Keliling-Keliling di Belanda (Bagian 1 dari 2)

Kenapa saya milih ke Belanda? Bukan ke Perancis, atau ke Italia, atau ke Swiss? Simple. Karena di Belanda ada temen saya, namanya Jejey. Dia kuliah di Delft dan tinggal di Eindhoven. Loh, kok tinggalnya malah di Eindhoven bukan di Delft? Hmmm, karena kemaren dia baru nikah bulan Juli. Loh, hubungannya? Naaah, si Jejey ketemu ama istrinya ini di Belanda juga. Namanya Mega. Bu Mega ini kebetulan kuliahnya di Eindhoven, makanya Jejey jadi tinggal di Eindhoven. Info yang ga penting ya? Hehehe… Pokoknya intinya, kalo saya ke Belanda, jadi ada temen buat jalan-jalan. Lumayan laaah, bisa jadi guide gratis dan juga jadi kuli foto. Bosen selfie pake Xiaomi Yi melulu. Pengen hasil foto yang lebih berkualitas, wkwkwk…

Alasan lainnya, negara-negara kayak Perancis atau Italia juga rasanya kejauhan. Butuh waktu lama untuk mencapai dua tempat tadi, kalo ga pengen naik pesawat. Saya sih maunya yang hemat-hemat aja, makanya juga saya ke Belanda naik Flixbus lagi. Semacam nagih, soalnya murah sih, hehehe. Saya berangkat dari Leipzig hari Jumat jam 10 malem dan sampe di Stasiun Sloterdijk Amsterdam (Google Maps) hari Sabtu jam 7 pagi. Walaupun lumayan capek, tapi dengan begitu, saya bisa menghemat waktu perjalanan dan juga biaya sewa kamar untuk bermalam.

Dan ngomong-ngomong soal biaya sewa kamar, pas saya lagi nyari-nyari tempat nginep di Amsterdam pake situs Agoda dan Booking.com, hampir ga ada kamar yang harganya di bawah 60 Euro. Kalopun ada, udah full atau lokasinya jauh dari pusat kota Amsterdam. Wow! Segini tingginyakah biaya hidup di Amsterdam? Melebihi biaya hidup di Leipzig dan apalagi Berlin. Di Berlin aja saya masih bisa dapet kamar backpacker (yang sekamar rame-rame) seharga 15 Euro doang. Akhirnya saya beralih ke Airbnb. Dapet sih. Tapi tempat paling oke yang bisa saya peroleh paling murah pun biaya sewanya 58 Euro semalam. Ya sudahlah, masak mau ngegembel. Ntar jadi kayak gadis korek api, mati kedinginan di tepi jalan.

DSCF8002 (1024x683)

Sesampainya di Stasiun Sloterdijk, matahari belom terbit dan hujan gerimis. Yah, perasaan ga enak nih. Semoga aja ga hujan sepanjang hari. Di dalem stasiun, beruntung saya nemu wifi gratisan di deket Starbucks, tanpa perlu masukin password apa-apa. Lucky. Soalnya kartu SIM saya masih pake Vodafone Jerman. Saya belum mutusin apakah mau beli kartu SIM Belanda atau ngga. Soalnya nanggung sih, kan bakalan cuma dua hari doang di Belanda. Dan ada guide-nya, saya ga perlu buka-buka Google Maps.

DSCF8023 (1024x683)

Abis nelepon cewek dan nelepon Jejey, saya terus pergi ke mesin penjual tiket. Ada dua mesin penjual tiket, yang sebelah kiri ngejual tiket buat trem, bus, dan metro (GVB), sementara mesin tiket yang sebelah kanan ngejual tiket kereta (NS). Saya ga akan bilang “kereta api” soalnya keretanya pake listrik. Saya terus ke mesin yang sebelah kiri dan beli tiket satu hari untuk wilayah Amsterdam Region 1 seharga 13.5 Euro. Kenapa ga beli tiket dalem kota aja? Soalnya siangnya saya berencana pergi ke Volendam dan tiket ini mencakup tempat itu juga. Volendam? Tempat apaan sih itu? Kamu ga tau? Ntar deeh saya ceritain.

DSCF8196 (1024x683)

Dari Sloterdijk saya naik bus dan turun di halte depan Station Amsterdam Centraal (Google Maps). Sambil nungguin Jejey yang katanya baru bisa sampe jam 9 seperempat, saya memanfaatkannya dengan berfoto-foto ria di depan stasiun. Padahal lagi rada gerimis plus dingin banget kan jadinya. Tapi saya cuek aja dah.

