnya, walaupun kantor saya diliburin dari jam 12 siang, saya memutuskan buat ke Bandung tanggal 1 Januari pagi. Itupun ga pake mobil travel, tapi pake kereta. Jarang-jarang saya pake kereta. Nah, malem sebelumnya, saya ama Fay memanfaatkan waktunya buat dateng Sushi Tei. Yang deket dari kantor sebenernya cabang Kelapa Gading. Tapi biar sekalian nganter Fay pulang naik KRL, akhirnya saya milih Sushi Tei yang di Kokas alias Kota Kasablanka.

Enaknya di Kokas, dibanding MKG, parkiran motornya juga luas. Abis parkir, kita sholat magrib di masjid (masjid lho ya, bukan mushola) di dalem mal. Karena magrib waktunya emang pendek, masjidnya rame banget, dan yang nyebelin, ACnya kayak yang mati, pengap. Tapi ya ga mati sih, tapi karena emang banyak banget orangnya.

Abis sholat, baru deh kita ke Sushi Tei. Ada di lantai 1 kalo ga salah. Tapi, bukan berarti kita cuma naik eskalator sekali. Biasa lah kalo di mal, ada lantai LG, UG, segala rupa. Di Sushi Tei, penuh sih. Kita waiting list. Tapi pas waiting list sebelum kita udah dipanggil, ternyata orang-orangnya lagi ga pada di tempat. Yah, rejeki emang ga ke mana ya. Jadilah kita langsung dapet tempat duduk. Tadinya saya pengen duduk di sebelah “sushi berjalan” yang sushinya muter itu loh. Kayaknya belum pernah duduk di situ. Tapi ya susah juga, sedapetnya aja deh.

Di Sushi Tei, mereka punya menu yang sangat banyak dan beragam. Ga heran, buku menunya aja gede banget ukurannya. Berikut menu-menu yang mereka sediakan.

  1. Appetizer, yang terdiri dari makanan pembuka hangat maupun dingin
  2. House Specialty, merupakan menu yang disajikan dengan resep khusus Sushi Tei
  3. Salad, walaupun merupakan makanan khas barat, di Sushi Tei saladnya berbeda
  4. Sashimi, merupakan ikan mentah yang dimakan dengan ditemani wasabi, saus soyu, dan gari (acar jahe)
  5. Nigiri Sushi, yaitu sushi klasik di mana kepalan kecil nasi yang di atasnya dikasih tuna, salmon, kepiting, dan sebagainya
  6. Gunkan Sushi, mirip seperti nigiri sushi namun di sekeliling nasi dibungkus nori sehingga mirip seperti kapal perang (kata orang Jepang, gunkan)
  7. Makimono, jenis sushi yang digulung dengan menggunakan makisu (alat penggulung sushi yang terbuat dari bambu) lalu disajikan dengan cara dipotong-potong, mirip kayak menyajikan kue bolu. Disebut juga maki sushi.
  8. Temaki, sushi berbentuk kerucut berlapis nori yang digulung dengan menggunakan tangan
  9. Yakimono, yaitu makanan-makanan yang disajikan dengan cara dibakar, biasanya di atas arang
  10. Agemono, yaitu hidangan yang digoreng dengan metode “deep-fried”, contoh yang terkenal misalnya tempura
  11. Nabemono, jenis hidangan yang disajikan dengan cooking pot, bisa daging, sayuran, seafood. Sukiyaki termasuk di dalamnya.
  12. Wanmono, disajikan dengan menggunakan mangkok. Basically, a soup!
  13. Noodles, yang macemnya juga macem-macem, ada soba, udon, dan ramen.
  14. Donmono, walaupun disajikan dengan mangkok juga, tapi bukan sup. Contohnya kayak beef bowl-nya Yoshinoya, di mana toppingnya ditaro di atas nasi.

