Dresden, Florence of The Elbe (Bagian 2 dari 2)

Belum baca bagian pertamanya? Baca dulu dong di Dresden, Florence At the Elbe (Bagian 2 dari 2)

 

Abis shalat, saya naik trem lagi ke halte Theaterplatz. Kok ke sono lagi? Lha iya, wong objek wisatanya masih di situ-situ juga. Saya mau nerusin jalan-jalan ke Hofkirche (Google Maps) yang sebelumnya sempet saya sebut-sebut. Gereja ini dibangun pada masa Augustus II, katanya sih buat mengimbangi keberadaan gereja Frauenkirche. Loh, maksudnya? Iya, jadi Hofkirche ini gereja Katolik, sementara si Frauenkirche itu gereja Protestan.

DSCF7584 (683x1024)

Menara gereja ini tingginya mencapai 83 meter. Di sekeliling atapnya dihiasi oleh 78 patung tokoh-tokoh alkitab maupun tokoh-tokoh bersejarah yang tingginya antara 3 hingga 10 meter.

DSCF7590 (1024x683)

DSCF7601 (1024x683)

Di bagian dalem gereja, ada organ yang katanya merupakan karya terakhir dari pembuat organ terkenal, Gottfried Silbermann. Konon, jantung Augustus II dikuburkan di dalam gereja, sementara tubuhnya dimakamkan di Krakow, Polandia. Hiy, ngeri amat. Saya jadi inget kapten Davy Jones di film Pirates of the Caribbean Dead Man’s Chest yang mengunci jantungnya di dalem sebuah peti.

DSCF7622 (1024x684)

Abis dari Hofkirche, saya melanjutkan perjalanan ke Grünes Gewölbe (Google Maps) atau Green Vault. Green Vault yang merupakan salah satu museum tertua di dunia ini menyimpan berbagai macam karya seni bernilai tinggi. Tapiiii, saya ga masuk. Soalnya tiketnya mahal, 12 Euro. Karena merasa boros amat kalo dua kali masuk museum, dan takut kelamaan juga di dalem, akhirnya saya memutuskan ga jadi masuk. Padahal kayaknya museum ini lebih menarik daripada Gemäldegalerie Alte Meister yang isinya cuma lukisan. Akhirnya, saya malah makan siang deh. Tergoda ama kue-kue manis yang terpajang di restoran Emil Reimann di Schlossstrasse. Ceritanya edisi tamak, nyobain dua kue sekaligus. Harga Pfannkuchen mit Klar (yang sebelah kiri) 0.85 Euro, sementara Quark-Streusel-Plund (yang kanan) 2.09 Euro. Masih normal lah harganya. Minumnya juga bisa ga usah beli kalo kamu udah bawa sendiri. Dan dengan bawa sendiri, kamu juga bisa lebih hemat. Soalnya air mineral harganya lumayan mahhhaaal. Bisa 2 Euro sendiri.

DSCF7628 (1024x683)

Abis makan, saya ngelanjutin itinerary saya melewati Fürstenzug atau Procession of Princes (Google Maps), merupakan dinding mural berukuran besar yang menggambarkan prosesi penguasa Saxony. Dengan tinggi mencapai 10.5 meter dan panjang 102 meter, mural yang terbuat dari porselen ini merupakan karya seni porselen terbesar di dunia. Dalam muralnya sendiri terdapat lukisan 35 margrave, elector, dukes dan raja yang berkuasa dari 1127 hingga 1904. Di seberang mural ini ada beberapa kedai yang menjual cinderamata khas Dresden, kayak buku wisata, poster si mural, gantungan kunci, magnet kulkas, kartu pos, dan sebagainya. Saya beli gambar pemandangan sungai Elbe seukuran kartu pos.

DSCF7648 (1024x683)

Objek wisata berikutnya adalah Brühlsche Terrasse (Google Maps) atau Brühl’s Terrace. Tadinya si teras ini adalah bagian dari tembok kota sebelum diubah menjadi teras. Teras ini sendiri memanjang hingga Brühl’s Garden di timur. Saking indahnya pemandangan dari teras ini, Goethe sampe menjulukinya Balcony of Europe.

DSCF7651 (1024x683)

Tempatnya emang oke banget buat duduk-duduk karena dilengkapi dengan puluhan kursi yang menghadap ke arah Sungai Elbe. Berlama-lama duduk di sini, sambil makan bekel nasi uduk kayaknya oke banget dah…

DSCF7642 (3200x1080)

Ini panorama Sungai Elbe yang saya ambil dari atas Brühl’s Terrace. Tampak dua buah kapal yang sedang berlabuh. Adem banget kan pemandangannya? Bikin betah buat berlama-lama.

