Nonton Opera Ular Putih (Jakarta)

Ini bukan yang pertama kali saya nonton Teater Koma. Seingat saya, ini yang ketiga kali.

Dari jauh hari, saya udah memesan tiketnya. Maklum, takut keabisan. Selain ditentukan oleh posisi, harga tiket juga ditentukan oleh hari pementasan. Tiket untuk pementasan weekend lebih mahal 50 hingga 100 ribu rupiah.

banner-opera-ular-putihjpg

Karena tiket yang dijual oleh pihak Taman Ismail Marzuki posisi duduknya kurang oke, saya akhirnya mencoba membeli tiket yang penjualannya dikelola langsung oleh Teater Koma. Posisi duduk tiket yang mereka jual emang lebih bagus, tapi harganya juga lebih mahal. Ya udah, ga apa-apa lah. Yang penting nontonnya puas. Jarang-jarang ini.

Hari Selasa 7 April 2015 saya dateng ke sana. Solat magrib di musholla kecil di dalem gedung Graha Bhakti Budaya, tempat pementasan akan dilangsungkan, lalu makan malem di Soto Betawi H. Ma’ruf. Jam setengah delapan, saya udah duduk manis di dalem ruang pertunjukan.

DSCF3007 (1280x719)

Sesuai tradisi, gong dibunyikan untuk menandakan bahwa pertunjukan akan segera dimulai. Pemain musik mulai memasuki ruangan. Mereka berpakaian serba merah, khas Tionghoa. Peralatan musik yang digunakan tampaknya mengombinasikan alat musik modern, alat musik khas Indonesia, dan alat musik khas Tionghoa.

DSCF2995 (1280x718)

Adegan dibuka oleh sekumpulan tentara “langit” yg menyanyi. Mereka bernyanyi tanpa mic. Maklum, pemain teater emang biasanya memiliki vokal yang luar biasa. Suaranya bisa terdengar dengan jelas sampe kursi paaaling belakang.

DSCF3002 (1280x719)

Siluman ular putih dan ular hijau memasuki panggung. Adegan ini menjadi perkenalan tokoh utama kita. Ceritanya mereka masih ada di dunia siluman dan belum turun ke bumi.

DSCF3014 (1280x719)

Siluman Ular Putih dan Ular Hijau menjelma menjadi manusia. Make up-nya khas banget. Seperti layaknya opera Cina, muka mereka diberi make up base putih dengan eye shadow berwarna merah. Namun demikian, pakaian yang digunakan sebagai bawahan mereka merupakan batik khas Indonesia.

Saya mengenali dua pemain. Di pementasan produksi Teater Koma yang sebelumnya, mereka juga memerankan tokoh yang cukup sentral. Waktu itu, saya pertama kali melihat mereka dalam “Sie Jin Kwie di Negeri Sihir” di tahun 2012. Dan seingat saya, karakter yang mereka mainkan waktu itu pun tidak terlalu jauh berbeda dengan karakter mereka kali ini.

Jadi ceritanya, Ular Putih ingin merasakan suka duka hidup sebagai manusia. Ia pun ingin membalas budi seorang petani yang dahulu pernah menolongnya, dengan cara menjadi istrinya. Awalnya, keinginannya ini ditentang oleh sang adik, Ular Hijau. Namun karena sang kakak bersikeras, di adik yang setia ini pun akhirnya hanya bisa menurut saja.

DSCF3021 (1280x720)

Setelah menjadi menyamar menjadi manusia, Ular Putih menggunakan nama Peh Ti Nio, Ular Hijau menggunakan nama Sio Cing. Ti Nio pun mulai mendekati manusia yang dulu pernah menolongnya. Ow, sebenernya tidak tepat orang yang sama, karena kejadian di mana dia dulu pernah ditolong terjadi ratusan tahun lalu. Manusia yang ini adalah reinkarnasinya yang bernama Ko Han Bun. Kayak nama merk roti. Pada hari yang sedang hujan itu, Han Bun bertemu dengan Ti Nio. Han Bun yang gentleman itu meminjamkan payungnya pada Ti Nio.

Walaupun latar lokasi dapat berbeda jauh dari satu adegan ke adegan lain, kru yang berjubah hitam sangat cepat dalam masuk dan keluar panggung untuk mengganti-ganti properti. Keseimbangan dengan pemain juga bagus. Jika kru keluar di kiri, maka pemain untuk adegan tersebut akan masuk dari kanan sehingga tidak berat sebelah.

DSCF3024 (1280x720)

Ti Nio lalu meminta bantuan siluman-siluman untuk mengumpulkan uang untuknya. Siluman-siluman itu diperintahkan untuk mengumpulkan uang dari para penguasa korup. Yaaa, konsepnya mirip lah sama babi ngepet di Indonesia. Uang-uang ini nantinya akan diberikan pada Han Bun sebagai modal untuk membuka praktik pengobatan tradisional. Ya iya lah tradisional.

DSCF3030 (1280x722)

Tiba-tiba, ada Pak Dalang yang masuk panggung, bawa kecrek dan pemukulnya yang berbunyi “terek tek tek”, kayak yang di OVJ gitu loh. Adegan berikutnya yang diarahkan oleh Pak Dalang adalah adegan perjodohan Han Bun dan Ti Nio yang dibantu oleh Sio Cing. Adegan ini bener-bener diperagakan dengan menggunakan wayang raksasa yang sekilas mirip ondel-ondel.