DSCF8810 (800x533)

Ini pesenannya Fay. Takoyaki adalah makanan Jepang yang cukup terkenal di Indonesia. Bahkan cemilan ini juga udah menjamah sampe ke kaki lima. Bahannya emang ga susah, walau masaknya mesti pake kesabaran. Takoyaki terbuat dari adonan tepung yang di dalemnya bisa diisi bermacam-macam toping, bebas! Tapi karena tepungnya encer banget, biasanya masanya jadi lama. Dan mesti diputer-puter, biar ga cuma masak di satu sisi doang. Takoyaki tradisional sih isinya tako atau gurita, yang menjadi asal namanya, kayak yang disajiin Sushi Tei ini. Lalu di atasnya ditabur katsuobushi atau irisan ikan cakalang asap yang dikeringkan. Itu loh, yang warnanya coklat dan bentuknya mirip kayak serutan kayu.

DSCF8811 (800x533)

Menu kedua, yaitu Salmon Tornado Roll, masuk dalam kategori makimono. Dari namanya udah jelas kan ya, ini susi yang isinya dikasih ikan salmon. Dan ga lupa, ada norinya juga. Tuh, yang keliatan tipis-tipis berwarna gelap. Di atas sushi dikasih gorengan kentang kering yang mungkin maksudnya supaya menyerupai tornado. Sushi kayak gini, karena isiannya ga berasa, enaknya makannya dicocol pake kombinasi antara kecap yang encer dan rasanya asin banget (tamari), kecap yang lebih kental dan rasanya cenderung manis (koikuchi), wasabi, gari, atau bubuk cabe. Hati-hati ya, si tamari itu asin banget deh, jangan kebanyakan nyocol sushinya.

DSCF8813 (800x533)

Soft shell crab sushi ini pesenan saya, dan masih termasuk kategori makimono. Tau kenapa saya mesen ini? Simply karena pas baca namanya, saya jadi keinget ama enak dan renyahnya kepiting soka. Ternyata orang Jepang juga punya hidangan kepiting soka ala mereka sendiri. Penampilannya juga ga kalah menarik karena di sekeliling sushi ditaburi telur salmon. Rasanya enak. Kepitingnya kriuk-kriuk pas dimakan.

DSCF8817 (800x534)

Ini spicy haruyaki namanya, kepiting (kani) yang dicampur dengan mayones dan disajiin di atas tempurung kerang berukuran sedang. Sejak saya pertama makan, saya udah jatuh cinta ama rasanya. Enak buangeeeetttt!! Ya iya lah, soalnya mayonesnya juga banyak banget. Mayones itu kan terbuat dari kuning telur. Dan rasanya kuning telur gimana? Gurih banget kan?? Iya lah, karena kuning telur kandungan lemaknya cukup tinggi. Jadi udah jelas, jangan sering-sering ya makan spicy haruyaki. Kalorinya pasti gede banget deh.

DSCF8818 (800x533)

Yang terakhir ini, apa coba? Pernah makan ngga? Ini namanya yakitori. Pada dasarnya ini sate ayam khas Jepang yang dimasak dengan arang (sama lah kayak di kita) tapi sausnya bukan pake saus kacang tapi pake kecap khas Jepang yang disebut tare. Tare ini sendiri merupakan saus kombinasi yang bahan utamanya adalah kecap Jepang. Di sela-sela daging ayam biasanya suka dikasih daun bawang (scallion, bukan welsh onion). Ga ngerti buat apa, sama saya sih udah jelas ga saya makan. Terus, rasa sate ayamnya sendiri gimana? Rasanya….enaaak! Walau ga pake saus kacang, saya suka deh ama yakitori.

Salmon Tornado Roll IDR 42K
Takoyaki (5 pcs) IDR 32K
Jumbo Yakitori IDR 50K
Soft Shell Crab IDR 42K
Spicy Haruyaki IDR 38K

 

Sushi Tei
http://www.sushitei.co.id/
Cabang Kota Kasablanka Level 1 Unit 157 -158, Jalan Casablanca No. 88 Jakarta Selatan
Click for Google Maps

sushi tei

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s