Menikmati Bima Sakti dari Danau Ranau (Sumatera Selatan)

Dari Bandar Jaya, perjalanan dilanjutkan lagi ke tujuan berikutnya : Danau Ranau. Menurut Google Maps, jarak yang akan ditempuh sekitar 211 km. Perjalanan ini akan melewati Kotabumi dan Liwa. Dengan mengetahui jarak tempuh ini, kami berangkat cukup pagi. Jam 7.

2015-07-27 09_43_04-Jalan Lintas Timur Sumatera, Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung

Pake tol aja jarak ini udah cukup jauh. Apalagi, pake jalan provinsi, di Lampung, yang kualitasnya di bawah standar. Lama dan melelahkan. Ga cuma buat sopir tapi juga buat penumpang. Badan serasa terbanting-banting gara-gara jalan yang jelek.

DSCF5150 (1280x855)

Tapi untungnya, perjalanan ga terlalu membosankan. Pas kita melewati suatu kampung di daerah yang bernama Batu Brak, berada di antara Kotabumi dan Liwa, tiba-tiba aja jalan yang relatif lancar jadi tersendat. Oalaaah, ternyata lagi ada panjat pinang toh. Dan kalo ada keramaian kayak gini, udah pasti bakalan ada yaang berjualan. Kebanyakan berjualan makanan dan mainan anak-anak.

Karena tipikal kampung di Sumatera rata-rata memanjang mengikuti jalan raya, dengan halaman yang tidak terlalu besar di depannya, batang pinang dipasang sangat dekat dengan tepi jalan. Dan uniknya, batang pinang yang disediakan ga cuma satu tapi ada banyak. Setiap mungkin beberapa puluh meter ada satu batang pinang lagi. Dan itu berulang sampe kayaknya ada sepuluh batang pinang, saya ga ngitung jumlah tepatnya. Semuanya sama, lengkap dengan hadiah-hadiah yang digantung di atasnya. Ada ember, baskom, sepeda roda tiga, tudung saji, dan berbagai perkakas harian lainnya yang rata-rata terbuat dari plastik.

Bisa jadi, acara ini adalah satu-satunya hiburan buat penduduk kampung dalam satu tahun. Semua orang tumplek bleugh di sini. Bahkan mungkin berdatangan dari kampung sekitarnya juga. Asik banget merhatiinnya. Hal-hal yang begini ini yang saya suka. Saya jadi punya pengalaman untuk diceritakan. Pengetahuan saya akan ragam budaya Indonesia juga jadi bertambah.

DSCF5148 (1280x855)

Pas lagi asik-asik merhatiin keramaian, saya melihat banyak orang yang menggunakan penutup kepala dari kain yang dililit-lilit dan menggunakan kacamata hitam. Ada juga yang bener-bener menggunakan topeng. Mereka berkelompok-kelompok sehingga setiap kelompok akan menggunakan kostum yang relatif mirip. Heran juga saya ngeliatnya. Apakah mereka akan manjat pinang sambil pake atribut-atribut itu? Kan ribet juga ya.

DSCF5149 (1280x854)

Belakangan, dari membaca spanduk di tepi jalan, saya tau bahwa acara ini disebut Pesta Sekura. Dari hasil googling (yang saya lakukan setelah bisa dapet sinyal, maklum susah sinyal di sini), saya dapet info bahwa sekura merupakan sejenis topeng yang digunakan dalam perhelatan pesta ini. Seseorang dapat disebut ber-sekura ketika sebagian atau seluruh wajahnya tertutup. Penutup wajah dapat berupa topeng dari kayu, kacamata, kain, atau hanya polesan warna. Untuk menambah kemeriahan acara, sekura bisa dipadukan dengan berbagai busana dengan warna-warna meriah atau mencolok.

Pesta sekura merupakan perhelatan rutin yang diadakan oleh masyarakat Kabupaten Lampung Barat. Pesta rakyat ini selalu diadakan ketika menyambut lebaran. Dalam acara ini, peserta acara diwajibkan mengenakan topeng dengan berbagai karakter dan ekspresi. Pesta sekura merupakan wujud ungkapan rasa syukur dan suka cita menyambut hari yang suci.