DSCF7656 (1024x683)

Di sini saya minta tolong difotoin ama seorang cowok yang lagi jalan-jalan ama cewek cantik. Setelah difoto berkali-kali dengan latar yang berbeda, dia nanya saya dari mana. Orangnya ramah, namanya Rodrigo. Saya bilang saya dari Indonesia. Dia bilang dia berasal dari Brazil tapi lagi kuliah di Dublin dan lagi mau jalan-jalan keliling Eropa bareng ama cewek yang ternyata adalah istrinya.

DSCF7639 (1024x683)

Perjalanan saya lanjutkan ke Frauenkirche melalui Münzgasse (Google Maps). Di mulut jalan ada penyanyi jalanan, namanya Mr. Campfire, lagi ngamen. Ngamennya niat, bawa peralatan musiknya lengkap. Banyak yang nonton sambil minum bir dan makan hotdog yang dijual di kedai ga jauh dari situ.

DSCF7663 (1024x684)

Di sekitaran sini juga banyak yang menawarkan jasa naik “delman”. Saya ga tau berapa tarif atau ke mana aja rutenya, ga mencoba bertanya juga. Karena kayaknya ga murah. Tapi yang unik adalah ukuran kudanya yang gede. Mungkin karena orang Eropa badannya gede-gede makanya kudanya juga mesti gede. Delmannya juga. Gede.

DSCF7671 (683x1024)

Frauenkirche (Google Maps) atau Church of Our Lady merupakan gereja yang monumental. Ketinggian menara loncengnya aja bahkan mencapai 95 meter, melebihi Hofkirche. Kebayang ga sih tingginya? Monas aja tingginya 132 meter lho. Dan itupun baru dibangun tahun 1961 selama 14 tahun. Sementara Frauenkirche dibangun pada tahun 1726 hanya dalam 12 tahun saja.

DSCF7668 (683x1024)

DSCF7667 (1024x683)

Di dalem gereja sebenernya ada larangan memotret tapi saya curi-curi deh. Sayang juga kalo ga ada fotonya, soalnya menurut saya lebih bagus daripada Hofkirche. Bagian kubahnya dihiasi dengan lukisan-lukisan yang indah bernuansa keemasan. Keren ya, kesannya agung gitu.

DSCF7676 (1024x683)

Frauenkirche terletak bersebelahan dengan plaza luas yang bernama Neumarkt (Google Maps) atau New Market. Jadi, selain New Market, di Dresden ini juga ada Altmarkt atau Old Market yang letaknya bersebelahan sama Kreuzkirche atau Church of The Holy Cross.

DSCF7678 (1024x684)

Di salah satu bagian plaza, saya ngeliat ada seseorang berbaju biru yang dikelilingi anak-anak. Owalaaah, ternyata dia ini bisa dibilang pengamen. Tapi ngamennya ngga nyanyi melainkan dengan membuat gelembung-gelembung sabun raksasa. Pantesan dia dikerubutin anak-anak yang pada antusias mecahin gelembung-gelembungnya. Kalo kamu liat, di sudut kanan foto ada anak kecil Jepang lucu yang semangat banget mecahin gelembung-gelembungnya. Saya lama banget di sini, ketawa-ketawa sendiri ngeliatin tingkah polah anak-anak yang keliatannya bahagia banget. Dan untuk itu, saya memberikan sekeping logam 2 Euro buat pengamen ini.

DSCF7691 (1024x683)

Karena hari udah mulai gelap, saya meneruskan perjalanan balik ke halte Flixbus di Central Station. Di perjalanan saya melalui Kreuzkirche (Google Maps). Karena udah bosen ngeliatin gereja melulu, saya cuma ngambil fotonya doang. Lagian udah gelap. Males ah. Pengennya buru-buru balik.

DSCF7693 (1024x683)

Karena jadwal pulang saya jam setengah tujuh sementara waktu masih menunjukkan pukul lima sore, saya jadi agak santai. Dari arah Kreuzkirche saya berjalan kaki melewati boulevard Pragerstrasse yang memanjang sejauh 750 meter hingga Hauptbahnhof.

DSCF7695 (1024x683)

Pas lagi laper-lapernya, mana cuacanya dingin pula, eh saya ngeliat ada yang jualan doner kebap. Umumnya, saya ga berani bilang semua, doner kebap yang kamu temui di Jerman itu halal karena penjualnya pun imigran muslim yang menetap di Jerman. Nah, untungnya si kedai Abu Sofian ini salah satunya. Saya beli satu porsi doner yang harganya umumnya 3.5 Euro. Mahal? Yaa, segini sih masih standar. Yang lebih mahal banyaaak…

 

TAMAT

Iklan

2 pemikiran pada “Dresden, Florence of The Elbe (Bagian 2 dari 2)

    1. kan motonya sebisa mungkin ga banyak orangnya, hehehe. sebenernya rame juga kok, semisal di plaza atau di bruhl’s terrace.

      pas di dresden ga makan kebap, cuma nyemil kueh aja. ntar di review kota leipzig dimasukin deh fotonya..

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s