Pusing-Pusing di Kuala Lumpur (Bagian 1 dari 3)

Bahasa Melayu emang unik. Buat yang jarang denger, bahasa Melayu ini ga jarang mengundang tawa. Misalnya ya kata pusing-pusing yang artinya jalan-jalan ini. Entah kenapa mereka memilih kata pusing-pusing untuk jalan-jalan. Padahal jalan-jalan kan asik, refreshing, dan bikin pusing kepala jadi ilang.

#Anyway, jadi bertanya-tanya ga sih, kalo pusing beneran, orang Malaysia bilangnya apa? Sakit kepala kali ya? Padahal orang Indonesia aja nganggep pusing dan sakit kepala itu berbeda.#

Tulisan saya di Kuala Lumpur ini mengombinasikan pengalaman dari beberapa kali kunjungan saya ke sini. Yang pertama, waktu transit cukup lama setelah pulang jalan-jalan dari Jepang. Kebetulan karena waktu itu kita pake Air Asia dan abis dari Jepang, pesawatnya transit dulu di Kuala Lumpur. Saya dan Gea dan Fanu menyempatkan diri naik bus dan berjalan-jalan beberapa jam di KL. Beberapa jam doang, tapi cukup efektif buat mengunjungi Menara Kembar Petronas, Central Market, dan Chinatown. Kunjungan kedua hingga keempat, waktu saya mesti beberapa kali dines di sini. Yap, saya sering banget mengombinasikan perjalanan dines dengan jalan-jalan. Dines dapet, jalan-jalannya dapet. Pesawat ama hotelnya dibayarin pula. Enak kan?

 

Bandara KLIA

Yak, bandara Kuala Lumpur International Airport (Google Maps) atau yang bahasa Malaysianya Bandar Udara Antar Bangsa Kuala Lumpur ini terletak sekitar 50 km di selatan Kuala Lumpur. Jauh banget kan? Dulunya sih bandara internasionalnya itu di daerah Subang, kayak Cengkarengnya Kuala Lumpur gitu deh. Tapi karena bandaranya dianggap ga akan mencukupi lagi buat kebutuhan di masa depan, pemerintah Malaysia lalu memutuskan buat membangun bandara baru ini yang selesai dibangun pada tahun 1998.

Bandara KLIA terdiri dari Terminal 1 atau KLIA 1 (ini yang selesainya tahun 1998) dan Terminal 2 atau KLIA 2 yang selesai dibangun tahun 2014. Beda maskapai, beda juga terminalnya. Malaysia Airlines dan Garuda Indonesia make Terminal 1, sementara Air Asia dan low cost airlines lainnya make Terminal 2.

Ada beberapa moda transportasi yang bisa kita pilih untuk mencapai kota Kuala Lumpur. Saya udah pernah nyoba semuanya. Naik bus? Pernah. Waktu tempuhnya sekitar satu jam. Naik taksi waktu tempuhnya sedikit lebih cepet sih, tapi cuma 10 menit lebih cepet doang. Yang paling cepet tentunya pake KLIA Ekspres alias kereta cepat yang cuma memakan waktu 30 sampe 40 menit doang. Kalo dari segi biaya, naik bus paling murah, cuma sekitar 10 RM sekali jalan. Kalo naik KLIA Ekspresi harga tiket one way trip-nya 55 RM. Sementara naik taksi biayanya paling mahal, bisa di atas 100 RM, tergantung jenis taksi yang dipilih. Ada taksi budget yang bentuknya sedan atau taksi eksekutif yang ukurannya lebih gede dan warnanya biru.

DSCF8937 (533x800)

DSCF6953 (800x533)

Saya pribadi sih lebih memilih naik KLIA Ekspres terus turun di KL Sentral di pusat kota (Google Maps). Keretanya nyaman banget, AC-nya dingin, cepet kayak yang saya bilang tadi, dan terutama ada wifi gratisnya. Nanti dari KL Sentral baru deh kita bisa naik monorel alias LRT, subway alias MRT, atau taksi ke tempat-tempat yang mau kita tuju. Secara keseluruhan, jadi lebih hemat waktu dan biaya juga.

Anyway, ga kayak di Jakarta, taksi di Malaysia ini memusingkan. Pemiliknya macem-macem, bisa perusahaan tapi juga bahkan bisa milik pribadi. Jadi, susah juga buat ngasih rekomendasi “naik taksi A aja, lebih bagus, recommended” di Kuala Lumpur. Ga kayak di Jakarta yang umumnya orang bakal ngerekomendasiin naik taksi Blue Bird atau Express. Terus, kadang sopir taksi di sini pun nakal. Walau di pintu setiap taksi ada stiker gede bertuliskan “This is Metered Taxi, Haggling is Prohibited”, tapi seringkali sopir taksi ga bakal pake argo dan menawarkan tarif tembak. Mirip kayak taksi nakal di Jakarta. Yah, ujung-ujungnya sih kita jadi mesti tawar menawar juga. Masalahnya, kita kan ga familiar ama pasaran tarif taksi di sana. Itulah yang bikin saya males naik taksi di Kuala Lumpur.

 

Menara Kembar Petronas

Sampe di Kuala Lumpur, objek wisata nomer wahid yang paling wajib buat dikunjungi adalah ini, Menara Kembar Petronas alias Petronas Twin Towers (Google Maps) yang berada di daerah Kuala Lumpur City Center (KLCC).

