Mencicip Sate Rembiga Ibu Sinnaseh (Mataram)

Karena lokasinya yang rada nyempil di tepi jalan, kita sempet kelewatan ga ngeliat tempat ini. Padahal letaknya sebenernya ga terlalu jauh dari persimpangan Jalan Dr. Wahidi, Jalan Jend. Sudirman, dan Jalan Adi Sucipto, kira-kira 75 meter saja. Sate Rembiga Ibu Sinnaseh ini ternyata menempati lokasi serupa gang. Pembakaran satenya pun sebenernya berada di depan, menghadap trotoar. Namun karena sore itu hujan gerimis, pengunjungnya sedang sedikit, sehingga asap pembakaran sate tidak terlalu tampak. Sengaja kita dateng sore-sore karena menurut info, sate rembiga ini baru buka sore hari, sekitar jam 3.

P1040513 (1280x853)

P1040510 (1280x853)

Pas di depan gang, tepat di atas tungku pembakaran sate, kita bisa ngeliat plang, ada foto Pak Bondan. Wah, lumayan bisa jadi jaminan nih. Semoga emang satenya enak.

Tempat duduk ada di sebelah dalam gang, ada yang lesehan, namun disediakan juga kursi dan meja buat yang ga pengen duduk lesehan. Lagipula, area duduk lesehannya pun terbatas. Kalo lagi rame, saya membayangkan tempat ini bisa menampung kira-kira hingga 40 orang lebih. Namun saya beruntung, karena sedang sepi, saya bisa duduk dengan leluasa.

Tanpa perlu mikir lama-lama, saya sekeluarga mesen 4 porsi sate rembiga. Karena ada bebalung juga, kita pesen satu porsi buat dicobain rame-rame.

P1040505 (1280x853)

Nah, ini dia satenya, ada butiran-butiran air hujannya, karena dari tempat pembakaran sate ke tempat kita duduk mesti melewati gang yang tidak beratap. Standarnya, sate rembiga merupakan sate sapi yang disajikan kering tanpa diberi bumbu kacang atau kecap. Warna khasnya merah kecokelatan, dan ada bagian-bagian yang menghitam juga karena gosong. Pendek kata, penampakan sate rembiga mengingatkan kita akan sate maranggi khas Purwakarta yang juga disajikan seperti ini. Cita rasa sate rembiga terasa gurih, karena banyak rempah-rempahnya, dan manis-manis pedes. Tapi ga pedes-pedes amat. Selain itu, dagingnya empuk. Rasanya bikin saya jadi inget sate kambing yang suka mamah saya bikin pas abis Idul Qurban.

Kalo kamu ga biasa makan sate tanpa bumbu apa-apa, mereka emang ga bisa nyediain bumbu kacang, tapi kita masih bisa kok minta kecap. Ntar kita bakal dikasih sebotol kecap. Oiya, beberapa kali saya makan di restoran di sini, kecap Lombok itu rasanya aneh deh. Ga kayak rasa kecap biasanya. Rasanya kayak kecap sintetis karena manisnya kayak manis gula. Mungkin karena ciri kacang kedelai Lombok yang berbeda kali ya.

P1040508 (1280x853)

Bebalungnya sendiri, mirip kayak yang pernah kita makan di RM Raniya di Praya. Bening berbumbu. Tapi porsinya lebih banyak. Terus, jahenya juga lebih terasa. Dan kalo diperhatikan, bebalung memang isinya kebanyakan tulang sapi. Jangan heran, karena dalam bahasa Sasak bebalung itu sendiri artinya memang tulang.

Selesai makan dan pas mau mbayar, ini yang rada bikin bingung. Ternyata di tempat makan sini, ada dua “provider”. Sate dan sop bebalung disediain sama Ibu Sinnaseh, alias dari warung sate. Tapi kalo mau bayar nasi, ketupat, atau minuman, ternyata berasal dari warung satunya lagi, yang poskonya tepat di belakang warung sate. Lah, berbagi rejeki kayaknya yaaa??

Sate Rembiga (10 tusuk) IDR 20K
Bebalung IDR 20K

 

Sate Rembiga “Ibu Sinnaseh”
Jalan Dr. Wahidin, Mataram
Click for Google Maps

sinnaseh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s