Dresden, Florence of The Elbe (Bagian 1 dari 2)

Dresden adalah salah satu kota yang saya kunjungi selagi saya di Leipzig. Tadinya sih saya ga ada rencana ke Dresden sama sekali. Sempet disaranin sih sama orang Jerman di kantor, tapi saya ga berminat. Tadinya, di satu weekend itu saya mau full menikmati objek wisata di kota Leipzig. Tapi ternyata, satu hari doang pas hari Sabtu, kebanyakan objek wisatanya udah saya kunjungin. Tadinya emang saya mau ke kebun binatang Leipzig sih di hari minggunya. Katanya kebun binatangnya one of the best in Europe. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, ah ke kebun binatang sendirian ga asik ah. Dan akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke Dresden.

DSCF7489 (683x1024)

Saya ke Dresden naik Flixbus. Nah, si Flixbus ini adalah salah satu perusahaan bus yang menyediakan banyak rute ke seluruh penjuru Eropa. Saya milih naik Flixbus karena harganya relatif murah dibanding kompetitornya. Pergi pulang cuma 20.5 Euro saja. Web-nya juga user friendly dan mudah dipahami. Dan kenapa ga naik kereta aja? Ah, harganya bisa 1.5 sampe 2 kali lebih mahal. Dan kalo ke Dresden doang, kereta cuma sedikit lebih cepet. Mending naik Flixbus aja deh, hemat! Saya ga tau kalo di kereta, tapi kalo di dalem bus Flixbus ada fasilitas wifi, colokan listrik, bahkan WC. Oke kan? Dan beberapa bus, kayak bus yang saya naiki ini, bertingkat. Saya so pasti milih duduk di tingkat dua, hehehe…

Sama kayak Leipzig, Dresden juga punya jaringan transportasi trem yang oke banget. Kalo saya liat sih, trem-tremnya lebih baru tapi harga tiketnya malah lebih murah. Dikit doang sih lebih murahnya. Trem di sini biasanya menyediakan banyak variasi tiket. Ada tiket yang buat sejam, empat jam, sehari, seminggu, sebulan, buat sekeluarga, buat turis (plus bonus diskon-diskon masuk tempat wisata), pokoknya macem-macem deh. Saya udah ngitung sih, saya mendingan beli one day ticket daripada beli tiket satuan. Lagian kalo mau milih beli tiket satuan ribet juga. Emang sih, beberapa halte dan trem menyediakan mesin penjual tiket. Tapi gimana kalo di halte atau trem yang saya naiki ga ada mesinnya? Ya udah, beli aja lah, cuma 6 Euro ini untuk naik trem seharian di area kota Dresden. Untung halte pemberhentian Flixbus lokasinya deket ama Hauptbahnhof atau Central Station-nya Dresden. Di stasiun ini ada service center DVB (Dresdner Verkehrsbetriebe), perusahaan pengelola trem kota Dresden di mana saya bisa beli one day ticket.

Dari halte sebelah utara Central Station (Google Maps), saya naik trem ke halte Theaterplatz, daerah pertama yang ada di itinerary saya. Saya ngebikin itinerary pake aplikasi Android Tripomatic. Saya cuma tinggal ngeliat peta dan megeklik objek wisata apa aja yang pengen saya kunjungin. Urutannya juga bisa saya atur. Terus jadi deh itinerary-nya. Emang ada beberapa kekurangannya sih, tapi ya sudahlah. Namanya juga nyoba.

DSCF7504 (1024x683)

Ada beberapa bangunan yang mengelilingi Theaterplatz (Google Maps). Yang pertama adalah gedung Semperoper atau Semper Opera House. Gedung ini menjadi markas dari Saxon State Opera dan Saxon State Orchestra. Di sini biasa diadakan pertunjukan opera, balet, musik, dan pertunjukan seni lainnya. Tentu aja saya ga akan nonton salah satu pertunjukan itu itu tadi. Saya mah cuma numpang lewat doang, liat-liat, foto-foto, udah deh. Gedungnya sendiri keren, bergaya Romawi, mengingatkan saya pada Colosseum. Di puncak gedung ada patung Dionysus, salah satu dewa Yunani, dan istrinya, Ariadne. Di depan gedung ada patung Raja Saxon, John, yang digambarkan sedang menunggang kuda. Sayang agak gelap gara-gara bayangan gedung di depannya.

DSCF7506 (1024x683)

Ini bagian belakang Hofkirche. Kirche artinya gereja. Ini nih gedung yang bertanggung jawab atas bayangan di Theaterplatz. Saya belum akan ke sini, jadi ceritanya nanti aja yaa…

DSCF7515 (682x1024)

Di sebelah selatan Theaterplatz ada Zwinger (Google Maps). Zwinger sendiri bentuknya kira-kira kayak persegi panjang yang terdiri dari enam paviliun. Di bagian dalemnya ada halaman yang luas banget. Ga full rumput sih, ada bagian tanah merahnya juga, kayak yang biasa dipake di lapangan tenis atau track lari gitu. Tau kan?

DSCF7522 (1024x683)

Sebenernya saya ke Jerman udah siap dengan membawa Xiaomi Yi yang dibeli patungan ama Ferdi. Tapi sayang, udah canggih-canggih tapi ujung-ujungnya malah bermasalah ama koneksi ke hape. Jadinya saya pake teknologi “Can you take my picture?” deh. Ini foto saya lagi narsis dengan latar Kronentor atau Crown Gate, karena di atasnya ada mahkota raksasa berwarna item dengan garis-garis berwarna emas.