DSCF8029 (1024x683)

Pagi itu, saya udah ngajakin Jejey buat jalan-jalan di Amsterdam. Lagi-lagi menggunakan jasa free tour dari Sandemans. Sebelum berangkat ke meeting point tour di seberang Royal Palace (dan kali ini ga boleh telat lagi kayak waktu di Berlin!), kita nyempetin makan dulu di kedai kebap di stasiun. Kita beli kapsalon. Kata Jejey, ini salah satu makanan khas di kedai kebap Belanda. Iya sih kayaknya, soalnya kalo di Jerman kayaknya ga ada nih menu kapsalon. Tapi btw, saya menyesal minta saos cabenya ditambah karena asin bangeeeet! Pokoknya kalo kamu ke Jerman atau Eropa hati-hati ya kalo minta nambah saos sambel di kedai kebap. Sambelnya asin!

DSCF8033 (1024x683)

Di meeting point tour, di Dam Square (Google Maps), udah berkumpul beberapa orang yang akan ikutan tour. Karena masih ada sedikit waktu, saya minta tolong Jejey buat moto saya. Yak, ini tugas pertamanya yang membanggakan sebagai juru foto saya. Yang di atas adalah foto saya di depan Royal Palace, yang di bawah ini di depan National Monument untuk mengenang korban-korban Perang Dunia Kedua. Keduanya ada di Dam Square.

Pemandu tour kita namanya Julian Smith dan dia berasal dari Australia. Walau masih muda, dia memelihara kumis yang mampu membuat siapapun geli melihatnya. Kayak kumis sheriff gitu, walau belum terlalu tebel. Dan berbeda dengan pemandu yang di Berlin, bahasa Inggrisnya lebih mudah didengar. Dan dia juga cukup lucu dan menghibur.

DSCF8042 (683x1024)

Tempat pertama yang kita datengin adalah De Oude Kerk atau The Old Church (Google Maps). Gereja ini merupakan salah satu gereja tertua di Amsterdam. Uniknya, gereja ini juga berada di daerah Red Light District. Ow, pernahkah kamu mendengar nama tempat ini? Jadi, daerah ini adalah daerah prostitusi yang udah terkenal di seantero Eropa, bahkan dunia. Kata Julian Smith, Amsterdam ini kan kota bandar dan pelabuhan, banyak pelaut yang setelah mauk-mabukan lalu mencari “hiburan” di sini. Keesokan paginya, para pelaut ini bisa insaf dan dateng ke gereja ini, melakukan pengakuan dosa dan membayar sejumlah uang. Dan voila, dosa Anda bisa dimaafkan!

DSCF8049 (1024x684)

Sambil berjalan mengikuti mas Julian, saya kadang nyempet2in foto kalo ada pemandangan yang oke. To be honest, pemandangannya mirip sih di mana-mana. Bagian kota tua Amsterdam ini mirip-mirip Venesia di Italia, kota yang dikelilingi oleh kanal-kanal.

DSCF8057 (683x1024)

Tempat berikutnya yang kita lewatin adalah De Waag atau Weigh House (Google Maps), berlokasi di Nieuwmarkt atau New Market. Bangunan ini tadinya berfungsi sebagai gerbang kota dan merupakan bagian dari benteng kota. Pada tahun 1617 bangunan ini menjadi weigh house. Sejak saat itu, bangunan ini sudah mengalami berbagai perubahan fungsi dan sekarang dia dijadiin restoran.

DSCF8068 (683x1024)

Perjalanan dilanjutkan ke rumahnya Rembrandt yang sekarang udah jadi museum (Google Maps). Museum ini kebetulan juga berada di daerah yang bernama Jewish Quarter. Menurut cerita, kaum Yahudi pertama kali dateng ke Amsterdam sekitar tahun 1600an dan hidup damai saling berdampingan bersama penduduk asli hingga masa pendudukan Nazi. Saat itu, penduduk Yahudi udah mencapai 10% populasi Amsterdam dan banyak di antara mereka yang ditangkap dan dimusnahkan di kamp-kamp konsentrasi.

DSCF8076 (1024x683)

Dari Museum Het Rembrandthuis, kita jalan lagi ke sebuah bangunan yang mestinya sangat bersejarah buat orang Indonesia. Ini adalah bangunan yang pernah menjadi kantor pusat VOC. Fakta menariknya adalah, kalo disesuaikan dengan inflasi di masa sekarang (menyesuaikan dengan inflasi), VOC merupakan perusahaan terkaya sepanjang masa, lho! Kalo kata si Julian, kekayaannya saat itu kira-kira sama dengan kekayaan Google dan Apple, digabung, masih dikali enam pula. Bayangin! Dan jangan lupa, sebagian kekayaan VOC itu datengnya dari Indonesia. Maka ga heran kalo Belanda ini udah semestinya berterima kasih ama negara kita.