DSCF2203 (800x534)

Kamu bisa ngeliat pemandangan kota Kuala Lumpur dari jembatan yang menghubungkan kedua gedung di lantai 41 dan 42 atau dari observation deck di lantai 86. Tiketnya bisa dibeli langsung di lokasi atau kalo mau aman ya beli online karena tiket yang dijual tiap harinya terbatas, juga diatur jam-jam berapanya. Harga tiketnya per Januari 2016 adalah 84.8 RM buat pengunjung dewasa.

DSCF2208 (533x800)

Tapiiii, kebanyakan orang mungkin akan berpikir dua kali buat naik Menara Petronas. Selain harganya yang mahal, bisa berfoto-foto dengan latar kedua gedung yang emang impresif ini juga rasanya lebih menarik. Yak, termasuk saya juga yang berpikir seperti itu. Lagian area di depannya juga sebenernya cukup menarik. Ada taman dan air mancur yang panjang. Orang-orang banyak berkumpul di sekitar air beberapa spot foto yang emang oke buat ngambil pemandangan berlatarkan gedung kembar ini. Beberapa spot strategis untuk berfoto bahkan sudah ditandai dengan papan penanda bertuliskan “Tempat Foto”.

 

Dataran Merdeka

Mungkin kepopulerannya sama dengan lapangan Monas ya. Tempat ini menjadi bersejarah karena di sini pada 31 Agustus 1957 bendera Malaysia berkibar untuk yang pertama kalinya, menggantikan bendera Union Jack-nya Kerajaan Inggris. Tanggal tersebut hingga saat ini dikenang sebagai hari Pengisytirahan Kemerdekaan Tanah Melayu.

DSCF6923 (800x533)

Di depan Dataran Merdeka (Google Maps) berdiri salah satu bangunan terkenal di Kuala Lumpur, Sultan Abdul Samad Building (Google Maps). Terkenal karena arsitekturnya yang menarik. Sultan Abdul Samad sendiri adalah nama Sultan Selangor yang menjabat pada saat bangunan ini dibangun antara tahun 1894 hingga 1897. Sekarang, bangunannya digunakan sebagai kantor Kementerian Penerangan, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia.

Kalo kamu mau ke sini naik MRT, kamu bisa turun di stasiun Masjid Jamek (Google Maps). Dari sini, kamu bisa jalan sejauh 650 meter saja, ke arah selatan melalui Jalan Leboh Ampang dan Jalan Leboh Pasar Besar. Di perjalanan, kamu akan melalui sebuah jembatan di mana kamu bisa melihat Masjid Jamek. Masjid ini berdiri tepat di pertemuan antara Sungai Kelang dan Sungai Gombak. Konon, di daerah pertemuan dua sungai ini dulunya terdapat perkampungan yang menjadi cikal bakal Kuala Lumpur. Kuala sendiri berarti muara, yang mengacu pada permuaraan kedua sungai ini. Kalo Lumpur? Maksudnya ya ke kedua sungai ini, yang warna airnya keruh seperti lumpur.

 

Central Market

DSCF2229 (800x534)

Dari Dataran Merdeka, kalo kamu berjalan sekitar 400 meter ke arah Tenggara, kamu akan sampe di Central Market (Google Maps) atau Pasar Seni. Iya, iya, saya juga tau terjemahannya ga mecing. Tapi kenyataannya emang tempat ini bernama Central Market, tulisannya bisa kamu liat di atas pintu masuk utamanya. Dan kenyataan lainnya adalah, Central Market memang pasar seni. Di sini dijual berbagai macam benda seni, souvenir, dan pakaian. Mengingatkan saya pada toko Mirota di Jogja.

DSCF7140 (800x533)

DSCF2228 (800x534)

Tapi ga cuma itu aja, di sini juga kamu bisa beli oleh-oleh makanan.Waktu itu saya beli oleh-oleh makanan dengan harga yang murah. Yah, sesuai budget lah. Soalnya saya ga bawa banyak duit.

Abis keliling-keliling, kalo kamu laper butuh asupan makanan, di lantai duanya ada food court. Kalopun kamu ga pengen makan di situ, di samping Central Market ada yang namanya Kasturi Walk. Di sini juga ada terdapat kedai-kedai kecil yang menjual souvenir dan makanan ringan.

 

Petaling Street alias Chinatown

DSCF2216 (800x533)

Tempat lain yang wajib dikunjungi adalah Chinatown di Petaling Street (Google Maps). Lokasinya deket banget sama Central Market, sepelemparan batu lah. Jangan yang gede-gede batunya, ntar kalo kena orang bisa berabe. Yang kecil aja. Nah, iya, yang itu aja. Sip!

DSCF2219 (533x800)

Tempat ini paling menarik buat didatengin di malam hari. Kenapa mesti malam hari? Kamu tau sendiri kan, dekorasi khas Chinatown seringkali melibatkan lentera-lentera yang berwarna merah. Kalo kamu datengnya siang-siang, lampu-lampunya pada ga nyala dong.

DSCF2222 (800x533)

Tempat ini mungkin lebih mirip Pasar Baru-nya Jakarta kali ya, di mana ada penjaja berbagai macam barang campur aduk. Yang jual makanan juga ada. Tapi yaaa, karena ini Chinatown, restorannya pun umumnya menjual chinese food sehingga kehalalannya diragukan. Yang lebih meyakinkan palingan minuman-minuman kayak air mata kucing, air tebu (sugarcane), jus-jus buah, dan makanan-makanan ringan kayak kueh-kuehan.

DSCF2224 (800x533)

Kalo kamu mau naik LRT, kamu bisa naik dan turun di stasiun Pasar Seni yang ada di sebelah barat Chinatown.

 

Bersambung ke Pusing-Pusing di Kuala Lumpur (Bagian 2 dari 3)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s