DSCF7546 (4800x1080)

Buat menggambarkan betapa luasnya halaman di dalem Zwinger, ini foto panorama yang saya ambil. Oiya, semua foto di sini bisa diklik lho biar bisa keliatan lebih gede. Bangunan yang ada emang ga simetris, karena ga dibangun dalam satu periode yang sama. Di sebelah kiri ada Kronentor sementara di sebelah kanan ada Semperbau (Bau artinya bangunan) yang dibangun lebih belakangan. Arsitek Semperbau sama dengan gedung Semperoper, Gottfried Semper. Nah, sekarang kamu paham kan kenapa namanya “Semper”?

DSCF7550 (681x1024)

Semperbau disebut juga Picture Galley karena di sini ada Gemäldegalerie Alte Meister (Google Maps) atau Old Masters Gallery. Di sini tersimpan karya-karya kelas dunia dari seniman-seniman terkenal seperti Van Dyck, Vermeer, Rubens, Titian dan Raphael. Salah satu yang mungkin paling terkenal adalah The Sistine Madonna karya Raphael.

Karena saya merasa wajib ngedatengin seengganya satu museum di setiap tempat yang saya datengin, saya memilih museum ini. Sebenernya pintu masuk museumnya udah jelas, ada papan penunjuknya. Tapi karena pintunya ketutup dan juga ga gede-gede amat, orang mungkin akan menyangka bahwa museumnya ga buka. Tapi coba deh buka pintunya, ga kekunci kok. Banyak tempat yang saya kunjungi kayak gini. Ga kayak di Indonesia, di sini kan emang ga mungkin ngebuka pintu lebar-lebar karena suhu dingin di luar ruangan bisa masuk. Saya lalu masuk dan dikasih tau bahwa tempat penjualan tiket ada di basement. Aneh. Ya udah lah saya ke bawah. Harga tiketnya 10 Euro atau sekitar 150 ribu rupiah. Mahal ya? Ya udah lah.

DSCF7554 (683x1024)

Di dalem museum sayangnya kita ga boleh moto-moto dan dijaga ketat oleh petugas-petugas yang ada di hampir setiap ruangan. Mondar-mandir kayak hansip. Mungkin mereka udah belajar dari banyaknya turis Asia yang malah asik foto bernarsis ria pake tongsis, hehehe. Ngga deng. Alasan utamanya sih setau saya buat mencegah ada turis yang memotret dengan blitz. Konon katanya lampu kilat kamera bisa merusak cat lukisan. Nah, menurut saya ini bisa jadi tantangan untuk para produsen kamera supaya menciptakan lampu kilat yang painting friendly. Ini saya nyuri-nyuri moto di luar ruangan pamer lukisan. Mumpung ga ada petugasnya. Kalo di dalem ga berani nyuri-nyuri cuy, ntar bisa merusak nama harum Indonesia. Eh, nama Indonesia di Eropa harum ga ya?

DSCF7557 (1024x683)

Abis dari museum, waktu udah menunjukkan jam 12 siang. Sebelum pergi shalat ke salah satu mesjid yang ada di Dresden, saya mau menyempatkan diri melihat patung Goldener Reiter (Google Maps) atau Golden Rider. Untuk mencapai lokasinya, saya mesti menyeberangi sungai Elbe melalui Augustusbrücke (Google Maps) atau Jembatan Augustus. Jembatannya lebar banget. Bisa menampung dua jalur pejalan kaki, empat lajur mobil , dan dua lajur trem. Pemandangan dari atas jembatan juga luar biasa cantik.

DSCF7570 (684x1024)

Di ujung jembatan, jalan dikit, udah bisa keliatan deh si penunggang kuda emas di seberang jalan. Lagi-lagi saya menggunakan teknologi “Can you take my picture?” pada seorang pak bapak yang lagi jalan-jalan sama anak dan istrinya. Anyway, ini adalah patung Augustus II The Strong yang merupakan Elector of Saxony, King of Poland, dan Grand Duke of Lithuania. Gile bener ini orang jabatannya… Ga heran kalo dia diabadiin jadi patung atas suruhan anaknya. Emang sih, karena jasanya, Dresden berkembang menjadi pusat kebudayaan, sampe dijuluki Florence At the Elbe. Florence sendiri pusat kebudayaan yang terkenal di Italia.

DSCF7567 (1024x683)

Di depan patung, ke arah utara, ada boulevard lebar yang keren banget, namanya Hauptstrasse (Haupt artinya utama, Strasse artinya jalan). Di kanan kirinya diapit oleh pepohonan yang daunnya udah menguning karena mulai berguguran. Maklum, udah mulai masuk musim dingin. Walau tergoda, saya ga jalan-jalan melalui jalan ini, kaerna selain ga ada di rencana, di ujungnya juga ga ada objek wisata apa-apa. Ngabisin waktu buat bolak-balik.

DSCF7574 (1024x683)

Abis dari tempat tadi, saya naik trem ke masjid MKEZ Dresden (Google Maps). Hmm, ini hal penting buat kamu-kamu yang muslim. Kalo kamu lagi jalan-jalan di tempat yang mayoritas penduduknya non muslim, jangan lupa cari tau tempat di mana kamu bisa shalat. Semalem sebelumnya saya udah riset dan mencari tau lokasi beberapa masjid di Dresden. Tempat ini saya pilih karena lokasinya paling deket dibanding beberapa masjid lainnya. Halte trem terdekat menuju ke sini adalah Strassburger Platz. Masjidnya sendiri ga terlalu gede. Dan sepertinya disambi juga untuk tempat pendidikan anak-anak.

DSCF7576 (1024x683)

Oke, abis shalat dhuhur dan juga menjamak shalat ashar, saya siap jalan-jalan lagi. Tujuan berikutnya adalah Hofkirche!

 

Baca terusannya di Dresden, Florence At the Elbe (Bagian 2 dari 2)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s