Melihat Lebih Dekat Kehidupan Suku Sasak di Dusun Sade (Lombok Tengah)

Dusun Sade terletak di sebelah utara Pantai Kuta di Lombok Tengah. Jaraknya hanya sekitar 11 km saja, dan bisa ditempuh dalam waktu lebih kurang seperempat jam saja. Dari Mataram, jaraknya sekitar 30 km. Desa ini memang dipilih untuk dikunjungi karena berada di jalur pulang dari Pantai Kuta yang telah dikunjungi sebelumnya, ke Mataram.

P1040498 (853x1280)

Ketika tiba di sini, tidak terlalu ramai pengunjungnya. Hanya ada beberapa mobil saja. Ada papan iklan yang menuliskan “Selamat Datang di Sade”. Namun yang menarik, ada tulisan yang dihapus dengan cat sebelum kata Sade, yaitu kata “Desa”. Saya lihat papan informasi yang lain, memang ditulis “Dusun Sade” dan bukan “Desa Sade”. Begitu sensitifnya ya mereka terhadap perbedaan nama dusun dan desa, ckckck…

DSCF3341 (853x1280)

Dari tempat parkir, kita harus menyeberangi jalan untuk melewati pintu gerbang desa, eh jangan sampe salah, Dusun Sade. Ga mungkin salah, soalnya gerbangnya gede dan khas banget, berbentuk rumah ada khas suku Sasak. Dan kalo itu masih ga cukup, di gerbangnya ada tulisan “Selamat Datang di Dusun Sasak SADE, Rembitan – Lombok”. Melewati gerbang, kita akan disambut oleh beberapa warga berkostum yang tampaknya merupakan bagian dari organisasi dusun yang khusus untuk menyambut pengunjung. Kita akan diminta untuk mengisi buku tamu yang telah disediakan. Tenang, ga ada tiket masuk. Namun ada kotak sumbangan sukarela yang dapat kita isi.

P1040470 (1280x855)

Di belakang gerbang, udah ada aja yang berjualan pernak-pernik. Kebanyakan yang dijual berupa gelang dari anyaman benang, lalu ada tas, dan yang pasti adalah kain songket khas Lombok.

P1040475 (1280x853)

Perjalanan kita akan mengelilingi dusun, melihat-lihat bagaimana bentuk rumah di dusun ini. Di sepanjang perjalanan kita mengelilingi dan melihat-lihat kehidupan dusun Sade dari dekat, banyak sekali warga yang berjualan pernak-pernik dan oleh-oleh. Kebanyakan yang mereka jual ya itu, gelang, tas, dan kain songket. Kadang ada juga beberapa yang berjualan batu akik, tapi kayaknya sih itu cuma musiman. Tapi secara umum, dusun terasa sepi, karena memang sebagian warganya pergi bertani atau bekerja di area pantai. Baru menjelang sore atau malam mereka akan pulang. Makanya, waktu kunjungan di dusun Sade pun dibatasi hingga sore hari.

P1040490 (853x1280)

Kontur tanah dusun Sade ini ga rata. Kita mesti berjalan naik dan turun kayak gini. Kebanyakan jalannya masih berupa tanah. Namun ada pula yang udah dilapisi ubin atau bebatuan kayak di atas untuk mempermudah akses wisatawan yang banyak berkunjung ke sini.

P1040491 (1280x853)

Atap rumah adatnya terbuat dari jerami dan berdinding anyaman bambu, yang disebut bedek. Bahan bangunan ini mudah sekali ditemukan di alam sekitar mereka. Bahan bangunan yang sangat alami ini juga diikuti dengan proses pembuatannya, di mana untuk menyambung rangka-rangka bangunan, mereka menggunakan paku yang terbuat dari bambu. Rumahnya hanya memiliki sebuah pintu dan tidak memiliki jendela.

P1040477 (1280x853)

Di salah satu sudut dusun, seorang warga, yang sepertinya bagian dari organisasi, mempersilakan pengunjung untuk masuk ke dalam sebuah rumah. Rumahnya tidak terlalu besar. Mungkin karena kontur tanahnya yang demikian, rumahnya terdiri dari dua ruangan yang berada di dua undakan. Ruangannya tidak terlalu luas. Di sebelah kanan ruangan bawah ada hiasan tulang kepala kerbau. Katanya sih itu merupakan tanda kedewaasaan penghuni prianya.

Selain itu, kita juga dikasih tau mengenai proses pembuatan lantai rumah yang khas. Jadi, lantainya ga dibuat menggunakan semen, melainkan hanya menggunakan tanah liat yang dicampur dengan sekam padi. Setelah mengering, lantainya akan dipel dengan menggunakan kotoran sapi atau kerbau. Widih. Konon katanya dengan cara ini lantai menjadi lebih bersih dan mengkilat. Selain itu juga terasa dingin di kaki. Percaya ngga percaya sih. Soalnya lantainya emang bersih dan terasa dingin lho di kaki saya. Tradisi ini konon dilakukan sebulan sekali.

P1040499 (853x1280)

Di bagian belakang dusun, ada sebuah masjid yang cukup besar. Kita yang memang belum shalat, akhirnya mampir di sini. Shalat dhuhur yang dijamak takhir ke waktu shalat ashar. Karena kita mesti melepas alas kaki di pintu gerbang masjid yang posisinya agak jauh, akhirnya kita shalat bergantian buat ngejagain sandal ama sepatu. Pintu masuk bangunan masjidnya unik, mirip kayak pintu masuk rumah adatnya.

P1040503 (1280x1280)

 

Dusun Sade
Kecamatan Pujut, Lombok Tengah
Click for Google Maps

dusun sade

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s