Berkunjung ke Museum Sonobudoyo (Jogja)

Museum Sonobudoyo ini kayak semacam Museum Gajah-nya Jogja deh. Berbagai macam benda peninggalan warisan budaya yang meliputi koleksi geologi, biologi, etnografi, arkeologi, historika, numismatik, filologi, keramologi, seni rupa, teknologi, dan beragam senjata ada di sini. Hampir keseluruhan benda koleksinya merupakan hasil sumbangan dari Java Instituut. Organisasi ini merupakan yayasan yang meneliti kebudayaan di Jawa, Bali, dan Lombok. Makanya ga heran kalo koleksi Museum Sonobudoyo ini meliputi ketiga wilayah tersebut. Bangunan museum sendiri menggunakan tanah bekas kantor polisi hadiah dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan mulai dibangun menjadi sebuah museum pada tahun 1934 dan diresmikan setahun kemudian.

Ga sulit kok untuk mencapai museum ini. Letaknya di Jalan Trikora No. 6 (itu tulisan di brosur dan papan namanya). Google Maps menulis alamatnya dengan Jalan Panguranan No. 6. Gampangnya sih, museum ini terletak di sisi jalan Alun-Alun Utara. Kalo kamu dateng dari arah Jalan Malioboro, pas udah sampe di Titik 0 KM itu, yang ada gedung BNI-nya, kamu jalan terus aja sampe mentok ke alun-alun, terus belok kanan deh. Nanti museumnya ada di sebelah kanan. Papan namanya ketutupan sama batang pohon yang gede. Positioning papan namanya aneh memang.

DSCF8737 (800x533)

Oiya, sebelum lebih jauh lagi, Museum Sonobudoyo ternyata ada di dua lokasi di Jogja. Loh, kok bisaaaa??? Saya juga ga paham. Tapi yang saya kunjungi ini adalah Museum Sonobudoyo Unit I. Walau di papan namanya ga tertera tulisan “Unit I” sama sekali. Unit ini barangkali yang paling banyak diketahui orang dan paling deket dengan keramaian. Sementara Unit II-nya berada di Jalan Wijilan. Yap, ingatan kamu ga salah. Di jalan yang terkenal karena sentra gudegnya itu. Kalo kata Wikipedia, di Unit 2 ini dipamerkan koleksi flora dan fauna, sejarah dan budaya, kesenian, dan mata pencaharian. Sayang sekali saya baru tau ada Unit 2-nya ini pas lagi ke sini beli gudeg, di pagi hari pas udah mau pulang banget. Yowes lah. Next time, insya Allah.

DSCF8741 (800x533)

So, apakah museumnya rame banget pengunjungnya? Yoiii, rame banget deh kayak di pasar. Ngga deng, itu sarkasme. Sejak kapan sih museum rame. Dengan pengecualian beberapa museum tertentu yang terkenal kayak Museum Gajah dan Museum Fatahillah di Jakarta atau Museum Geologi di Bandung, museum kita umumnya sepi dari pengunjung. Cuma pengunjung-pengunjung tertentu aja yang kepikiran buat mengunjungi museum. Yeah, dan saya salah satunya. Pokoknya kalo ke mana-mana, ke luar negeri sekalipun, saya merasa wajib mengunjungi museumnya.

DSCF8744 (533x800)

Pas baru masuk pintu museum, di sebelah kirinya ada meja penjualan tiket. Tiket masuknya, kalo ngeliat brosurnya sih mestinya 3 ribu untuk perorangan dewasa. Tapi saya malah dikasih tiket perorangan anak-anak yang bayarnya cuma 2500 doang. Ih, aneh banget nih museum. Tapi, yowes lah. Tiketnya kan malah jadi lebih murah. Nah, biaya tiketnya ini udah termasuk ama guide museum. Guide-nya resmi kok, mereka pake nametag yang dikalungin di lehernya. Pas saya pulang, bahkan guide-nya ada yang nge-guide turis dari Jerman pake bahasa Inggris. Ih, mantaaaap!

DSCF8746 (800x533)

Guide-nya saya sendiri kayaknya masih muda gitu, mungkin 20an awal. Pas saya ajak bercanda juga masih cukup bisa mengimbangi. Pengetahuannya mengenai berbagai benda di museum pun cukup mumpuni. Terbukti pas saya ngasih pertanyaan-pertanyaan yang sebenernya setengah iseng setengah ngasal, dia masih bisa jawab dong. Kereeen. Selain itu, wawasan pengetahuan di luar perihal kemuseuman pun dia tau. Gahoooolll…

DSCF8750 (1024x684)

Jadi, guide kita nemenin kita melalui semua ruangan di museum. Jadi, museum ini terbagi menjadi beberapa ruangan, di antaranya adalah

  1. Ruang Pengenalan
  2. Ruang Prasejarah Jawa
  3. Ruang Klasik dan Peninggalan Islam
  4. Ruang Batik
  5. Ruang Wayang
  6. Ruang Topeng
  7. Ruang Jawa Tengah
  8. Ruang Emas
  9. Ruang Keris
  10. Ruang Permainan Anak
  11. Ruang Bali

Kalo ngeliat namanya udah cukup jelas lah ya peruntukan ruangan-ruangan itu. Hanya saja, untuk ruang emas, di mana dipamerkan benda-benda peninggalan yang terbuat dari logam, khusus untuk benda yang terbuat dari emas tidak dipamerkan demi menghindari kemalingan yang pernah terjadi.

DSCF8751 (800x533)

Keluar dari ruang emas menuju ruang keris, kita dapat melihat candi bentar di sebelah kanan. Candi bentar adalah sebutan bagi bangunan gapura berbentuk dua bangunan serupa dan sebangun tetapi merupakan simetri cermin yang membatasi sisi kiri dan kanan pintu masuk.

DSCF8753 (800x533)

Mengingat cuaca Jogja yang agak panas, sebenernya sih agak disayangkan kalo AC di beberapa ruangan tidak menyala. Seinget saya nih, baru pas kita nyampe di ruangan topeng yang AC-nya nyala. Jadi inget pas saya di Singapura, pas bulan puasa dan cuacanya panaaas banget, saya pernah sengaja masuk museum di Chinatown demi ngedapetin AC. Eh sialnya, AC yang nyala cuma di setengah ruangan-ruangan terakhir.

DSCF8756 (800x533)

 

Waktu Buka
Selasa-Kamis, Sabtu-Minggu : 08.00-15.30
Jumat : 08.00-14.00
Senin dan Hari Libur Nasional : Tutup

Harga Tiket Masuk
Perorangan Dewasa IDR 3K
Rombongan Dewasa IDR 2.5K
Perorangan Anak-Anak IDR 2.5K
Rombongan Anak-Anak IDR 2K
Turis Mancanegara IDR 5K

 

Museum Sonobudoyo (Unit I)
Jalan Trikora No. 6 Jogjakarta
Click for Google Maps

sonobudoyo

Iklan

2 pemikiran pada “Berkunjung ke Museum Sonobudoyo (Jogja)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s