Menyisir Pantai Pesisir Barat (Lampung Barat)

Dari Danau Ranau, tujuan berikutnya adalah Krui. Jaraknya sekitar 64 km ke arah selatan, kembali memasuki provinsi Lampung, melintasi kawasan hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Hari ini, kita ga terlalu berburu dengan waktu. Jam 9an kita baru berangkat. Tujuan kita hari ini emang cuma pantai-pantai yang ada di sepanjang pesisir Kabupaten Lampung Barat. Ga ada sedikit detour atau objek wisata sampingan yang akan dikunjungi dalam perjalanan.

2015-07-27 10_25_33-Unnamed Rd, Buay Pematang Ribu Ranau Tenga, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan,

Karena adiknya mamah nitip kopi lampung dan adik saya juga emang pengen beli kopi lampung, sepanjang perjalanan ke Liwa, kita pun dengan siaga memerhatikan setiap tempat yang sekiranya menjual kopi Lampung. Sewaktu di Liwa kemaren, kita udah sempet nanyain di mana lokasi orang yang menjual kopi Lampung. Tapi sayangnya ga ketemu. Katanya sih, kira-kira 10 km dari Liwa, akan ada bengkel Suzuki. Nah, di sebelah bengkel ada jalan, masuk aja karena di situ ada penjual kopi lampung yang terkenal. Pas hari ini, akhirnya kita nemu juga lokasinya. Tapi, itu mah ga nyampe 10 km kaleeee. Paling banter juga cuma 5 km dari pusat kota Liwa.

DSCF5252 (1280x853)

Yap, Lampung emang terkenal sebagai penghasil kopi. Di perjalanan kita kemaren menuju Liwa, di kiri kanan jalan ada baaanyak banget pohon kopi milik penduduk setempat. Bunganya kecil-kecil berwarna putih dan berjajar sepanjang tangkai daun. Lucu deh, saya belum pernah ngeliat tanaman yang berbunga kayak gini. Dan ketika lagi berbunga, tanaman kopi menghasilkan aroma yang khas. Dari mobil yang lagi berjalan, kita membuka jendela dan mencoba menghirup aromanya yang khas. Baunya mirip kayak aromatherapy batangan yang dibakar gitu deh. Haruuum…

DSCF5255 (1280x855)

DSCF5257 (1280x854)

Selain itu, Lampung juga terkenal sebagai produsen kopi luwak yang enak. Bahkan kopinya udah banyak diekspor ke mancanegara. Di rumah pemilik merk kopi Ratu Luwak ini, kita beruntung karena disuguhi oleh beberapa tester kopi luwak. Kopi luwak yang dijual ada varian robusta dan arabica. Saya coba dua-duanya, ternyata yang enak yang robusta. Enak karena rasanya paling mendekati kopi biasa, hehehe. Sementara kopi luwak varian arabica rasanya agak asem dan kalo kata saya sih sedikit tengik.

DSCF5261 (1280x854)

Oiya, kalo kamu lagi ke sini dan mau membeli kopi luwak di sini juga, ini koordinat GPS Ratu Luwak : -5.025615, 104.068682.

Beres ngeborong kopi, kita lanjutin lagi perjalanannya. Perjalanan dari Danau Ranau menuju Krui mau ngga mau mesti melewati kota Liwa lagi, lewat pertigaan yang kemaren. Di sini kita mampir lagi, buat makan pagi yang agak kesiangan di rumah makan padang yang kemaren lagi. Saya makan ayam goreng itu lagi. Oh, sadarkah kamu betapa banyaknya kata “lagi” di paragraf ini?

Sepanjang perjalanan menuju Krui, kita melintasi pegunungan Bukit Barisan Selatan yang membentang di barat Lampung. So, kanan kiri kita bener-bener hutan doang. Untung perjalanan kita siang hari, soalnya kali malem pasti gelap banget deh. Ga ada lampu penerang jalannya. Dan kalo kamu belum tau, sampe sekarang daerah Sumatera ini masih rawan bajing loncat. Jadi sebaiknya perjalanan malam hati yang melintasi hutan sebaiknya dihindari. Atau kalopun mau memaksakan, berjalanlah konvoi dengan minimal berdua mobil.

2015-07-27 10_26_50-Google Maps

Setelah melewati kawasan hutan, kamu akan langsung menemui kota Krui. Kamu akan serasa menemukan peradaban lagi karena Krui ini kotanya cukup besar. Yah, untuk ukuran Lampung ya. Jangan dibandingin sama kota di Jawa. Di suatu pertigaan di Krui, kita mengambil jalan ke kiri yang mengarah ke selatan. Di arah utara juga sebenernya ada beberapa pantai dan objek wisata lain, semisal Pulau Pisang. Tapi kita ga berminat ke sana. Kita lebih berminat mengunjungi beberapa pantai yang ada di sepanjang pesisir dari arah Krui ini. Ada tiga pantai yang akan kita kunjungi, yaitu Pantai Krui, Pantai Mandiri, dan Tanjung Setia.