DSCF5152 (858x1280)

DSCF5154 (1280x853)

Sampe di Liwa, jam udah menunjukkan pukul 12 siang. Waktunya makan! Soalnya pas berangkat dari hotel tadi belum sempet makan berat. Maka perut udah berasa laper berat.

DSCF5155 (1280x854)

DSCF5163 (1280x855)

Pusat kotanya kayaknya berada di sini, sebuah pertigaan jalan dari arah Kotabumi ke arah Danau Ranau dan Krui yang ditandai dengan sebuah monumen besar mirip kepala cumi-cumi. Danau Ranau ke arah kenangan Krui belok ke kiri. Di persimpangan jalan ini, ada pasar yang cukup besar. Namun karena suasananya masih lebaran, sepi. Banyak toko yang tutup.

DSCF5162 (1280x855)

Untungnya, ada beberapa rumah makan padang yang tetep buka. Yak, lagi-lagi rumah makan padang yang menyelamatkan perut-perut kita. Walaupun kita mesti beli dulu nasinya ke warung masakan Jawa yang ada di seberang gara-gara keabisan, tapi alhamdulillah makanannya enak-enak. Apalagi serundeng ayam gorengnya maknyuuuusss. Asin, bikin pengen nambah nasi terus.

DSCF5165 (1280x853)

Setelah menempuh perjalanan kira-kira sejauh 30 km dari kota Liwa, akhirnya jam 3an kita sampe juga di salah satu tujuan utama kita di Tour de Lampung ini. Tapiiii, lokasi objek wisata yang kita kunjungi ini berada di sisi Sumatera Selatan-nya, bukan Lampung. Ada juga sih lokasi objek wisata yang berada di sisi Lampung, namanya Lombok. Tapi kakaknya mamah pernahnya nginep di sini, jadi ya kita ngikut aja deh.

Setelah membayar tiket masuk yang tidak terlalu mahal, kita bisa memasuki objek wisata ini. Tapi ramenya minta ampuuuuun. Karena jalan masuknya kecil, tapi mobil banyak yang parkir di tepi, sehingga menambah sempit jalan yang udah kecil itu. Arus mobil dan motor yang akan masuk dan keluar bertabrakan. Setelah satu jam menunggu, itupun dengan sedikit intervensi seorang pejabat polisi yang mobil keluarganya ikut ngantre mau masuk juga, kita bisa masuk dan parkir.

DSCF5177 (1280x854)

DSCF5180 (853x1280)

Lelah selama mengantre tadi cukup terbayar dengan indahnya pemandangan Danau Ranau. Matahari sudah agak rendah, menandakan sebentar lagi akan sore hari. Cahayanya indah kemilau dipantulkan riak-riak air danau.

DSCF5191 (1280x853)

DSCF5194 (1280x853)

Ternyata, area objek wisata ini milik PT Pusri. Namanya Wisma Pusri. Ada beberapa wisma dan cottage yang disewakan untuk umum. Ada juga dermaga penyeberangan ke beberapa kota kecil yang ada di tepi danau. Tapi penyeberangan ini sepertinya lebih dimaksudkan untuk tujuan pariwisata sih ketimbang transportasi umum. Sayang, kita ga nyobain jalan-jalan pake perahu. Hari udah keburu sore, dan kita juga bahkan belum solat.

DSCF5195 (1280x367)

2015-07-27 09_35_29-Google Maps

Di kejauhan danau ranau, ada sebuah gunung yang tinggi menjulang. Siapapun yang ke sini, ga mungkin ga liat. Kalo diliat di Google Maps, kita ada di posisi nomer 2, sementara gunung yang kita liat ini berada di posisi nomer 1. Kalo saya ga salah tebak, ini namanya Gunung Seminung. Yap, Danau Ranau ini merupakan danau yang terbentuk akibat gempa bumi yang dahsyat dan letusan gunung vulkanik.