DSCF8082 (682x1024)

DSCF8084 (1024x683)

Dari sini, kita jalan lagi ngelewatin jalan-jalan besar dan bahkan lorong-lorong sempit (tapi ga sesempit gang di perkotaan di Indonesia sih), sampe saya bingung deh kita ini lagi di mana, hingga sampe di suatu tempat yang namanya Begijnhof (Google Maps). Tempat ini amat sangat tenang lho, aneh ya. Padahal sejenak tadi, kita masih berada di antara suasana hiruk pikuk kota Amsterdam. Sebagian besar bangunan yang ada di sini merupakan tempat tinggal, tapi di tengah-tengahnya ada gereja “English Reformed Church”. Selain itu, di sini juga ada rumah kayu tertua di Amsterdam.

DSCF8096 (1024x683)

Perjalanan bersama Sandemans Tour berakhir di Westerkerk atau Western Church (Google Maps) di Jordaan District. Di deketnya ada antrian orang yang ga jelas banget mau ke mana. Kita baru ngeuh bahwa itu antrian mau masuk ke Museum Anne Frank (Google Maps) pas dikasih tau ama si Julian. Dih, males banget deh. Di penghujung tour, ternyata tour-nya ga free-free amat soalnya si Julian bilang “silakan ngasih tip seikhlasnya”. Jiaaaahhh… Ya udaaah, beneran seikhlasnya lho yaaa *sambil ngasih Euro recehan*

DSCF8101 (1024x683)

Dari Jordaan District, kita naik trem ke Centraal Station. Jejey sibuk dengan hape Androidnya, ngecek jadwal keberangkatan ke Volendam (Google Maps). Sementara saya santai-santai aja. Pokoknya manut aja sama guide. Bus yang kita naiki nomernya 316. Ga banyak yang naik bus. Kita terus duduk di barisan agak belakang biar bisa solat dalam keadaan duduk tanpa menarik terlalu banyak perhatian. Perjalanan ke Volendam cuma memakan waktu setengah jam saja. Jaraknya emang ga terlalu jauh kok, 22 km-an doang.

DSCF8105 (1024x683)

DSCF8106 (1024x684)

Baruuu aja jalan sebentar di Volendam, saya udah laper mata buat ngebeli makanan yang satu ini, Oliebollen dan Krentenbollen (atau Oliebol dan Krentenbol dalam bentuk singular-nya), alias donatnya orang Belanda yang biasanya ditabur gula putih (powdered sugar). Oliebollen rotinya polos sementara Krentenbollen ada isi kismisnya. Harganya sama, satunya 0.8 Euro. Saya terus beli masing-masing satu. Jangan kebanyakan, ntar kan masih mau makan kulineran lain di sini. Yang Oliebol masih anget dan enak, tapi sayang Krentenbolnya dingin.

Di perjalanan ke tempat yang dituju, kita ngelewatin pasar. Jangan bayangin pasarnya becek yah. Ini mah pasarnya lebih mirip kayak pameran, kios-kiosnya terbuat dari stand non permanen. Jualannya juga macem-macem. Yang menarik perhatian adalah satu kios yang menjual bumbu-bumbu masakan khas Indonesia kayak ayam pedas, sayur lodeh, babi kecap (ini bumbunya mengandung babi apa gimana nih?), sate manis, rujak, dan masih banyak lagi. Wow! Kayaknya ini masakan kegemaran orang-orang Belanda yang udah pada tuir. Mengenang masa kecil mereka dulu waktu masih hidup di Hindia Belanda.

DSCF8110 (1024x683)

Pas lagi nerusin jalan, ada satu toko yang menjual kueh yang keliatannya enaaaak. Namanya Baltus Volendam. Eh, itu nama tokonya, bukan nama kuehnya. Nama kuehnya saya ga tau, tapi mengingatkan saya pada traditional egg tart yang pernah saya beli di Jakarta. Dan nyatanya emang kuehnya enaaaak. Mumpung harganya ga mahal, pas pulang dari Volendam saya beli lagi tiga buah. Orang-orang Eropa ini emang jago kalo urusan bikin kueh-kuehan….

