Sembalun Bumbung, Kota di Kaki Rinjani (Lombok Timur)

Dari Air Terjun Benang Kelambu dan Benang Stokel, kita ngelanjutin perjalanan ke Sembalun Bumbung, sebuah kota kecil di sebelah timur kaki Gunung Rinjani yang sering dijadikan tempat awal bertolaknya para pendaki. Di dekatnya juga ada kota yang lebih besar bernama Sembalun Lawang. Perjalanan yang banyak menanjak ternyata berhasil membuat mobil Avanza yang kita carter panas mesinnya. Ini terjadi berkali-kali sehingga menghabiskan waktu cukup banyak karena mesti menunggu mesin dingin lagi.

DSCF3419 (800x533)

Untungnya, di satu tempat pas mesin mobil mulai panas lagi, ada banyak monyet yang sampe turun-turun ke jalan. Sekalian aja deh kita ngistirahatin mobil di sini. Mereka juga sepertinya udah lumayan jinak dan ga takut sama manusia. Sayangnya kita ga tau bakal nemu monyet sebanyak ini, jadinya ga ada persiapan bawa makanan yang banyak buat dikasihin. Untungnya lagi, tadi di perjalanan kita sempet beli penganan ringan dan masih bersisa.

DSCF3431 (800x533)

Di puncak bukit yang dari tadi kita daki pake mobil, kita berhenti di dataran yang agak luas. Ada yang jualan juga. Kita beli Pop Mie ama kacang atom di sini. Kenapa kita berhenti? Karena pemandangannya spektakulerrrr. Di kejauhan udah keliatan kota Sembalun Bumbung yang kita tuju. Dari sini perjalanan akan menuruni bukit sehingga aman lah buat mobilnya.

DSCF3436 (800x534)

Sampe di Sembalun Bumbung, ga banyak yang bisa kita lakuin. Yah, emang ga ada apa-apa sih di sini. Tadinya kita sempet mempertimbangkan untuk memutari Gunung Rinjani dan mengunjungi Masjid Kuno Bayan di utara. Tapi sayangnya karena banyak waktu yang habis di jalan, dan mengingat mobil yang kondisinya ga memungkinkan, opsi dengan berat hati kita hapus dari daftar. Sayang banget sih. Ya udah deh, kita akhirnya solat di mesjid unik yang ornamen dan catnya berwarna-warni.

DSCF3440

Dari belakang masjid, pemandangan bukit-bukit yang mengelilingi Sembalun Bumbung sangat bagus. Saya jadi inget kampung halaman orang tua saya di Maninjau, Sumatera Barat, yang danaunya juga dikelilingi oleh bukit. Ah, lain kali kampung saya itu mesti masuk reviewnya di blog ini *nunggu pulang kampung dulu*

DSCF3443 (533x800)

Dan daripada pulang sia-sia, kita nyempetin berhenti dan masuk ke dalam Kawasan Rumah Adat & Makam Berugaq Reban Bande. Rumah Adat ini dibuka untuk umum dan boleh di kunjungi kapan saja. Ga ada yang jaga dan untuk masuk pun tidak dipungut biaya apapun. Karena pintunya tertutup, kita sempet mengira tempat ini tutup. Tapi ya udah, gitu aja kok repot. Pintunya kita buka sendiri aja deh.

DSCF3444 (800x533)

Tepat di depan gebang masuk ada sebuah bale yang menyambut kami. Di sebelah kirinya ada bangunan kecil, disebut berugaq, yang menjadi bangunan khas Suku Sasak di Sembalun. Di belakangnya ada dua buah bangunan utama yang merupakan bentuk rumah tinggal. Bangunan Suku Sasak terbuat dari kayu dan dindingnya ditutupi oleh anyaman bambu. Nah, di bagian paling belakang kawasan rumah adat, ada bekas jejak kaki Reban Bande. Reban Bande sendiri adalah penyebar agama Islam di daerah Sembalun. Nah, kalo gitu kita salah tangkap dong. Mungkin maksudnya maqam kali ya, bukan makam. Dalam bahasa Arab, mqam artiya tempat berdiri. Kayak maqam Ibrahim yang ada di Masjidil Haram.

 

Sembalun Bumbung
Lombok Timur
Click for Google Maps

sembalun bumbung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s