DSCF5262 (1280x853)

DSCF5263 (1280x853)

Kita sampe di Pantai Krui sekitar jam 1. Walaupun udah siang dan cukup terik, pantai ini masih ramai oleh pengunjung. Apalagi karena ini masih H+3 lebaran. Ada penjual umang-umang. Ada sekelompok pria lagi asik bermain catur. Mungkin ada taruhan kecil-kecilannya juga. Ada penjaja makanan yang mendirikan lapak warungnya di sana-sini. Semarak deh pokoknya.

DSCF5273 (1280x855)

Pantainya landai. But it is no Pangandaran. Pantainya ga enak buat berenang, soalnya berkarang.

DSCF5275 (1280x853)

Di kejauhan, saya ngeliat ada orang banyak berkerumun. Ngapain sih mereka? Pas saya deketin, olalaaaa, ternyata mereka lagi berburu hewan-hewan laut kecil yang ada di karang. Ga cuma anak kecilnya yang asik, orang tuanya juga sama aja. Asik. Maksudnya asik nyariin hewan laut kecil juga.

DSCF5278 (1280x853)

Karena lautnya lagi surut, banyak ikan-ikan kecil yang terperangkap di karang. Tapi untuk argumen yang satu ini, saya agak ragu sih. Entah mereka terperangkap atau memang mereka berumah di sini. Karena selain ikan-ikan kecil, ada juga hewan-hewan lain kayak kepiting kecil dan bintang laut berkaki singset kayak foto di atas itu tuh. Warnanya gelap kecoklatan. Ga terlalu menyaru dengan latar bebatuan. Beda dengan ikan-ikan dan kepiting kecil yang warnanya lebih saru. Hampir ga keliatan kecuali kalo mereka bergerak.

DSCF5282 (1280x853)

Abis jalan-jalan di pantai, kita balik lagi ke mobil. Tapiii, iseng mau jajan-jajan ah. Di tepi pantai, di antara banyak penjaja makanan, ada penjual es cingcau yang berjualan dengan menggunakan gerobak. Ngeliatnya agak ragu sih, soalnya masak naro cingcaunya di tong sampah. Pellliiisssss….

Tapi, tetep aja kita beli, wkwkwk. Jiwa anak SD saya yang seneng jajanan macem begini ga akan pernah luntur…

DSCF5287 (1280x288)

Dari Pantai Krui, kita ngelanjutin lagi ke pantai berikutnya, Pantai Mandiri. Jaraknya cuma 11 km dari kota Krui. Walaupun “cuma”, tapi karena jalannya jelek jadi berasa jauh banget. Jadi, jalannya emang keliatannya baru diperlebar dan akan diaspal. Tapi pas kita lagi ke sana, belum semua jalannya beres diaspal. Aspalnya baru sampe di antara Tanjung Setia dan Pantai Mandiri.

Pantai Mandiri ini lebih sepi daripada Pantai Krui, mungkin karena lebih jauh dari pusat kota. Panjangnya garis pantainya mungkin ada sekitar 1-2 km dan terletak persis di tepi jalan raya Krui-Bengkunat sehingga kebangetan banget kalo terlewatkan. Yang jualan juga jauh lebih sedikit.

DSCF5303 (1280x853)

Pasir pantainya lucu deh. Ketika ombak menyapu pantai dan surut, ada pola zig zag segitiga yang terbentuk kayak di foto di atas. Tebakan adik saya, itu karena sebenernya di pasirnya ada banyak bebatuan kecil banget sehingga air dari ombak yang surut jadi terbelah dua gara-gara batu-batu kecil tersebut.

Dari Pantai Mandiri, kita ngelanjutin lagi perjalanan sejauh 10 km ke Pantai Tanjung Setia. Rupanya, area ini udah dikelola menjadi objek wisata yang ramai. Ada banyak penginapan di sini. Beberapa yang gede-gede ada Lovina Krui Surf, Utopia Surf Camp, Karang Besi Surf Camp, Family Losmen, dan Karang Nyimbor Hotel. Bahkan sebagian dari penginapan ini ada yang bisa kita temukan di situs booking hotel internasional loh. Yah, ga heran sih, soalnya Krui ini banyak didatengin bule-bule yang mau surfing. Rupanya, ombak di sini cukup terkenal di kalangan komunitas surfer internasional. Pastinya mereka banyak yang kemudian share informasi mengenai penginapan yang oke di dunia maya. Salah satu penginapan yang paling terkenal dan akan kamu temukan ketika googling adalah Lovina Krui Surf tadi. Tempatnya emang oke sih, ada beberapa bangunan cottage dua lantai yang ukurannya cukup besar. Cottagenya terbuat dari kayu dan bilik bambu dengan atap seng berwarna merah.