Danau Ranau ini terletak di antara provinsi Lampung dan Sumatera Selatan dan merupakan danau terluas kedua setelah Danau Toba. Tapi, perbandingannya cukup jauh. Danau Toba memiliki luas 1.130 km2 sementara Danau Ranau “hanya” 125,9 km2 saja. Hampir sepersepuluhnya ya. Mirip dengan Danau Toba, Danau Ranau pun memiliki sebuah pulau kecil. Tapi yaaa, kecil banget. Namanya Pulau Marisa. Di sini katanya ada pemandian air panas yang mengandung belerang.

DSCF5192 (1280x854)

Lagi-lagi kita beruntung, ada seorang pengunjung yang sudah memesan 8 kamar namun membatalkan 3 kamar. Padahal sebelumnya Wisma Pusri ini udah full booked. Jumlah yang dibatalkan juga ada tiga. Pas banget kan? Kayaknya di rombongan kita ada yang magnet rejekinya kuat banget deh…

Tanpa banyak berpikir, kita langsung ambil deh itu kamar karena kita emang udah berencana buat menginap di sini. Tarif kamarnya 220 ribu. Harga yang cukup mahal, mengingat fasilitasnya seadanya. Kamarnya kurang bersih, lantainya bahkan berdebu. Sarapan juga ga termasuk. Ga ada AC dan kipas angin. Tapi untung malemnya ga panas.

DSCF5202 (1280x853)

Malem itu, kita makan di sebuah warung yang ada di tepi danau. Kami memesan pisang goreng untuk dimakan dengan ketan yang kami bawa. Ceritanya sih sebenernya ketan ini dibuat untuk dimakan bareng duren. Tapi ternyata di sepanjang perjalanan hampir ga keliatan penjual duren. Sekalinya ada, harganya mahal banget pula. Akhirnya, daripada ga dimakan, mamah saya pun memesan pisang goreng di warung ini.

DSCF5210 (1280x853)

Sehabis makan ketan, perut orang Sumatera pastilah masih meminta nasi. Akhirnya, papah saya memesan beberapa ikan danau. Semuanya dibakar. Nyammm, enyaaakkk. Tapi rada tertipu karena pas mau bayar ternyata harga ikannya mahal. Hikmahnya, jangan pernah lupa untuk menanyakan harga sebelum membeli di manapun. Seengganya walaupun harganya memang mahal dan kamu pun tetep membeli, kamu ga akan merasa tertipu.

DSCF5232 (1280x853)

Pulang makan, kita iseng-iseng motoin langit. Hampir ga ada polusi cahaya. Di sekeliling danau hampir ga ada perumahan penduduknya. Bintang-bintang bisa keliatan dan karena musim panas, langitnya cerah banget. Akhirnya, saya, kedua adik saya, dan Citra (sodara saya) duduk-duduk di dermaga yang agak menjorok ke arah danau. Maksudnya supaya rada jauh dari lampu-lampu wisma dan cottage. Liat deh foto yang diambil adik saya. Dari berkali-kali memotret, walaupun inipun bahkan agak blur, ini adalah hasil foto yang terbaik. Dengan sedikit edit kontras, keliatan banget kan deretan bintang di Galaksi Bimasaktinya? Keren abiiiissss… Di Facebook saya bahkan foto ini udah banyak banget yang nge-like.

Hampir tiga jam kita nongkrong di situ. Saya sama Nanda bahkan udah tidur-tiduran, ga peduli lantainya terbuat dari beton dan kotor. Berkali-kali kami memergoki bintang jatuh yang melintas. Belum pernah saya menonton langit seperti ini sebelumnya. So, ini pengalaman yang ga akan terlupakan banget.

DSCF5239 (1280x853)

Pagi-pagi, kita masih nyempetin diri jalan-jalan di dermaga. Saya memilih pergi ke menara pandang dulu, yang posisinya ada di samping wisma saya. Sayangnya agak berkabut, sehingga pemandangan Gunung Seminung ga keliatan terlalu jelas.

 

Wisma Pusri Danau Ranau
Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Sumatera Selatan
Click for Google Maps

ranau

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s