Museum Negeri Lampung Ruwa Jurai (Bandar Lampung)

Museum Negeri Lampung ini terletak di sebelah utara kota Bandar Lampung. Agak jauh sih memang dari pusat kota. Saya menganggap pusat kota Bandar Lampung berada di persimpangan jalan yang ada monumen adipura, lengkap dengan patung-patung gajahnya. Museum ini terletak dekat Terminal Bus Rajabasa dan dekat dengan gerbang kampus Universitas Lampung.

DSCF5448 (1280x853)

Ah, saya jadi inget. Kita dateng ke sini sebelum makan Pempek 123. Soalnya dari hasil riset saya yang mendalam dengan dibantu oleh mbah Google, Pempek 123 baru buka jam 9an, sementara museum ini bukanya dari jam 8. Alhasil, supaya ga buang waktu (walaupun perut rada keroncongan karena paket hotelnya ga termasuk sarapan) kita ke sini dulu.

DSCF5449 (1280x853)

Walaupun kita dateng jam 8 lewat dikit, ternyata museumnya belom dibuka. Saya sih maklum. Mana mungkin mereka bakalan tepat waktu buat ngebuka museum. Museum gitu loh! Bayangin, dari semua objek wisata yang ada di Lampung, ada berapa orang turis sih yang berminat dateng ke museum? Pagi-pagi pula. Kalo saya, hampir di setiap tempat yang saya datengin, saya merasa wajib buat dateng ke museumnya. Belom afdol rasanya berwisata ke suatu tempat kalo ga berkunjung juga ke museumnya. Dan untungnya, ga ada peserta jalan-jalan yang menolak ketika saya bilang pengen ke sini. Mungkin mereka ga ada ide juga kali, hehehe…

DSCF5413 (854x1280)

Jadilah kami ke belakang museum, bertanya pada sekelompok bapak-bapak dan ibu-ibu yang lagi ngerumpi di depan gedung kantor yang terpisah dengan gedung museum. Maklum, mungkin masih halal bihalal karena hari itu adalah hari pertama masuk kerja setelah masa cuti bersama. Mereka akhirnya memanggil beberapa satpam. Rupanya, satpam yang menentukan atas buka dan tutupnya museum ini. Gaji mereka pasti besar…

DSCF5434 (1280x853)

Begitu memasuki pintu museum, kita akan langsung disambut meja resepsionis. Di kiri kanannya ada tangga yang menuju ke lantai dua. Jangan lupa bayar. Orang dewasa dipungut biaya 4 ribu rupiah.

DSCF5416 (1280x853)

Museum Negeri Lampung dinamakan “Ruwa Jurai”. Ruwa berarti dua dan jurai berarti keturunan. Apabila disambungkan, “Ruwa Jurai” kira-kira memiliki arti masyarakat Lampung terdiri dari dua keturunan, yaitu masyarakat Lampung yang beradatkan Saibatin dan Pepadun.

DSCF5418 (1280x856)

Walau kalo diliat dari luar terlihat cukup masif, pas masuk ke dalam dan berkeliling, akan terasa bahwa museumnya ga segede yang dibayangkan. Walau memiliki dua buah lantai dengan beberapa ruang pamer permanen, museum ini dengan cepat terkelilingi. Namun, menurut data tahun 2011, Museum Lampung menyimpan sekitar 4.735 buah benda koleksi. Benda-benda koleksi ini terbagi menjadi 10 jenis, yaitu koleksi geologika, biologika, etnografika, historika, numismatika (mata uang), heraldika (cap dan stempel), filologika, keramologika, seni rupa, dan teknografika. Yah, kemungkinan besar sih ga semua koleksinya dipamerkan. Sisanya ada di ruang penyimpanan lain.

DSCF5423 (1280x853)

Di dinding-dinding kaca koleksi benda pamer, saya bisa ngeliat stiker QR code. Wih, gaul juga mereka tau dan memanfaatkan QR code. Saya coba install aplikasi scanner di hape saya. Pas saya scan, ternyata hasilnya adalah link internet. Tapi sayang, pas saya coba lebih lanjut, link internetnya rusak. Tulisan di layar hape saya : File not found. Mestinya udah bisa saya duga…

DSCF5424 (1280x853)

Di lantai satu ini, kebanyakan koleksinya adalah benda-benda prasejarah, patung, arca, dan prasasti. Oh, ada juga koleksi uang dan stempel. Benda-benda pamernya sepertinya terkelompok dan terurut berdasarkan jenisnya, dan bukan berdasarkan masa asalnya.

DSCF5431 (853x1280)

Di suatu sudut saya melihat seonggok batu ini. And I’m like, whaaaaattt??? Menurut kamu ini keliatan kayak apa? If you know what I mean *kedip nakal* Anyway, patung ini namanya menhir dan memang menyimbolkan kelamin laki-laki (yak, tebakan kamu benar!). Berasal dari situs Pugung Raharjo yang kemaren udah sempet kita datengin juga, katanya menhir ini berasal dari masa tahun 2.500 sebelum masehi. Menhir ini dipake dalam upacara kesuburan, upacara penolak bala, dan upacara bersyukur. Ngomong-ngomong, berdasarkan ingatan yang ga bisa terlalu dipercaya dari pelajaran sejarah saya, saya merasa seharusnya patung ini disebut lingga deh.

DSCF5435 (1280x853)

Di atas adalah koleksi etnografika, yang katanya paling banyak. Kita bisa ngeliat kebudayaan dan adat istiadat masyarakat Lampung di sini. Ada alat musik, yang mirip banget ama gamelan. Mungkin namanya emang gamelan juga, sayang ga saya perhatiin. Selain itu juga ada pakaian adat yang digunakan pada ritual pernikahan. Ga mungkin terlewatkan oleh pengunjung karena displaynya gede banget. Menghabiskan satu sisi sendiri. Dan ngomong-ngomong, ada dua display adat pernihakahan yang ditampilkan, dipasang di dua sisi sayap yang berlawanan, yang mewakili dua kelompok adat yang dominan di Lampung, yaitu Saibatin dan Pepadun. Kedua kelompok adat ini masing-masing memiliki kekhasan dalam hal ritual adat dan aksesori yang dikenakan.

DSCF5442 (1280x854)

Dan sebelum pulang, mari berfoto keluarga dulu.

Tiket Masuk
Anak-Anak Rombongan IDR 5
Anak-Anak Perorangan IDR 5
Dewasa Rombongan IDR 1K
Dewasa Perorangan IDR 4K

 

Museum Negeri Lampung
Jalan Zainal Arifin Pagar Alam No. 64 Bandar Lampung
Click for Google Maps

museum lampung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s