DSCF5325 (1280x853)

Tapiii, kita ga nginep di Lovina itu sih. Karena harga sewa cottage-nya agak di luar budget. Setelah berkeliling nyari penginapan sampe hampir ke ujung jalan, akhirnya kita nginep di Utopia Surf Camp yang selain karena masih punya beberapa kamar kosong, harganya juga cukup pas di kantong. Lagi-lagi kita beruntung, masih ada 4 kamar tersisa. Dan satu kamar diambil sama sekelompok pemuda yang dateng barengan ama kita. Tarifnya satu malam : Rp 300 ribu. Dari semua hotel yang kita inepin selama Tour de Lampung, ini jadi yang paling mahal. Peak season sih.

DSCF5326 (1280x853)

Kamarnya cukup besar. Ga ada AC, kalo kamu bertanya-tanya. Tapi, kayaknya hampir semua penginapan ga ada AC-nya sih. Untungnya, kita masih disediain kipas angin. Tapi kipas anginnya lucu, kadang-kadang jadi pelan sendiri. Kita sampe heran, ini kipasnya rusak atau kenapa sih? Adik saya malah kagum, dikiranya kipasnya otomatis jadi pelan setiap beberapa waktu. Tapi belakangan kita tau bahwa hal ini diakibatkan oleh tegangan listrik di sini yang seringkali turun. Orang-orang tua suka menyebutnya dengan istilah spaneng, mungkin diambil dari bahasa Belanda “spanning” yang artinya tegangan.

DSCF5327 (1280x853)

Sore itu, saya bener-bener udah males mau jalan-jalan dan melihat-lihat pantai. Ini sindrom yang biasa. Soalnya, setelah berkunjung ke dua pantai sebelumnya, kita akan cenderung merasa bahwa ini ya “pantai-pantai juga”. Emang bakalan ada hal yang lebih menarik kayak apa sih? Ngeliat matahari terbenam pun bahkan saya males. Akhirnya, saya cuma tidur-tiduran aja di kasur sambil maen game TTS di hape. Mau browsing atau ngecek fesbuk agak susah soalnya sinyalnya cuma EDGE. Besok pagi aja deh liat-liatnya.

Malem pas mau cari makan, lagi-lagi jadi perjuangan tersendiri. Pihak penginapan ga menyediakan makanan. Di luar penginapan juga yang jualan palingan cuma tukang baso. Padahal, perut-perut kita ini kan tipe perut yang mesti dinafkahi nasi, apalagi setelah seharian lelah beraktivitas. Kita coba menyusuri jalan balik ke utara ke arah Krui, tapi hampir ga ada rumah makan yang jualan. Kebanyakan masih tutup pasca lebaran. Akhirnya, kita mampir ke Indomaret buat bertanya. Yes, di sini ada Indomaret juga loh. Kata mbak-mbak Indomaret, rumah makan ada banyak di Biha, di selatan Tanjung Setia. Ya udah deh, akhirnya kita mencoba ke Biha dan beruntung menemukan beberapa rumah makan yang buka. Akhirnya kita mampir di sebuah rumah makan yang menjual sate ayam. Uniknya kalo diperhatikan, di sepanjang jalan ga ada yang jualan sea food. Mungkin karena kebanyakan warganya bermata pencaharian petani dan bukan nelayan.

DSCF5331 (1280x853)

Pagi-pagi, saya bener-bener menunaikan janji saya untuk melihat-lihat. Pas matahari baru terbit, barulah saya berangkat. Ada lumayan banyak bule yang udah asik surfing di pagi ini. Ombaknya cukup besar dan memanjang. Tentunya ini jenis ombak yang sangat disukai para surfer karena dengan begitu mereka bisa surfing tanpa henti. Mungkin kalo ombaknya panjang banget, mereka bisa sampe ke Krui. Eh sori, lebay.

DSCF5332 (1280x853)

DSCF5342 (1280x853)

Di satu titik yang agak menjorok ke arah laut, saya berhenti dan sibuk foto-foto. Di sini ada barisan karang yang menarik buat diabadikan. Pake formalin. Eh, pake kamera.

DSCF5357 (1280x853)

Tak lupa saya juga mengabadikan foto kita sendiri. Sayangnya saya sendiri ga ada karena saya kan yang moto. Dari kiri ke kanan itu ada Uwo Ati, mamah, Nanda si adik kedua, Citra, dan Ferdi si adik kedua. Bapak-bapak ga pada ikut. Mungkin mereka lagi asik adu panco di penginapan. Tapi kemungkinan besar itu hanya khayalan saya aja sih…

DSCF5369 (1280x853)

 

Pantai Pesisir Barat
Pantai Krui, Pantai Mandiri, Pantai Tanjung Setia

 

Utopia Surf Camp
Jalan Pantai Wisata Tanjung Setia, Pesisir Barat, Lampung
Click for Google Maps

Owner : Dewi Sri Ekowanti, telepon 082184977648

tg setia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s