DSCF8114 (1024x683)

DSCF8111 (1024x683)

DSCF8113 (1024x683)

Nah, ini dia makanan khas Belanda yang kita incer di Volendam. Namanya Kibbeling, yang terbuat dari ikan herring. Sebenernya sih Kibbeling yang asli disajikan tanpa goreng tepung. Tapi kata Jejey, nanti saya takutnya ga suka, soalnya bau anyir, mending beli yang digoreng tepung. Saya nurut aja deh, karena harganya lumayan (kalo dalam rupiah), kalo ga suka kan berabe. Mending beli yang lebih pasti-pasti aja. Selain ikan Herring, kita juga beli jenis ikan yang lain, lupa namanya. Tapi pokoknya dua-duanya enaaaak! Apalagi di kedai ini secara ga disangka-sangka nyediain sambel ABC! Wow, terharu….

DSCF8115 (1024x683)

Beres makan, kita jalan-jalan lagi, liat-liat suasana kota Volendam. Saya iseng berfoto sama patung perunggu ini. Mestinya di kota-kota besar di Indonesia juga disediain instalasi-instalasi seni kayak gini di sudut-sudut kota. Tapi kayaknya level artistik kita belom nyampe. Dan mungkin juga karena tingkat vandalisme yang masih tinggi. Kalo ada yang kayak beginian pasti deh dirusak.

DSCF8127 (1024x387)

Naaah, jadi yah, Volendam ini terkenal dengan studio fotonya, di mana kita bisa memakai kostum pakaian khas Belanda. Dan seinget saya sih ga banyak, cuma ada empat atau lima studio. Tapi yang ini kayaknya yang paling rame, mungkin karena yang ini yang paling pertama ditemuin kalo kita menyusuri jalan utama. Nah, biasanya nih yang ke sini sekeluarga atau suami istri. Si Jejey ternyata udah janjian ama Bu Mega buat berfoto di sini. Biayanya kalo ga salah seorangnya 9 Euro. Makin banyak jumlah orangnya, bisa makin murah. Saya? Ah, saya males difoto ah kalo sendirian doang. Nanti aja ke sini lagi sama istri 😛

DSCF8122 (1024x683)

DSCF8124 (683x1024)

Sambil nungguin Jejey dan istrinya berfoto, saya masuk ke toko souvenir di sebelahnya. Dan emang bener sih kata Jejey, kalo mau beli souvenir mendingan di Volendam aja. Harganya jauh lebih murah daripada kalo beli di Amsterdam. Selain itu, toko inipun jualannya lengkap. Saya akhirnya memborong beberapa souvenir titipan keluarga saya. Mamah nitip hiasan windmill dan pajangan minaitur rumah khas Amsterdam. Ferdi mau beli gelas. Saya mah beli magnet kulkas aja deh, tapi bukan saya da ga punya kulkas. Buat cadangan oleh-oleh.

DSCF8129 (1024x682)

DSCF8130 (1024x683)

Selain terkenal dengan studio fotonya, Volendam juga terkenal sebagai produsen keju. Eh, iya ga sih? Soalnya perasaan cuma ada satu toko keju yang ada di sini, lengkap dengan museum kecilnya. Namanya Cheese Factory Volendam (Google Maps). Keju yang dijual di siniada macem-macem jenis dan harganya. Dan okenya lagi, ada sampelnya. Saya nyicipin hampir semuanya, huahahaha… *ga tau malu* *ujung-ujungnya ga beli*

Di jalan balik ke halte bus, saya nemuin satu toko telekomunikasi yang kayaknya ngejual kartu SIM. Akhirnya saya memutuskan untuk beli, daripada ngerepotin Jejey buat tethering dan ngabisin pulsanya. Inceran saya adalah paket internet dari provider bernama Lebara. Soalnya paket internetnya murah banget, 500 MB cuma 5 Euro doang. Kartu SIM-nya? Gratisss!!

DSCF8156 (1024x683)

Pulang dari Volendam, kita masih nyempetin pergi ke tulisan “I Amsterdam” (Google Maps) yang terkenal itu. Lokasinya di depan Rijksmuseum (Google Maps). Padahal udah malem dan dingin banget, tapi Jejey masih nyempetin ngajak saya ke sana. Jadi terharu. Dia sangat menghayati sekali perannya sebagai guide…. *applause*

Lokasinya emang oke sih buat difoto. Tapi kekurangannya sih ada dua, saya datengnya udah gelap. Dan tempat ini udah terlalu mainstream banget. Jadinya susah berfoto yang bisa keliatan semua tulisannya tanpa kehalangan orang sama sekali.

 

Bersambung ke Keliling-Keliling di Belanda (Bagian 2 dari 2)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s