Walaupun bahasa dan dialog yang digunakan cukup baku, namun mereka mampu menghadirkan humor yang sangat segar ala Teater Koma. Terkadang, ada humor yang, walaupun latar ceritanya negeri Cina di masa lampau, menggunakan istilah-istilah modern seperti “seminar berkala kaum siluman”, “operasi yustisi”, dan “KTP”. Belum lagi gerak-gerik yang lucu dan mengundang tawa. Di lain waktu, mereka bahkan menyajikan humor porno yang untungnya implisit. Sepertinya hal ini memang disengaja oleh pihak Teater Koma agar anak-anak yang ikut menonton tidak paham.

Ada lagi satu pantun yang berbau sindiran pada pemerintah, khususnya polisi, yang saya catat,
Beli terasi di kelapa gading
Ngaku polisi taunya maling
Kelapa gading banjir melulu
Dasar maling ga tau malu

DSCF3033 (1280x723)

Oke, lanjur ceritanya. Singkat kata, perjodohan ini sukses. Pernikahan pun langsung diadakan. Pasca pernikahan ini, Han Bun dan Ti Nio pindah ke kota lain dan membuka praktik pengobatan di sana. Usaha mereka dengan cepat naik daun dan mereka pun menjadi kaya raya. Oiya, Sio Cing si adik yang setia pun udah barang tentu ikut dengan mereka.

DSCF3037 (1280x722)

Hidup Han Bun berubah pada suatu hari ia bertemu dengan Go Wi si pembasmi siluman. Go Wi ini memberi tahu Han Bun bahwa istri dan adik iparnya sejatinya adalah seekor siluman ular. Han Bun pun diberi tahu cara untuk membuktikannya.

Han Bun yang awalnya tidak percaya, tidak bisa melupakan perkataan Go Wi begitu saja. Akhirnya dia mencoba untuk membuktikannya namun usahanya itu gagal. Di depan istrinya, ia mengaku telah diperdaya oleh Go Wi yang mengatakan bahwa Ti Nio dan Sio Cing sebenarnya adalah siluman.

DSCF3039 (1280x720)

Ti Nio dan Sio Cing lalu berkelahi dengan Go Wi dan pengikut-pengikutnya. Go Wi kalah sakti, namun ia masih dimaafkan dan hanya diusir keluar kota. Han Bun melabrak Go Wi dan berkata bahwa ia telah menipunya. Go Wi pun memberi Han Bun sebotol arak kuning.

Han Bun berusaha memberikan arak kuning itu pada Ti Nio. Namun Ti Nio yang sepertinya tahu bahwa itu bukan arak biasa, menolaknya. Han Bun yang kesal pun akhirnya pergi keluar rumah. Ti Nio yang sayang pada suaminya, akhirnya meminum arak itu. Ketika Han Bun kembali, ia mendapati seekor siluman ular putih di atas tempat tidurnya. Han Bun kaget, jantungnya pun berhenti berdetak.

Ti Nio lalu pergi mencari rumput sakti di gunung suci yang dijaga ketat oleh dewa-dewi. Konon rumput tersebut dapat mengobati Han Bun. Saya ga ngerti deh, tampaknya jantung yang berhenti berdetak itu dianggap sebagai penyakit dan bukan akhir dari hidup manusia.

DSCF3043 (1280x854)

Sampai di sini, intermission. Seperti biasa, pertunjukan dihentikan lima belas menit. Pengunjung dipersilakan beristirahat. Di luar ruangan udah menunggu beberapa penjual makanan. Saya iseng beli pempeknya. Muahal…

DSCF3046 (1280x721)

Yak, pertunjukan pun dilanjutkan. Berkat campur tangan Kaisar Langit, Ti Nio diperbolehkan membawa pulang rumput sakti. Berkat rumput tersebut, Han Bun pun sembuh.

DSCF3051 (1280x721)

 

Ketentraman mereka tidak berlangsung lama karena Go Wi kembali. Kali ini, ia kembali bersama guru Ba Hai. Mereka lalu menculik Han Bun dan menyekapnya. Ti Nio dan Sio Cing datang untuk menyelamatkan Han Bun. Keduanya bahu membahu melawan guru Ba Hai.

DSCF3058 (1280x720)

Pertarungan berlangsung dengan sengit. Setelah sekian lama, Ti Nio dan Sio Cing akhirnya terdesak. Kaisar Langit kembali datang menginterupsi. Pertarungan ditunda hingga Ti Nio, yang ternyata sudah hamil, melahirkan. Han Bun lalu diselamatkan oleh Kaisar Langit dan pulang ke kampung halaman. Ti Nio mengejar Han Bun, berusaha membuatnya menerimanya sebagai siluman. Namun Han Bun menolak. Ia masih belum bisa menerima bahwa ia telah memperistri seorang siluman.

DSCF3059 (1280x721)

Ti Nio lalu melahirkan. Dan sesuai perjanjian, pasca melahirkan ini, pertarungan antara guru Ba Hai dan Ti Nio dilanjutkan. Sio Cing tetap kalah. Guru Ba Hai lalu menyuruh Sio Cing pergi bertapa. Ti Nio rela dihukum asalkan Han Bun dan anaknya tidak diganggu. Daaan, tamat.

DSCF3062 (1280x721)

 

OPERA ULAR PUTIH
Produksi ke-139 by TEATER KOMA
Taman Ismail Marzuki, 3-19 April 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s