Pusing-Pusing di Kuala Lumpur (Bagian 2 dari 3)

Baca bagian sebelumnya di Pusing-Pusing di Kuala Lumpur (Bagian 1 dari 3)

 

Little India

Sama kayak di Singapore, Kuala Lumpur juga punya daerah yang suka disebut Little India yaitu daerah Brickfields (Google Maps). Seperti yang kamu tau, penduduk Malaysia terdiri dari tiga ras utama, yaitu Melayu, Cina, dan India yang umumnya tidak terlalu berbaur satu sama lain. Itu sebabnya pemerintah Malaysia mengampanyekan “Satu Malaysia” yang berusaha menyatukan ketiganya. Tapi, sejauh yang saya liat sih, kayaknya ga terlalu berhasil. Cuma berhasil di dalam serial Upin & Ipin aja.

DSCF6931 (800x534)

Nah, daerah Brickfields disebut-sebut sebagai Little India mengingat banyaknya rumah tinggal dan toko yang dimiliki oleh orang India. Liat deh, dekorasi di pinggir jalan juga khas India. Tapi ya udah, gitu aja. Not much to see. Karena saya punya target mesti ke beberapa tempat lain setelahnya, saya ga terlalu mengeksplor area ini.

DSCF6935 (800x533)

Pagi itu, saya jalan kaki hampir 2 km ke Muzium Negara, melalui Nu Sentral dan KL Sentral. Di perjalanan, saya melewati Vivekananda Ashram (Google Maps). Kata Trip Advisor sih ini asrama sekolah yang usianya udah seratus tahun lebih. Ini cuma bisa liat dari luar doang. Bukan objek wisata juga sih.

DSCF6938 (800x533)

Yang menarik justru makanan, hahaha. Jadi pas lagi jalan, saya ngeliat satu tenda kaki lima yang menjual cemilan gorengan khas India. Yang bentuknya segitiga itu saya tau namanya, samosa atau ada juga yang nyebutnya sambosa. Isinya mirip kayak isi pastel di Indonesia. Yang lainnya saya ga tau deh namanya, asal beli aja dan ga pake banyak nanya. Btw, harap berhati-hati karena gorengannya amat sangat berminyak. Saya kena sialnya karena cemilan-cemilan itu saya taro di tas dan minyaknya nembus kertas pembungkusnya.

 

Muzium Negara

Menurut Wikipedia, bentuk bangunan Muzium Negara (Google Maps) mengambil ide dari arsitektur rumah gadang. Sayangnya, pas saya lagi ke sini, tepat di depan museum lagi ada pembangunan stasiun MRT sehingga pemandangannya jadi ga oke buat difoto. Tapi terlepas dari ketidaknyamanan yang ditimbulkan, terutama buat saya yang itungannya turis, menurut saya pembangunan banyak stasiun MRT baru di Kuala Lumpur merupakan hal yang positif.

Untuk masuk ke dalam museum, tentunya ga gratis. Tapi harganya juga ga mahal kok, cuma 5 RM saja untuk turis asing. Kerennya, mereka menggratiskan bea masuk museum untuk anak-anak hingga usia 12 dan untuk anak sekolah yang dateng dengan menggunakan seragam. Cool!

DSCF6999 (800x533)

Masuk ke dalam museum, kita akan disambut dengan satu ruangan besar dengan lantai berwarna biru yang menghubungkan empat buah ruangan. Jadi, koleksi-koleksi museum ini berada di dua buah lantai, masing-masing lantai terdiri atas dua sayap.

DSCF6975 (800x533)

Galeri A menampung koleksi “Sejarah Awal”
Galeri B menampung koleksi “Kerajaan-Kerajaan Melayu”
Galeri C berisi koleksi sejarah “Era Kolonial”
Galeri D memberikan informasi mengenai “Malaysia Kini”

DSCF6980 (533x800)

Bagian yang paling keren menurut saya sih Galeri C di mana mereka merekonstruksi cuilan benteng dan dinding pertahanan di dalem museum. Di era kolonial ini banyak pembangunan terjadi di Malaysia. Umumnya sih untuk mendukung perkebunan dan pertambangan yang dijalankan oleh warga asing. Di sini juga ada miniatur kapal keruk yang walaupun miniatur tapi ukurannya cukup gede. Kapal ini dipake buat menambang pasir di sungai terus menyaring timah yang terkandung di dalamnya. Mungkin dulu di Belitung juga ada kali ya kapal yang kayak begini.

 

Masjid Negara

DSCF7015 (800x533)

Dari Muzium Negara, saya jalan kaki lagi ke tujuan terakhir saya hari itu, sebelum pulang ke bandara, yaitu Masjid Negara atau National Mosque (Google Maps). Lumayan juga jalannya, capek. Untungnya udara Malaysia ga terlalu lembap kayak Jakarta karena lokasinya agak jauh dari tepi laut. Pas nyampe sini, saya ga masuk dan liat-liat interiornya karena emang belum waktu shalat dan lagian udah mepet ke jadwal penerbangan saya. Ya udah lah, saya ngambil fotonya dari depan aja deh. Btw, menaranya keliatan agak kabur kan? Soalnya foto ini diambil pas lagi ada kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan di Sumatera.

 

Restoran Grand Garuda Baru

DSCF7136 (800x533)

Iya, saya tau ini bukan tempat wisata. Tapi ini bagian dari pengalaman saya yang dibuang sayang. Jadi ceritanya, malem itu saya baru sampe KL. Bedanya, waktu itu saya ke KL bareng sama dua orang kantor, Pak Safrizal dan Pak Andhika. Tadinya kita udah sempet keliling-keliling ke berbagai tempat. Sempet ke Jalan Alor, tapi Pak Safrizal ama Pak Andhika kayaknya kurang berminat. Sempet dibawa ke suatu tempat juga ama sopir taksi, katanya di sana jual nasi lemak yang enak. Eh, udah tutup. Jalan lagi, nemu ada yang jualan ayam penyet. Tapi kali ini nasinya yang abis. Aje gile. Tapi di kejauhan kita ngeliat ada restoran padang, namanya Grand Garuda Baru (Google Maps).

DSCF7135 (800x533)

Saya ngambil lauknya gulai babat doang. Yang lainnya cuma sayur, kuah gulai, dan bumbu rendang. Dan alhamdulillah, rasanya enaaak! Hahaha, setelah semaleman keliling-keliling nyari makanan, walau jauh-jauh ke KL makannya nasi padang juga, tapi karena enak, bener-bener jadi penutup malam yang indah deh, kekekek…

 

Bersambung ke Pusing-Pusing di Kuala Lumpur (Bagian 3 dari 3)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s